Mahasiswa KKN UNDIP Tim II Desa Tambakboyo seusai sosialisasi language branding, copywriting, dan identitas merek UMKM
Jatengx.com, Sukoharjo – Pernah membeli makanan hanya karena kemasannya terlihat menarik? Atau berhenti menggulir media sosial karena satu kalimat promosi terasa begitu dekat? Tanpa disadari, keputusan tersebut merupakan bagian dari cara sebuah produk berkomunikasi dengan konsumennya.
Sebelum rasa sampai di lidah, nama, warna, kemasan, tulisan, dan cerita tentang sebuah produk lebih dahulu menarik perhatian konsumen. Karena itu, cita rasa yang baik bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan ketika memperkenalkan produk. Sebuah produk juga membutuhkan identitas agar mudah dikenali dan diingat.
Hal tersebut menjadi perhatian mahasiswa KKN Universitas Diponegoro Tim II Desa Tambakboyo Tahun 2026 melalui program “Language Branding: Copywriting, Identitas Merek, dan Narasi Produk bagi UMKM Desa Tambakboyo” yang dilaksanakan pada Minggu (26/7) di Desa Tambakboyo, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo.
Kegiatan tersebut melibatkan ibu-ibu PKH Lancar Wijaya sebagai pelaku UMKM. Pendampingan berfokus pada pengenalan copywriting, identitas merek, narasi produk, serta unsur visual yang dapat digunakan untuk memperkuat karakter produk dan cara UMKM berkomunikasi dengan konsumen.
Salah satu produk yang menjadi contoh dalam kegiatan tersebut adalah peyek yang diproduksi oleh PKH Lancar Wijaya. Melalui produk tersebut, peserta diajak melihat bahwa pengembangan UMKM tidak hanya berkaitan dengan kualitas produk, tetapi juga dengan bagaimana produk diperkenalkan kepada calon pembeli.

Pembahasan mengenai branding dimulai dari pertanyaan pemantik alasan penggunakan label pada produk peyek. Untuk menjelaskan pentingnya label, mahasiswa menggunakan dua analogi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Label diibaratkan sebagai baju bagi produk karena menjadi bagian dari kemasan yang melekat pada produk dan turut membentuk tampilannya.
Label juga dianalogikan sebagai KTP bagi produk. Jika KTP menjadi identitas seseorang, label menjadi identitas yang membantu konsumen mengenali sebuah produk. Melalui label, konsumen dapat memperoleh informasi mengenai nama produk, komposisi, berat bersih, pihak yang memproduksi, alamat produksi, tanggal produksi, keterangan baik digunakan sebelum, serta cara penyimpanan. Informasi tersebut membantu konsumen mengetahui produk yang akan dibeli sekaligus mengenali pihak yang memproduksinya.
Menurut Agnes Melanie Margaretha BR Sinaga, mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia Universitas Diponegoro, label tidak seharusnya dipandang hanya sebagai pelengkap kemasan.
“Label itu ibarat KTP produk. Produk juga membutuhkan identitas agar konsumen dapat mengenali apa yang mereka beli dan siapa yang memproduksinya,” jelas Agnes.
Selain menjadi identitas, label dapat menjadi salah satu media untuk membangun pembeda dan menyampaikan informasi mengenai produk. Karena itu, peserta diajak memahami bahwa kemasan bukan hanya tempat untuk meletakkan produk, tetapi juga menjadi ruang pertama bagi produk untuk berkomunikasi dengan konsumen.
Pembahasan kemudian diarahkan pada target pasar. Menurut Agnes, sebuah produk memang dapat ditawarkan kepada masyarakat secara luas, tetapi mengenali kelompok konsumen yang potensial dapat membantu pelaku UMKM menentukan cara berkomunikasi yang lebih tepat.
Beberapa kelompok yang dibahas dalam kegiatan tersebut antara lain ibu rumah tangga, warung atau rumah makan, serta masyarakat perantauan. Ibu rumah tangga menjadi salah satu kelompok yang potensial karena produk makanan dapat dinikmati sebagai camilan bersama keluarga.
Sementara itu, warung dan rumah makan dapat menjadi salah satu peluang untuk memperluas pemasaran produk. Masyarakat perantauan juga memiliki peluang sebagai target pasar. Produk pangan lokal dapat dibawa sebagai oleh-oleh atau buah tangan ketika seseorang kembali ke tempat tinggalnya. Makanan dari daerah asal bahkan dapat memiliki nilai emosional karena mengingatkan seseorang pada rumah dan daerah asalnya.
Dari pembahasan tersebut, ibu-ibu PKH diajak memahami bahwa menentukan target pasar bukan berarti membatasi konsumen. Sebaliknya, pemahaman terhadap target dapat membantu pelaku usaha memilih bahasa dan pesan yang lebih sesuai.
Setelah membahas target pasar, materi dilanjutkan dengan pengenalan copywriting. Ibu-ibu PKH diperkenalkan pada formula AIDA, yaitu Attention, Interest, Desire, dan Action. Formula tersebut membantu pelaku usaha memahami bagaimana sebuah pesan promosi dapat menarik perhatian, membangun ketertarikan, menumbuhkan keinginan, hingga mendorong konsumen melakukan tindakan. Namun, Agnes juga menekankan bahwa bahasa promosi tidak harus selalu formal. Bahasa yang ringan, akrab, dan sesuai dengan karakter target pasar dapat membuat pesan terasa lebih dekat.
Hal tersebut dipraktikkan melalui contoh copywriting yang sengaja dibuat dekat dengan keseharian peserta:
“Lebih Renyah dari Janji Manis Mantan, Lebih Gurih dari Gosip Tetangga! 🤫🌾”
Kalimat tersebut mengundang tawa ibu-ibu PKH Lancar Wijaya yang mengikuti sosialisasi. Suasana kegiatan pun menjadi lebih cair.
Di balik unsur humornya, contoh tersebut digunakan untuk memperlihatkan bagaimana sebuah kalimat dapat menarik perhatian sejak awal. Ibu-ibu PKH diajak memahami bahwa copywriting dapat dibuat kreatif dan dekat dengan keseharian tanpa kehilangan tujuan utama sebagai pesan promosi.
Agnes menjelaskan bahwa bahasa yang digunakan dalam promosi dapat disesuaikan dengan karakter konsumen.
“Kalau membuat promosi tidak harus selalu menggunakan bahasa yang kaku. Kita bisa menggunakan bahasa yang dekat dengan target pasar. Yang penting, pesannya tetap jelas dan sesuai dengan produk,” ujarnya.
Ibu-ibu PKH juga diperkenalkan pada prinsip fokus pada manfaat, bukan hanya fitur produk. Artinya, pesan promosi tidak berhenti pada penyebutan karakteristik produk, tetapi dapat dikembangkan untuk menggambarkan pengalaman yang ingin ditawarkan kepada konsumen. Dengan demikian, copywriting tidak hanya dipahami sebagai kemampuan merangkai kalimat yang terdengar menarik. Di dalamnya terdapat pertimbangan mengenai siapa yang membaca, apa yang ingin disampaikan, dan kesan seperti apa yang ingin ditinggalkan.

Untuk membantu ibu-ibu PKH menyusun pesan promosi, Agnes memperkenalkan tiga pilar konten copywriting, yaitu keaslian dan kualitas, kehangatan lokal, serta gaya hidup sehat.
Pilar keaslian dan kualitas dapat digunakan untuk menonjolkan bahan serta proses pembuatan produk. Salah satu contoh kalimat yang diberikan adalah, “Teri segar, kacang pilihan, digoreng renyah setiap hari.”
Sementara itu, kehangatan lokal diarahkan untuk mengangkat kedekatan produk dengan masyarakat dan Desa Tambakboyo. Salah satu contoh pesan yang diberikan adalah, “Dibuat langsung oleh tangan warga desa kami.”
Adapun pilar gaya hidup sehat diperkenalkan sebagai salah satu pendekatan komunikasi yang dapat digunakan apabila sesuai dengan karakter dan kondisi produk. Ibu-ibu PKH juga diarahkan untuk menyampaikan informasi mengenai produk secara jujur dan tidak membuat klaim yang tidak dapat dibuktikan.
Melalui tiga pendekatan tersebut, ibu-ibu PKH diajak melihat bahwa satu produk dapat memiliki beragam cerita. Bahan dan proses dapat menjadi bagian dari cerita mengenai kualitas, asal-usul produk dapat menjadi cerita mengenai kedekatan dengan daerah, sedangkan kebutuhan konsumen dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan pesan yang disampaikan.
Penguatan identitas merek tidak berhenti pada penggunaan kata-kata. Unsur visual juga menjadi bagian penting dalam membangun karakter sebuah produk. Dalam kegiatan tersebut, peserta diperkenalkan pada konsep logo, palet warna, dan tipografi. Palet warna yang digunakan dalam rancangan identitas produk terdiri atas cokelat tanah, kuning kunyit, hijau daun, dan krem.
Pemilihan warna tersebut disesuaikan dengan karakter produk yang ingin ditampilkan. Cokelat tanah memberikan kesan hangat dan dekat dengan unsur lokal. Kuning kunyit mengingatkan pada warna bumbu dan karakter peyek yang telah matang. Hijau daun memberikan kesan segar dan alami, sedangkan krem memberikan kesan sederhana, bersih, dan hangat. Pemilihan warna tidak hanya mempertimbangkan tampilan visual, tetapi juga kesan yang ingin dibangun ketika konsumen melihat produk.
Hal serupa diterapkan pada tipografi. Jenis huruf untuk informasi produk dipilih dengan mempertimbangkan keterbacaan, sedangkan tipografi pada nama merek diarahkan untuk membangun kesan yang hangat dan mudah dikenali. Para ibu PKH kemudian diajak memahami bahwa logo, warna, tipografi, kemasan, dan bahasa perlu saling mendukung agar identitas sebuah produk dapat terlihat konsisten.
Selain identitas visual, sebuah produk juga membutuhkan pesan yang dapat menggambarkan karakter dan nilai yang ingin ditonjolkan. Dalam materi yang disampaikan, produk diarahkan untuk memiliki identitas sebagai camilan tradisional autentik, buatan tangan asli dari desa untuk keluarga Indonesia.
Pesan tersebut menghubungkan produk dengan proses pembuatan, masyarakat yang memproduksi, serta asal produk. Dengan demikian, peyek tidak hanya dikenalkan sebagai makanan ringan, tetapi juga sebagai produk yang berasal dari kegiatan usaha masyarakat Desa Tambakboyo. Di sinilah bahasa memiliki peran dalam branding. Pemilihan kata dapat membantu membentuk kesan mengenai produk, sedangkan narasi yang konsisten dapat membantu konsumen mengenali karakter sebuah merek.
Bagi Agnes, penerapan ilmu bahasa dalam kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk pemanfaatan keilmuan di tengah masyarakat. Kemampuan memilih kata, menyusun pesan, dan membangun narasi diterapkan pada kebutuhan komunikasi produk UMKM.
Sebagai salah satu luaran program, mahasiswa juga menyusun booklet berjudul “Kata Memikat, Usaha Hebat: Panduan Copywriting & Narasi Produk Berkelanjutan UMKM Desa Tambakboyo.”
Booklet tersebut memuat materi mengenai copywriting, identitas merek, narasi produk, serta contoh penerapan pesan promosi. Materi disusun sebagai panduan sederhana yang dapat digunakan kembali oleh pelaku UMKM ketika ingin membuat promosi atau mengembangkan identitas produknya.
Materi mengenai identitas merek juga diterapkan melalui pengembangan label produk. Label menjadi bentuk penerapan langsung dari materi yang diberikan selama sosialisasi, khususnya dalam menyatukan nama produk, informasi, bahasa, dan tampilan visual.
Dengan adanya booklet dan penerapan label tersebut, kegiatan tidak hanya berhenti pada penyampaian materi, tetapi juga menghasilkan luaran yang dapat menjadi contoh bagi pelaku UMKM dalam mengembangkan komunikasi produknya.
Pendampingan kepada PKH Lancar Wijaya menunjukkan bahwa penguatan UMKM dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Nama produk, cara menulis informasi, pilihan warna, bentuk label, hingga kalimat promosi merupakan bagian kecil yang apabila dirancang secara konsisten dapat membentuk identitas yang lebih kuat.
Melalui program “Language Branding: Copywriting, Identitas Merek, dan Narasi Produk bagi UMKM Desa Tambakboyo”, mahasiswa KKN Tim II Universitas Diponegoro berupaya mempertemukan ilmu bahasa dengan kebutuhan nyata pelaku usaha.
Bagi pelaku UMKM, kemampuan mengenali konsumen dan menyampaikan cerita produk dapat menjadi salah satu bekal untuk memperkenalkan produk di tengah pilihan yang semakin beragam. Identitas yang jelas juga dapat membantu konsumen mengenali produk lokal sekaligus mengetahui siapa yang berada di balik produk tersebut.
Pada akhirnya, sebuah produk tidak hanya perlu dibuat dengan baik, tetapi juga diperkenalkan dengan baik. Sebelum konsumen mencicipi rasa, mereka terlebih dahulu melihat kemasan, membaca nama, dan menerima pesan yang disampaikan produk.
“Kata-kata, warna, label, dan cerita bukan sekadar pelengkap. Semuanya dapat menjadi bagian dari perjalanan sebuah produk untuk dikenal, dipercaya, dan diingat. Dari kata yang sederhana, lahir identitas yang bermakna. Dari identitas yang kuat, tumbuh peluang bagi usaha lokal untuk terus berkembang.,” pungkasnya.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN Tim II Desa Tambakboyo berharap penguatan identitas dan branding dapat terus dimanfaatkan oleh PKH Lancar Wijaya dalam mengembangkan komunikasi produknya. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat keberadaan UMKM lokal melalui pendekatan yang sederhana, dekat dengan pelaku usaha, dan dapat diterapkan dalam kegiatan pemasaran sehari-hari.
Penulis : Agnes Melanie Margaretha Br Sinaga
Editor: Azis



