Cuci Tangan Jadi Seru, KKN Undip Edukasi Siswa SDN Bendungan 1 Sragen lewat Lagu
. Mahasiswa KKN bersama seluruh siswa kelas 5 SD Negeri Bendungan 1 dalam sesi dokumentasi setelah pelaksanaan kegiatan Program Sosial Kemasyarakatan di lingkungan sekolah.
Jatengx.com, Sragen – Kebiasaan mencuci tangan kerap dianggap sebagai hal sederhana. Namun, bagi anak usia sekolah, kebiasaan tersebut perlu dikenalkan, dilatih, dan diulang agar menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.
Hal itu dilakukan mahasiswa KKN Reguler Tim II Universitas Diponegoro (Undip) melalui kegiatan edukasi cuci tangan bagi siswa kelas 5 SD Negeri Bendungan 1, Desa Bendungan, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen, Kamis (30/7/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Sosial Kemasyarakatan KKN Undip. Edukasi tidak hanya berisi penjelasan mengenai pentingnya menjaga kebersihan tangan, tetapi juga mengajak siswa mengenali tahapan mencuci tangan yang benar melalui lagu dan praktik secara langsung.
Mahasiswa mengawali kegiatan dengan menjelaskan alasan mencuci tangan perlu dilakukan. Siswa diajak memahami bahwa tangan dapat menjadi tempat menempelnya kotoran dan kuman setelah melakukan berbagai aktivitas.
Materi kemudian dikaitkan dengan kebiasaan sehari-hari siswa. Mereka diajak mengetahui waktu-waktu ketika mencuci tangan perlu dilakukan, termasuk sebelum dan setelah melakukan aktivitas tertentu.
Agar pembelajaran tidak berlangsung satu arah, mahasiswa memberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan dan menceritakan pengalaman mereka. Interaksi tersebut membuat siswa terlibat dalam proses pembelajaran sekaligus menghubungkan materi dengan kebiasaan yang mereka lakukan sehari-hari.

Belajar Cuci Tangan lewat Lagu
Setelah memahami pentingnya kebersihan tangan, siswa diperkenalkan dengan tahapan mencuci tangan. Gerakan dilakukan secara bertahap, mulai dari membasahi tangan, menggunakan sabun, menggosok telapak tangan, punggung tangan, sela-sela jari, ibu jari, hingga ujung jari dan kuku.
Setiap tahapan diperagakan oleh mahasiswa agar siswa dapat mengikuti gerakan dengan lebih mudah.
Untuk membantu siswa mengingat urutan tersebut, mahasiswa menggunakan lagu sebagai media pembelajaran. Siswa bernyanyi sambil mengikuti gerakan mencuci tangan sesuai tahapan yang telah diperkenalkan.
Suasana pembelajaran menjadi lebih interaktif. Siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga bergerak dan mengikuti setiap tahapan secara bersama-sama.
Setelah sesi bernyanyi, siswa mempraktikkan gerakan mencuci tangan secara langsung. Praktik tersebut menjadi bagian penting dari kegiatan karena siswa dapat mencoba sendiri setiap tahapan yang sebelumnya telah dijelaskan dan diperagakan.
Melalui kombinasi materi, lagu, dan praktik, mahasiswa berupaya membuat edukasi kesehatan lebih mudah dipahami dan diingat oleh siswa.
Kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada pemahaman selama pembelajaran. Siswa diharapkan dapat menerapkan kebiasaan mencuci tangan secara mandiri dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di rumah.
Edukasi ini juga mendukung SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui pengenalan perilaku hidup bersih dan kebiasaan menjaga kebersihan tangan. Kegiatan tersebut sekaligus mendukung SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas karena pembelajaran dilakukan secara interaktif melalui materi, tanya jawab, lagu, dan praktik langsung.
Dari sisi pengabdian, kegiatan mencakup aspek sosial, kesehatan, pendidikan, dan budaya. Interaksi mahasiswa dengan siswa memperkuat aspek sosial, sedangkan pengenalan kebersihan tangan menjadi bagian dari pembiasaan hidup sehat.
Aspek pendidikan diwujudkan melalui metode pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif. Sementara itu, aspek budaya terlihat dari upaya membangun kebiasaan mencuci tangan secara rutin sehingga dapat menjadi bagian dari perilaku sehari-hari.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN Undip berharap siswa kelas 5 SD Negeri Bendungan 1 tidak hanya mengetahui pentingnya mencuci tangan, tetapi juga mampu melakukan setiap tahapannya dengan benar.
Kebiasaan sederhana yang dipelajari di sekolah diharapkan dapat dibawa ke lingkungan keluarga dan masyarakat. Dengan demikian, edukasi cuci tangan tidak hanya menjadi kegiatan sesaat, tetapi dapat menjadi bagian dari pembiasaan perilaku hidup bersih sejak usia sekolah.
Penulis/Reporter: Safira Ramadhania Yoelva
Jurusan Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro
Editor: Azis



