Mahasiswa KKN UNDIP melaksanakan kegiatan penguatan kapasitas Karang Taruna dengan mengangkat tema kepemimpinan inovatif dan simulasi penyusunan action plan
Jatengx.com, Klaten – Karang Taruna merupakan salah satu wadah strategis bagi generasi muda untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan pembangunan desa. Tidak hanya menjadi ruang berkegiatan, Karang Taruna memiliki potensi untuk menjadi penggerak berbagai inisiatif pemuda sekaligus mitra pemerintah desa dalam menjawab kebutuhan masyarakat.
Namun, peran tersebut membutuhkan kapasitas organisasi dan kepemimpinan yang mampu beradaptasi dengan perubahan. Pemimpin tidak cukup hanya mampu mengoordinasikan kegiatan, tetapi juga perlu mendorong anggota untuk berani menciptakan gagasan, bekerja sama, dan mengubah permasalahan menjadi peluang untuk menghasilkan program yang relevan.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Kristina Wijaya Tamariska Sari, mahasiswa KKN Tim II Universitas Diponegoro (Undip) 2026 di Desa Jelobo, melaksanakan kegiatan penguatan kapasitas Karang Taruna dengan mengangkat tema kepemimpinan inovatif dan simulasi penyusunan action plan.
Kegiatan ini dirancang untuk memperkenalkan konsep kepemimpinan inovatif sekaligus memberikan pengalaman praktis kepada anggota Karang Taruna dalam menerjemahkan permasalahan organisasi menjadi rencana aksi yang lebih terarah.
Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak melihat kembali sejumlah tantangan yang dihadapi Karang Taruna Desa Jelobo. Beberapa di antaranya adalah semakin berkurangnya anggota yang aktif, keterbatasan dana organisasi, pemanfaatan media sosial yang belum optimal, rendahnya ketertarikan sebagian pemuda untuk mengikuti kegiatan desa, serta tantangan dalam regenerasi kepemimpinan.
Berbagai persoalan tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan organisasi tidak hanya bergantung pada banyaknya kegiatan yang dilaksanakan. Karang Taruna juga membutuhkan kemampuan untuk mengidentifikasi persoalan, menentukan prioritas, mengembangkan gagasan, serta menyusun langkah yang realistis untuk menjawab kebutuhan organisasi dan masyarakat.
Karena itu, peserta diperkenalkan pada prinsip bahwa program kerja sebaiknya tidak dimulai dari pertanyaan “kegiatan apa yang ingin dibuat?”, tetapi dari pertanyaan “masalah apa yang ingin diselesaikan?”
Pendekatan tersebut mendorong peserta untuk melihat hubungan antara masalah, kebutuhan masyarakat, potensi yang dimiliki, serta solusi yang dapat dikembangkan oleh organisasi.
Untuk mendorong peserta berpikir lebih kreatif, kegiatan juga memperkenalkan berbagai contoh inovasi program yang dapat dikembangkan oleh Karang Taruna sesuai dengan kebutuhan dan potensi desa.
Dalam bidang sosial, misalnya, terdapat gagasan rumah belajar, bank buku, dan kegiatan donor darah. Pada bidang lingkungan, Karang Taruna dapat mengembangkan bank sampah, penanaman pohon, maupun gerakan kampung bersih.
Sementara pada bidang ekonomi, pemuda dapat mengembangkan pelatihan digital marketing, UMKM pemuda, atau pasar kreatif. Di bidang digital, organisasi dapat memperkuat media sosial sebagai sarana publikasi kegiatan sekaligus mengembangkan digitalisasi administrasi organisasi.
Berbagai contoh tersebut menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru atau membutuhkan biaya besar. Inovasi dapat dimulai dari cara baru dalam memanfaatkan sumber daya yang sudah tersedia dan menyesuaikannya dengan kebutuhan masyarakat.
Dalam konteks Karang Taruna, inovasi juga tidak dapat dilepaskan dari kolaborasi. Organisasi dapat membangun kerja sama dengan berbagai pihak, seperti pemerintah desa, PKK, BUMDes, sekolah, UMKM, kelompok tani, Posyandu, komunitas pemuda, maupun pihak swasta.
Setelah memahami konsep kepemimpinan inovatif dan mengidentifikasi permasalahan, kegiatan dilanjutkan dengan simulasi penyusunan action plan sederhana. Peserta diperkenalkan pada sejumlah komponen dasar yang perlu terdapat dalam sebuah rencana aksi, yaitu program, tujuan, penanggung jawab, jadwal, indikator keberhasilan, mitra, dan sumber daya.
Melalui format tersebut, peserta diajak memahami bahwa sebuah ide tidak cukup berhenti sebagai gagasan. Ide perlu diterjemahkan menjadi rencana yang menjawab beberapa pertanyaan penting: apa yang akan dilakukan, mengapa program tersebut diperlukan, siapa yang bertanggung jawab, kapan dilaksanakan, bagaimana keberhasilannya diukur, siapa yang dapat diajak berkolaborasi, dan sumber daya apa saja yang dibutuhkan.
Dalam simulasi, peserta mengembangkan rencana berdasarkan beberapa permasalahan yang dekat dengan kondisi organisasi. Misalnya, persoalan rendahnya keaktifan anggota diterjemahkan menjadi gagasan “Satu Anggota Ajak Satu Teman”. Keterbatasan dana organisasi dikembangkan menjadi program pasar kreatif dan bazar UMKM pemuda, sementara persoalan media sosial yang belum berkembang diarahkan menjadi program digital branding Karang Taruna.
Masing-masing gagasan kemudian dilengkapi dengan tujuan, penanggung jawab, jadwal pelaksanaan, indikator keberhasilan, serta pihak yang berpotensi menjadi mitra.
Dengan demikian, peserta tidak hanya berdiskusi mengenai program yang menarik, tetapi juga belajar mempertimbangkan apakah program tersebut dapat dilaksanakan, siapa yang akan menjalankannya, serta bagaimana keberhasilannya dapat diketahui.
Simulasi action plan juga menjadi ruang bagi peserta untuk mempraktikkan nilai-nilai kepemimpinan inovatif. Dalam proses diskusi, peserta dituntut untuk menyampaikan gagasan, mendengarkan pendapat anggota lain, menentukan prioritas, membagi peran, dan mencapai kesepakatan.
Proses tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan inovatif tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan seorang ketua dalam memberikan arahan. Kepemimpinan juga berkaitan dengan kemampuan menciptakan ruang bagi anggota untuk berkontribusi dan mengembangkan gagasan.
Dengan pendekatan tersebut, pemimpin tidak hanya berperan sebagai pemberi instruksi, tetapi juga sebagai fasilitator yang membantu anggota menemukan solusi bersama.
Kegiatan ini menghasilkan pemahaman dasar bagi anggota Karang Taruna Desa Jelobo mengenai bagaimana menyusun action plan secara sistematis. Peserta mempelajari tahapan mulai dari mengidentifikasi permasalahan, menentukan program, menetapkan tujuan, membagi tanggung jawab, menyusun indikator keberhasilan, menentukan jadwal, hingga mengidentifikasi mitra dan sumber daya.
Lebih dari sekadar penyampaian materi, simulasi memberikan kesempatan kepada peserta untuk mencoba langsung proses perencanaan program. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi Karang Taruna dalam menyusun program kerja yang lebih terarah dan sesuai dengan kebutuhan organisasi maupun masyarakat.
Pada akhirnya, kepemimpinan inovatif bukan hanya tentang menghasilkan sebanyak mungkin ide. Hal yang lebih penting adalah bagaimana ide tersebut dapat diterjemahkan menjadi aksi yang realistis, kolaboratif, terukur, dan berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, Karang Taruna Desa Jelobo diharapkan dapat semakin berani melihat permasalahan sebagai peluang untuk berinovasi. Sebab, organisasi yang mampu bertahan bukan hanya organisasi yang memiliki banyak kegiatan, tetapi organisasi yang mampu belajar, beradaptasi, melibatkan anggotanya, dan terus menciptakan solusi bagi lingkungannya. Dari ide menjadi rencana. Dari rencana menjadi aksi. Dan dari aksi, lahir perubahan.
Editor: Azis



