Mahasiswa memberikan pendampingan pembajaran IPA di SD Negeri Desa Bendungan
Jatengx.com, Sragen — Mengenal hewan tidak harus selalu dilakukan melalui buku pelajaran. Di ruang kelas sekolah dasar, siswa dapat belajar mengenali keanekaragaman hewan melalui gambar, permainan, diskusi, dan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pendekatan tersebut diterapkan dalam program kerja monodisiplin KKN Reguler Tim II Universitas Diponegoro (UNDIP) 2025/2026 melalui kegiatan pendampingan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) mengenai jenis hewan dan cara hidupnya di sekolah dasar di Desa Bendungan, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen.
Program yang dilaksanakan oleh Irsyad Syaddad Satrianto, mahasiswa Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, tersebut dirancang untuk membantu guru menghadirkan pembelajaran IPA yang lebih interaktif sekaligus mendekatkan materi keanekaragaman hewan dengan kehidupan siswa sehari-hari.
Belajar IPA dari Lingkungan Sekitar
Materi mengenai jenis hewan dan cara hidupnya merupakan bagian penting dalam pembelajaran IPA di sekolah dasar. Melalui materi tersebut, siswa tidak hanya mengenal berbagai jenis hewan, tetapi juga memahami habitat, jenis makanan, cara bergerak, karakteristik tubuh, hingga kemampuan hewan beradaptasi dengan lingkungannya.
Namun, pemahaman terhadap konsep tersebut dapat menjadi lebih mudah ketika siswa memperoleh pengalaman belajar yang konkret. Karena itu, kegiatan pendampingan dirancang dengan memadukan penyampaian materi, media visual, permainan edukatif, serta diskusi kelompok.
Mahasiswa KKN mendampingi guru dalam menyampaikan materi mengenai pengelompokan hewan berdasarkan habitat, seperti hewan yang hidup di darat, air, dan hewan yang memiliki kemampuan hidup di dua lingkungan. Siswa juga diperkenalkan dengan pengelompokan hewan berdasarkan jenis makanannya, yakni herbivora, karnivora, dan omnivora.
Contoh hewan yang dekat dengan kehidupan masyarakat pedesaan, seperti sapi, kambing, dan ayam, digunakan sebagai bagian dari pembelajaran. Dengan contoh tersebut, siswa dapat menghubungkan konsep yang dipelajari di kelas dengan hewan yang mereka jumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Mengubah Kelas Menjadi Ruang Belajar yang Interaktif
Untuk mendukung proses pembelajaran, mahasiswa menyiapkan sejumlah media, antara lain poster keanekaragaman hewan, kartu pintar (flashcards), serta bahan presentasi interaktif.
Media tersebut digunakan untuk membantu siswa mengenali karakteristik hewan secara lebih visual. Siswa kemudian diajak berdiskusi dan bekerja dalam kelompok untuk mengelompokkan gambar hewan berdasarkan habitat dan cara hidupnya.
Kegiatan tidak berhenti pada penyampaian materi. Siswa juga diberikan kesempatan untuk menjawab pertanyaan, menyampaikan pendapat, serta mengikuti permainan edukatif. Melalui aktivitas tersebut, pembelajaran berlangsung secara lebih komunikatif dan memberi ruang bagi siswa untuk terlibat secara langsung.
Pada tahap akhir, pemahaman siswa dievaluasi melalui lembar kerja dan kuis singkat. Evaluasi tersebut digunakan untuk mengetahui sejauh mana siswa dapat memahami materi yang telah disampaikan.
Mengenalkan Keanekaragaman Hayati Sejak Dini
Pengenalan keanekaragaman hewan sejak usia sekolah dasar tidak hanya berkaitan dengan pemahaman materi IPA. Lebih jauh, pengetahuan tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.
Ketika siswa mengetahui bahwa setiap hewan memiliki habitat, makanan, karakteristik, dan cara hidup yang berbeda, mereka dapat mulai memahami bahwa keberadaan hewan merupakan bagian dari keseimbangan lingkungan.
Pendekatan tersebut juga menjadi kesempatan untuk mengenalkan perbedaan antara hewan ternak dan hewan liar serta bagaimana manusia berinteraksi dengan keduanya secara bertanggung jawab.
Bagi guru, kegiatan pendampingan memberikan alternatif media dan strategi pembelajaran yang dapat digunakan kembali dalam proses belajar mengajar. Poster, kartu pintar, permainan edukatif, dan aktivitas kelompok dapat menjadi pilihan sederhana untuk membuat pembelajaran IPA lebih variatif.
Mendorong Pendidikan Berkualitas di Desa
Program pendampingan pembelajaran ini sejalan dengan upaya mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan keempat atau SDG 4: Pendidikan Berkualitas, melalui penguatan proses pembelajaran di tingkat sekolah dasar.
Materi mengenai keanekaragaman hewan juga memiliki keterkaitan dengan SDG 15: Ekosistem Daratan, terutama dalam mengenalkan pentingnya keberadaan dan kelestarian makhluk hidup kepada anak-anak sejak dini.
Di tingkat desa, kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat. Kehadiran mahasiswa tidak hanya memberikan pengalaman belajar tambahan bagi siswa, tetapi juga membuka ruang kolaborasi dengan guru dan sekolah dalam menghadirkan pembelajaran yang kontekstual.
Program ini turut mencerminkan pengabdian dalam bidang lingkungan, sosial, ekonomi, dan budaya. Dari sisi lingkungan, siswa diperkenalkan pada pentingnya menjaga keberadaan makhluk hidup. Dari sisi sosial, kegiatan mendorong kerja sama antarsiswa melalui aktivitas kelompok.
Sementara dari sisi ekonomi dan budaya, pengenalan hewan ternak dan hewan yang hidup di sekitar masyarakat dapat dikaitkan dengan kehidupan serta pengetahuan masyarakat pedesaan.
Dari Ruang Kelas, Menumbuhkan Kepedulian
Pendampingan pembelajaran IPA tentang jenis hewan dan cara hidupnya menunjukkan bahwa pembelajaran sains dapat dibangun dari hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan siswa.
Gambar seekor ayam, sapi, atau kambing yang selama ini mudah ditemui di lingkungan sekitar dapat menjadi pintu masuk untuk memahami habitat, makanan, adaptasi, dan keberagaman makhluk hidup.
Melalui kolaborasi mahasiswa KKN dan guru, pembelajaran IPA diharapkan tidak berhenti pada kemampuan siswa menghafalkan nama dan jenis hewan. Lebih dari itu, siswa didorong untuk mengamati, bertanya, berdiskusi, dan memahami hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungannya.
Irsyad Syaddad Satrianto menegaskan mengenalkan keanekaragaman hayati kepada anak-anak bukan sekadar mengenalkan nama-nama hewan. Dari rasa ingin tahu yang tumbuh di ruang kelas, diharapkan lahir kepedulian untuk menjaga makhluk hidup dan lingkungan tempat mereka tinggal.
“Dari rasa ingin tahu anak-anak di ruang kelas, tumbuh benih kepedulian terhadap kelestarian hayati masa depan.” tegas Irsyad Syaddad Satrianto
Pelaksanaan program ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak. Penyusun menyampaikan terima kasih kepada kepala sekolah dan guru pengajar, perangkat Desa Bendungan, Dosen Pembimbing Lapangan KKN, serta seluruh siswa sekolah dasar yang telah menerima dan mengikuti kegiatan dengan antusias.
Penyusun: Irsyad Syaddad Satrianto
Fakultas: Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro
Editor: Azis



