
Jatengx.com, Klaten — “Apa itu ekonomi?” pertanyaan sederhana yang disampaikan kepada siswa kelas 5 dan 6 SDN 4 Jelobo. Ternyata jawaban spontan yang disampaikan oleh siswa sangat variatif, yaitu ada yang jawab “duit”, “utang”, hingga “jajan”. Jawaban-jawaban tersebut muncul bergantian berdasarkan hal-hal yang selama ini mereka ketahui. Dari pertanyaan sederhana itu, pembelajaran kemudian bergerak menuju berbagai pilihan dan kejadian yang sebenarnya telah mereka jumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan yang berlangsung di Desa Jelobo, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten, itu merupakan bagian dari program kerja sosial kemasyarakatan mahasiswa KKN Undip 2026. Siswa sekolah dasar diperkenalkan sejumlah konsep ekonomi kepada dengan bahasa dan contoh yang mudah dipahami.
Ekonomi ternyata sudah hadir dalam keseharian anak-anak, bahkan ketika tidak ada uang yang sedang dibicarakan. Saat memilih satu kegiatan, mereka harus melewatkan kegiatan lain.
Ketika suatu barang tidak cukup untuk semua orang, mereka perlu menentukan cara membaginya. Harga barang yang sama pun dapat berbeda karena jumlah barang, banyaknya pembeli, dan biaya untuk membawanya dari satu tempat ke tempat lain. Situasi seperti itu cukup sering mereka temui, hanya belum selalu disadari sebagai bagian dari ekonomi.
Berbagai persoalan tersebut tidak langsung diikuti oleh penjelasan. Pemateri lebih dahulu mengajukan pertanyaan dan memberi kesempatan kepada siswa untuk memperkirakan jawabannya. Tangan-tangan mulai terangkat, disusul beragam jawaban dan alasan. Jawaban yang belum tepat pun tidak langsung dipotong, tetapi ditanggapi dan dibahas bersama sebelum pembelajaran dilanjutkan.
Mahasiswa KKN lain yang mendampingi kegiatan turut memberikan perhatian kepada siswa yang ingin berpendapat. Cara tersebut membuat suasana kelas tetap aktif dan menyenangkan dari awal hingga akhir.
Melalui cerita-cerita sederhana, siswa diajak memperhatikan apa yang terbatas, mengapa seseorang menentukan pilihan, serta siapa yang mungkin ikut merasakan akibatnya. Mereka tidak hanya mencari jawaban yang dianggap benar, tetapi juga diminta memikirkan alasan di balik sebuah tindakan.
Dengan demikian, ekonomi diperkenalkan sebagai cara untuk memahami kejadian di sekitar, bukan sekadar pelajaran mengenai uang atau kegiatan jual beli.
Dalam salah satu pembahasan, siswa diminta membayangkan beberapa acara yang berlangsung pada waktu bersamaan. Semua acara dapat diikuti secara gratis, tetapi mereka tetap hanya dapat mendatangi satu di antaranya.
Setelah menentukan pilihan, siswa kembali ditanya mengenai acara lain yang paling mereka sayangkan karena tidak dapat diikuti. Dari situ, mereka dikenalkan pada biaya peluang: memilih satu hal juga berarti melepaskan kesempatan untuk memperoleh hal lain. Contoh tersebut menunjukkan bahwa sesuatu yang gratis belum tentu tidak membutuhkan pengorbanan.
Pertanyaan lain berangkat dari benda yang hampir setiap hari mereka gunakan di sekolah: pensil. Ketika ditanya apakah satu orang dapat membuat seluruh bagian pensil mulai dari bahan yang tersedia di alam?.
Siswa mulai memikirkan banyaknya pekerjaan yang mungkin terlibat. Ada orang yang mengolah kayu, membuat grafit, logam, cat, dan penghapus. Ada pula yang membuat mesin, mengangkut bahan, merakit bagian-bagiannya, hingga menjual pensil kepada pembeli.
Melalui contoh itu, siswa melihat bahwa sebuah benda sederhana merupakan hasil pekerjaan banyak orang dengan tugas yang berbeda. Orang-orang tersebut mungkin tinggal berjauhan dan tidak pernah saling mengenal, tetapi hasil pekerjaan mereka dapat bertemu dalam satu batang pensil. Gambaran tersebut membantu siswa memahami bahwa kehidupan sehari-hari ditopang oleh kerja sama dan pertukaran yang sering tidak terlihat secara langsung.
Keterlibatan siswa semakin tampak ketika kegiatan memasuki sesi kuis berhadiah. Seperti pada pembahasan sebelumnya, mereka tidak hanya diminta memberikan jawaban singkat, tetapi juga menjelaskan alasan yang mendasarinya. Salah satu pertanyaan bercerita tentang aturan yang memberikan satu poin untuk setiap buku yang selesai dibaca, baik tebal maupun tipis. Siswa kemudian diminta menjelaskan mengapa buku paling tipis lebih dahulu dipilih.
Sejumlah siswa dapat melihat bahwa aturan tersebut membuat buku tipis menjadi cara tercepat untuk mengumpulkan banyak poin. Jawaban itu menunjukkan bahwa mereka mulai memahami bagaimana sebuah aturan dapat memengaruhi pilihan seseorang, bahkan menghasilkan tindakan yang berbeda dari tujuan awalnya. Pertanyaan-pertanyaan berikutnya membawa siswa pada situasi lain mengenai barang, harga, dan pekerjaan yang saling terhubung. Banyak siswa mampu menjawab serta menyampaikan alasan dengan bahasa mereka sendiri.
Bagi Justinus, kemampuan memberikan alasan menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut. Siswa tidak diharapkan menguasai seluruh istilah ekonomi hanya dalam satu pertemuan. Hal yang lebih penting adalah mengenalkan kebiasaan untuk memperhatikan sebab dan akibat sebelum menerima suatu jawaban atau menentukan pilihan.
“Tujuannya bukan agar siswa langsung menghafal banyak istilah ekonomi, tetapi agar mereka terbiasa bertanya mengapa sesuatu terjadi dan mempertimbangkan akibat dari sebuah pilihan,” ujar Justinus Ariel, mahasiswa KKN Undip yang menjadi pemateri dalam kegiatan tersebut.
Keaktifan siswa selama pembelajaran dan kuis menunjukkan bahwa fenomena ekonomi dapat diperkenalkan melalui hal-hal yang dekat dengan dunia anak-anak. Pilihan kegiatan, buku yang dipinjam, pensil yang digunakan, maupun barang yang dijumpai sehari-hari dapat menjadi awal untuk membicarakan keterbatasan, alasan seseorang bertindak, kerja sama, dan akibat sebuah keputusan. Contoh yang sederhana memungkinkan siswa memahami gagasannya terlebih dahulu tanpa harus dibebani banyak istilah.
Jika pada awal kegiatan ekonomi masih lekat dengan jawaban “duit”, “utang”, dan “jajan”, menjelang akhir, para siswa mulai melihatnya dalam bentuk yang lebih luas. Ekonomi juga hadir ketika seseorang memilih, ketika banyak orang bekerja untuk menghasilkan suatu barang, dan ketika sebuah aturan mengubah tindakan orang. Program ini diharapkan dapat membantu siswa kelas 5 dan 6 SDN 4 Jelobo lebih peka terhadap berbagai fenomena di sekitar mereka serta lebih terbiasa mempertimbangkan alasan dan akibat sebelum mengambil keputusan.





