
Jatengx.com, Klaten — Saat membeli makanan atau minuman kemasan, harga, merek, tampilan produk, hingga promo sering kali menjadi perhatian pertama konsumen. Padahal, ada berbagai informasi penting lain yang tercantum pada kemasan dan dapat membantu konsumen menentukan pilihan.
Hal tersebut menjadi perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro (Undip) melalui sosialisasi “Pemanfaatan Informasi pada Kemasan Pangan dalam Mendukung Pengambilan Keputusan Konsumen” kepada ibu-ibu PKK Desa Turus, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, pada (10/8/2026).
Kegiatan yang dilaksanakan Ammara Khashi Samira, mahasiswa Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi, Fakultas Ilmu Budaya Undip, tersebut mengajak peserta memahami cara membaca dan memanfaatkan informasi pada kemasan sebelum membeli maupun mengonsumsi produk pangan.
Selama ini, konsumen tidak jarang hanya memperhatikan bagian depan kemasan. Padahal, informasi mengenai komposisi, nilai gizi, izin edar, tanggal kedaluwarsa, serta keterangan khusus tertentu dapat ditemukan pada bagian lain kemasan.
Dalam sosialisasi, Ammara menggunakan sejumlah produk pangan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sebagai contoh. Salah satunya produk saus teriyaki yang memiliki keterangan khusus bagi kelompok konsumen tertentu. Keterangan tersebut berada di bagian lain kemasan sehingga berpotensi terlewat apabila konsumen hanya melihat nama produk atau tulisan yang paling menonjol.
Contoh lain diberikan melalui produk bumbu ayam goreng. Dari contoh tersebut, peserta diajak memahami bahwa informasi penting pada produk pangan tidak selalu berada di bagian depan kemasan.
“Jangan hanya melihat bagian depan kemasan. Informasi yang penting justru bisa berada di bagian lain, sehingga kita perlu membiasakan diri membaca kemasan secara lebih menyeluruh sebelum membeli atau mengonsumsi produk,” ujar Ammara.
Sosialisasi kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai berbagai klaim yang sering ditemukan pada kemasan pangan, seperti “rendah gula”, “bebas gluten”, maupun “low fat”.

Mahasiswa menjelaskan bahwa klaim tersebut dapat menjadi informasi awal bagi konsumen, tetapi sebaiknya tidak langsung dijadikan satu-satunya dasar dalam menentukan pilihan.
Peserta diajak membandingkan klaim pada bagian depan kemasan dengan informasi nilai gizi dan komposisi yang tercantum di bagian belakang. Dengan demikian, konsumen dapat memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai produk yang akan dibeli.
“Kalau ada klaim seperti ‘rendah gula’, kita bisa melihat lagi informasi nilai gizi dan komposisinya. Jadi, jangan hanya berhenti pada klaim yang ada di bagian depan,” jelas Ammara.
Pemahaman serupa juga diberikan ketika mahasiswa menjelaskan cara membaca tabel informasi nilai gizi. Tiga produk mi instan digunakan sebagai contoh untuk menunjukkan pentingnya memperhatikan takaran saji dan jumlah sajian dalam satu kemasan.
Peserta diberikan gambaran bahwa angka yang tercantum pada tabel nilai gizi belum tentu menunjukkan jumlah zat gizi untuk satu bungkus penuh. Jika satu kemasan terdiri atas dua sajian dan seluruh produk dikonsumsi, jumlah zat gizi yang masuk ke tubuh perlu disesuaikan dengan jumlah sajian tersebut.
Tidak semua informasi pada kemasan selalu mudah dipahami. Karena itu, peserta juga diberikan pemahaman mengenai cara mencari informasi tambahan melalui sumber yang tepat.
Langkah pertama dilakukan dengan menentukan informasi apa yang ingin diketahui. Setelah itu, konsumen dapat menggunakan kata kunci yang lebih spesifik saat melakukan pencarian.
Misalnya, ketika ingin mengetahui status izin edar, nama produk dapat ditambahkan dengan kata kunci “izin edar”. Sementara itu, istilah tertentu yang belum dipahami dapat ditelusuri menggunakan kata kunci sesuai istilah yang tercantum pada label.
Mahasiswa juga mengingatkan peserta untuk tidak langsung mempercayai informasi yang ditemukan di internet. Sumber informasi perlu diperiksa, termasuk siapa pihak yang memberikan informasi dan apakah sumber tersebut memiliki keterkaitan dengan informasi yang sedang dicari.
Untuk informasi mengenai izin edar, misalnya, konsumen dapat melakukan pengecekan melalui sumber resmi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sementara informasi produk dapat dibandingkan dengan keterangan dari produsen atau sumber resmi lainnya.
Agar materi lebih mudah diingat dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, mahasiswa memperkenalkan metode KLIK, yakni Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa.
Melalui metode tersebut, konsumen diajak membiasakan diri memeriksa kondisi kemasan, membaca label, memastikan izin edar, serta memperhatikan tanggal kedaluwarsa sebelum membeli produk pangan.
Peserta juga mendapatkan booklet yang berisi rangkuman materi sosialisasi serta langkah-langkah sederhana dalam memeriksa informasi pada kemasan. Booklet tersebut diharapkan dapat digunakan kembali ketika peserta ingin mengecek informasi suatu produk secara mandiri.
Kegiatan ini sekaligus menunjukkan penerapan keilmuan Ilmu Perpustakaan dan Informasi dalam persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Kemampuan menentukan informasi yang dibutuhkan, menelusuri sumber yang relevan, serta mengevaluasi informasi menjadi keterampilan yang dapat diterapkan dalam berbagai situasi, termasuk ketika memilih produk pangan.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN Undip berharap masyarakat Desa Turus semakin terbiasa menjadi konsumen yang kritis dan tidak hanya mempertimbangkan merek, harga, tampilan, atau promosi.
Sebab, keputusan membeli sebuah produk tidak berhenti pada apa yang terlihat di bagian depan kemasan. Membaca, memeriksa, menelusuri, dan mempertimbangkan informasi secara cermat dapat menjadi langkah sederhana untuk membuat keputusan konsumsi yang lebih bijak.
Penulis/Reporter: Ammara Khashi Samira
Editor: Azis



