Mahasiswa buat tanda rumah prioritas evakuasi banjir berkode P1 dan P2 untuk RT 15A dan 15B
Jatengx.com, Sragen – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (UNDIP) melaksanakan program kesiapsiagaan bencana di Desa Sribit, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen, melalui pembuatan tanda rumah prioritas evakuasi banjir berkode P1 dan P2. Program ini difokuskan pada wilayah RT 15A dan RT 15B yang menjadi salah satu wilayah dengan tingkat kerawanan banjir lebih tinggi di Desa Sribit.
Desa Sribit merupakan wilayah yang berdampingan dengan aliran Sungai Bengawan, sehingga beberapa wilayah di desa tersebut memiliki potensi terdampak banjir, terutama ketika terjadi peningkatan debit air sungai.
Berdasarkan kondisi geografis wilayah dan hasil pengamatan mahasiswa KKN, RT 15A dan RT 15B berada pada dataran yang relatif lebih rendah dibandingkan wilayah lainnya di Desa Sribit. Kondisi tersebut menyebabkan kedua wilayah tersebut menjadi bagian yang lebih dahulu terdampak ketika terjadi banjir.
Situasi tersebut menjadi salah satu pertimbangan mahasiswa KKN dalam menentukan lokasi pelaksanaan program. Ketika banjir terjadi, masyarakat yang tinggal di wilayah dengan elevasi lebih rendah berpotensi menghadapi kondisi darurat lebih cepat. Oleh karena itu, diperlukan kesiapan sejak sebelum bencana, termasuk adanya informasi mengenai rumah yang dihuni oleh masyarakat yang membutuhkan bantuan lebih cepat dalam proses evakuasi.

Desa Sribit memiliki perangkat desa, kader kesehatan, serta masyarakat dan relawan yang dapat dilibatkan dalam kegiatan kesiapsiagaan bencana. Namun, berdasarkan hasil pengamatan mahasiswa KKN, belum terdapat penanda yang secara khusus menunjukkan rumah dengan penghuni yang membutuhkan prioritas evakuasi ketika terjadi banjir.
Kondisi tersebut dapat menjadi kendala bagi petugas maupun relawan dalam menentukan rumah mana yang harus didatangi terlebih dahulu, terutama ketika banjir terjadi secara cepat dan waktu untuk melakukan evakuasi terbatas. Kelompok rentan seperti lansia, penyandang disabilitas, ibu hamil, balita, warga yang sedang sakit, serta masyarakat dengan keterbatasan mobilitas membutuhkan perhatian dan bantuan lebih dalam proses evakuasi.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN UNDIP berinisiatif membuat tanda rumah prioritas evakuasi banjir berkode P1 dan P2. Penanda ini dirancang sebagai sistem identifikasi sederhana yang dapat membantu perangkat desa, relawan, maupun masyarakat dalam mengenali rumah yang membutuhkan prioritas ketika proses evakuasi dilakukan.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa terlebih dahulu melakukan koordinasi dengan pemerintah desa serta melakukan observasi di RT 15A dan RT 15B. Observasi dilakukan untuk memahami kondisi wilayah sekaligus mengidentifikasi masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus dalam situasi bencana.
Mahasiswa kemudian melakukan pendataan kondisi penghuni rumah dan menentukan kategori prioritas evakuasi berdasarkan tingkat kebutuhan bantuan. Kategori tersebut dibagi menjadi dua tingkatan, yaitu P1 dan P2.
P1 merupakan kelompok yang mendapatkan prioritas evakuasi lebih tinggi. Kelompok ini meliputi lansia yang tidak dapat berjalan secara mandiri, penyandang disabilitas, warga yang mengalami sakit berat, serta warga yang membutuhkan alat bantu dalam mobilitas.
Sementara itu, P2 merupakan kelompok yang tetap membutuhkan pendampingan dalam proses evakuasi, tetapi memiliki tingkat urgensi di bawah P1. Kelompok ini meliputi lansia yang masih dapat berjalan secara mandiri, ibu hamil, keluarga dengan bayi atau balita, warga dengan keterbatasan mobilitas ringan, serta warga yang tinggal seorang diri.
Setelah proses pendataan dan penentuan kategori dilakukan, mahasiswa KKN mengumpulkan dan membersihkan potongan banner bekas yang akan digunakan sebagai bahan pembuatan tanda. Banner bekas tersebut kemudian dipotong dan dibuat menjadi penanda rumah dengan kode P1 dan P2.
Pemanfaatan potongan banner bekas dipilih karena bahannya mudah diperoleh, cukup tahan terhadap kondisi luar ruangan, serta dapat digunakan kembali sehingga mengurangi limbah yang sudah tidak terpakai. Dengan demikian, program ini tidak hanya berfokus pada kesiapsiagaan bencana, tetapi juga memanfaatkan kembali material bekas menjadi media yang memiliki fungsi bagi masyarakat.
Penanda dibuat menggunakan tulisan dan kode yang mudah dikenali sehingga dapat membantu petugas maupun relawan ketika melakukan penyisiran dan evakuasi di wilayah terdampak banjir.
Setelah selesai dibuat, penanda dipasang pada bagian rumah yang mudah terlihat dengan persetujuan dari penghuni rumah.
Mahasiswa KKN UNDIP, Galuh Hanafi, mengatakan bahwa program tersebut dibuat dengan mempertimbangkan kondisi wilayah dan kebutuhan masyarakat di RT 15A dan RT 15B.
“Kami memilih RT 15A dan RT 15B karena wilayah tersebut berada di dataran yang relatif lebih rendah dan menjadi salah satu wilayah yang lebih dahulu terdampak ketika terjadi banjir. Kami ingin membuat sistem penanda yang sederhana tetapi dapat membantu masyarakat, perangkat desa, maupun relawan dalam mengenali rumah yang membutuhkan prioritas saat proses evakuasi. Dengan adanya kode P1 dan P2, diharapkan proses evakuasi dapat dilakukan dengan lebih terarah,” ujarnya.
Selain pemasangan tanda, mahasiswa KKN juga memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai arti dari kode P1 dan P2. Sosialisasi dilakukan agar masyarakat memahami fungsi penanda tersebut dan tidak menganggapnya sebagai label pribadi bagi penghuni rumah.
Penanda P1 dan P2 merupakan bagian dari sistem kesiapsiagaan yang bertujuan membantu menentukan prioritas ketika terjadi keadaan darurat. Penanda tersebut juga dapat diperbarui apabila terjadi perubahan kondisi penghuni rumah, sehingga informasi yang digunakan dalam proses evakuasi dapat tetap sesuai dengan kondisi masyarakat.
Program ini diharapkan dapat membantu perangkat desa dan relawan dalam menentukan rumah yang perlu mendapatkan perhatian terlebih dahulu ketika banjir terjadi, khususnya di RT 15A dan RT 15B sebagai wilayah yang memiliki risiko terdampak lebih awal.
Keberadaan penanda juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya mempersiapkan proses evakuasi sebelum bencana terjadi.
Melalui program tersebut, mahasiswa KKN UNDIP berupaya memberikan solusi yang sederhana, murah, dan dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh masyarakat Desa Sribit.
Sistem penanda P1 dan P2 menjadi salah satu bentuk kesiapsiagaan berbasis masyarakat yang dapat membantu mempercepat identifikasi kelompok rentan ketika kondisi darurat.
Program ini juga menunjukkan bahwa kesiapsiagaan bencana tidak hanya dilakukan ketika bencana terjadi, tetapi perlu dipersiapkan sejak sebelumnya melalui pendataan, komunikasi, koordinasi, dan penyediaan informasi yang mudah dikenali.
Terlebih bagi Desa Sribit yang berdampingan dengan Sungai Bengawan dan memiliki wilayah dengan kondisi dataran yang lebih rendah.
Dengan adanya tanda rumah prioritas evakuasi banjir berkode P1 dan P2 di RT 15A dan RT 15B, diharapkan perangkat desa, relawan, dan masyarakat memiliki informasi awal yang lebih jelas dalam menentukan prioritas evakuasi.
Upaya sederhana tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat Desa Sribit menjadi lebih siap menghadapi kemungkinan banjir serta memberikan perlindungan yang lebih cepat kepada kelompok rentan.
Penulis: Galuh Hanafi, Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro Desa Sribit
Editor: Azis



