Mahasiswa menyerahkan infografis peta UMKM kepada Pemerintah Desa
Jatengx.com, Sukoharjo — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro Tim II Desa Tambakboyo Tahun 2026 melakukan identifikasi kondisi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di wilayah tersebut. Kegiatan ini dilaksanakan melalui kunjungan lapangan langsung ke tiga UMKM yang berlokasi di Desa Tambakboyo, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program kerja bidang ekonomi yang berfokus pada keberlanjutan usaha UMKM. Melalui wawancara dan observasi langsung, mahasiswa menghimpun data mengenai profil usaha, kondisi permodalan, strategi pemasaran, hingga kendala yang dihadapi masing-masing pelaku usaha.
Tiga UMKM yang menjadi objek identifikasi memiliki skala dan usia usaha yang beragam. UMKM pertama telah berdiri sejak 2018 dengan skala menengah, mempekerjakan sekitar 30 orang tenaga kerja, dan pendapatan berkisar Rp5–10 juta per bulan. Dua UMKM lainnya tergolong skala mikro, masing-masing berdiri pada 2019 dan 2020/2021, dengan tenaga kerja yang jauh lebih terbatas — satu hingga lima orang — serta pendapatan di bawah Rp5 juta per bulan.
Meski berbeda skala, ketiga UMKM sama-sama telah bertahan selama 5–8 tahun sejak awal berdiri. Dari sisi kondisi usaha, kemampuan memenuhi permintaan pasar dinilai relatif baik pada seluruh UMKM, dengan skor rata-rata di kisaran 4–5 dari skala 1–5. Ketersediaan modal dan bahan baku juga berada pada level yang cukup memadai, meskipun bervariasi antar pelaku usaha.
Patria Nugrahadi menjelaskan hasil identifikasi menunjukkan bahwa seluruh UMKM yang dikunjungi telah memanfaatkan setidaknya satu kanal digital dalam menjual produknya. UMKM dengan skala usaha terbesar mengandalkan penjualan luring dan marketplace, sementara UMKM lainnya bahkan telah merambah Instagram, TikTok, dan WhatsApp sebagai kanal pemasaran, di samping penjualan konvensional secara langsung.
“Para pelaku UMKM menunjukan sikap adaptifnya dalam pemasaran produk, mereka memanfaatkan setidaknya satu platfoarm media sosial baik Instagram, Tiktok, maupun WA untuk penjualan,” jelasnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pelaku UMKM di Desa Tambakboyo sudah cukup adaptif terhadap perkembangan teknologi, meski pemanfaatannya dinilai belum optimal dan masih memiliki ruang untuk dikembangkan lebih jauh.

Meski memiliki potensi yang cukup baik, hasil pemetaan menunjukkan bahwa keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dan pemasaran menjadi kendala yang paling sering dihadapi oleh pelaku UMKM. Selain itu, sejumlah UMKM juga menghadapi tantangan pada aspek penjualan, pengelolaan usaha, ketersediaan peralatan, hingga persaingan usaha.
Untuk mengetahui kebutuhan pengembangan secara lebih spesifik, mahasiswa turut mengumpulkan data terkait tingkat urgensi kebutuhan pelatihan dan bantuan yang dirasakan oleh masing-masing pelaku usaha, dengan skala 1 (tidak perlu) hingga 5 (sangat perlu). Hasilnya, dua UMKM skala mikro menyatakan kebutuhan yang tinggi terhadap pelatihan digital marketing, pelatihan kewirausahaan, peralatan usaha, serta bantuan permodalan, dengan skor rata-rata di atas 4.

Menariknya mahasiswa tidak hanya melakukan identifikasi saja, mereka juga merumuskan sejumlah rekomendasi program pengembangan bagi UMKM Desa Tambakboyo. Rekomendasi tersebut meliputi pelatihan digital marketing yang mencakup pemanfaatan Instagram, TikTok, dan marketplace; pelatihan kewirausahaan dan pengelolaan usaha; pendampingan serta akses permodalan; hingga dukungan penyediaan peralatan usaha.
“UMKM Desa Tambakboyo memiliki potensi untuk terus berkembang, namun penguatan SDM, pemasaran digital, dan pengelolaan usaha menjadi faktor penting bagi keberlanjutan usaha,” demikian catatan hasil identifikasi lapangan yang disusun oleh mahasiswa KKN.
Penguatan pada aspek digital marketing, peningkatan kapasitas SDM, serta dukungan permodalan dinilai dapat menjadi kunci untuk mendorong penjualan dan menjaga keberlangsungan usaha ketiga UMKM tersebut ke depannya.
Melalui kegiatan pemetaan ini, mahasiswa KKN berharap data dan rekomendasi yang dihasilkan dapat menjadi acuan bagi program-program pendampingan UMKM selanjutnya, baik yang dijalankan oleh mahasiswa maupun oleh pemerintah desa dan pihak terkait lainnya, sehingga UMKM di Desa Tambakboyo dapat terus tumbuh dan bersaing di tengah perkembangan pasar yang semakin digital.
Penulis: Patria Nugrahadi



