
Desa Tengengkulon, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan, menjadi lokasi pelaksanaan program edukasi kriptografi yang digagas oleh Aaliya Humayra Azhari, mahasiswa Program Studi Matematika, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Diponegoro, dalam rangka KKN Tim II Undip 2025/2026. Program bertajuk “Edukasi Kriptografi dan Keamanan Informasi” ini menyasar siswa kelas IX SMP Negeri 1 Siwalan, dengan tujuan mengenalkan konsep dasar kriptografi klasik sekaligus menunjukkan bahwa matematika punya peran nyata dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam menjaga keamanan pesan digital.
Kriptografi sering terdengar asing di telinga siswa SMP, padahal konsepnya sebetulnya sudah mereka temui setiap hari tanpa disadari. Setiap kali membuka aplikasi percakapan seperti WhatsApp misalnya, akan muncul keterangan bahwa pesan dan panggilan diamankan dengan enkripsi ujung ke ujung (end-to-end encryption). Fakta sederhana inilah yang dipakai sebagai pintu masuk materi, agar siswa langsung merasa relevan dan penasaran dengan apa yang selama ini mereka pakai tapi jarang dipahami cara kerjanya. Dari titik itu, siswa diajak menelusuri sejarah kriptografi hingga ke zaman Julius Caesar, yang menggunakan teknik penyandian sederhana untuk mengirim pesan rahasia kepada pasukannya di medan perang.
Kegiatan berlangsung di ruang kelas IX SMP Negeri 1 Siwalan dengan memakai media presentasi interaktif sebagai alat bantu utama. Materi dibuka dengan penjelasan istilah dasar kriptografi, yaitu plaintext sebagai pesan asli, ciphertext sebagai pesan yang sudah disandikan, kunci sebagai aturan penyandian, enkripsi sebagai proses mengubah plaintext menjadi ciphertext, dan dekripsi sebagai proses sebaliknya. Setelah pemahaman dasar ini terbentuk, siswa masuk ke praktik langsung dua teknik penyandian klasik.
Teknik pertama adalah Caesar Cipher, yaitu menggeser setiap huruf pada pesan sejauh angka tertentu di alfabet, dan apabila geseran sampai ke huruf Z maka akan kembali berputar ke huruf A. Sebagai contoh yang dipakai selama sesi, kata SIWALAN, nama kecamatan tempat mereka tinggal, disandikan dengan kunci geser 3 menjadi VLZDODQ. Pemilihan nama kecamatan sendiri sebagai contoh soal bertujuan membuat materi terasa lebih dekat dan mudah diingat oleh siswa. Teknik kedua adalah sandi angka sederhana, di mana setiap huruf diubah menjadi angka sesuai urutan alfabet, A bernilai 1 hingga Z bernilai 26, lalu kunci berupa operasi tambah atau kurang diterapkan pada angka tersebut. Jika hasil penjumlahan melebihi 26, hitungan akan diteruskan kembali dari angka 1. Di akhir sesi teori, siswa dibagi ke dalam kelompok kecil untuk memecahkan pesan sandi bersama-sama, sebuah aktivitas yang sengaja dirancang kompetitif agar suasana belajar tetap hidup dan tidak monoton.
Selain sesi tatap muka, setiap siswa juga dibekali modul belajar cetak berjudul “Modul Kriptografi” yang bisa dibawa pulang. Modul ini disusun agar siswa tetap bisa mengulang materi secara mandiri di rumah, memuat ringkasan konsep, contoh soal, lembar latihan enkripsi dan dekripsi, tabel konversi alfabet ke angka, serta tabel pergeseran Caesar Cipher lengkap untuk kunci geser 1 sampai 3. Modul ini menjadi pelengkap dari sesi belajar tatap muka, sekaligus arsip fisik yang bisa dipakai siswa untuk belajar ulang kapan saja tanpa bergantung pada kehadiran mahasiswa KKN.
Untuk mengukur sejauh mana materi berhasil diserap, di akhir kegiatan siswa mengerjakan lembar kerja berisi soal post-test. Soal tersebut meminta siswa menjelaskan dengan bahasa sendiri apa itu kriptografi dan mengapa penting dalam pengiriman pesan digital, mengenkripsikan kata menggunakan Caesar Cipher dengan kunci geser tertentu, serta mengubah kata menjadi sandi angka dengan kunci penjumlahan tertentu lengkap dengan langkah perhitungannya. Selain post-test, siswa juga mengisi lembar evaluasi pengajaran untuk menilai penyampaian materi oleh mahasiswa KKN, mencakup kejelasan penjelasan, keramahan dan kesabaran pengajar, daya tarik metode mengajar, tingkat pemahaman yang dirasakan setelah sesi, serta kepuasan secara keseluruhan.
Program ini diikuti oleh 30 siswa kelas IX. Berdasarkan rekap hasil belajar, rata-rata skor post-test mencapai 92 persen, dengan 27 dari 30 siswa atau sekitar 90 persen berhasil menjawab benar sebagian besar soal enkripsi Caesar Cipher dan sandi angka. Capaian ini menunjukkan bahwa konsep dasar kriptografi bisa dipahami siswa SMP hanya dalam satu kali sesi belajar yang dikemas ringan dan aplikatif. Dari sisi evaluasi pengajaran, rata-rata skor kepuasan siswa mencapai 86,4 dari skala 100, dengan 25 dari 30 siswa memberi penilaian tinggi, yaitu skor 80 ke atas, untuk kejelasan penyampaian materi, kesabaran pengajar, dan kemenarikan cara mengajar.
Kesan yang dituliskan siswa pada lembar evaluasi sebagian besar menyoroti cara mengajar yang sabar dan mudah dipahami, serta rasa senang karena akhirnya mengerti logika di balik fitur enkripsi yang selama ini mereka pakai tanpa disadari, terutama pada aplikasi percakapan sehari-hari. Sejumlah siswa menyampaikan bahwa mereka jadi tahu bagaimana kunci pesan WhatsApp bisa membuat isi obrolan tidak mudah dibaca orang lain. Ada pula beberapa masukan ringan dari siswa agar sesi belajar berikutnya dibuat lebih interaktif lagi, sebuah catatan yang menjadi bahan evaluasi bagi tim KKN untuk program serupa di kemudian hari.
Melalui program edukasi kriptografi ini, mahasiswa KKN berharap siswa SMP Negeri 1 Siwalan tidak hanya memperoleh pengetahuan baru tentang cara kerja enkripsi dan dekripsi, tetapi juga terdorong melihat matematika sebagai cara berpikir yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Matematika, dalam konteks ini, bukan sekadar deretan angka di atas kertas, melainkan alat untuk menemukan pola di balik hal-hal yang mereka temui setiap hari, termasuk keamanan pesan digital yang selama ini mereka anggap biasa saja.




