Mahasiswa memberikan pendampingan kepada pelaku UMKM manfaatkan teknologi
Jatengx.com, Sukoharjo — Di tengah gencarnya arus digitalisasi ekonomi, sebagian besar pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Desa Tambakboyo, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo, masih mengandalkan cara pemasaran konvensional. Banyak produk lokal yang sebenarnya punya potensi pasar lebih luas, namun terkendala oleh minimnya pemahaman terhadap teknologi digital.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro menginisiasi program pendampingan pembuatan akun Shopee bagi para pemilik usaha di Dusun 1, sebagai langkah awal memperluas jangkauan pasar produk lokal desa.
Program bertajuk “Digitalisasi UMKM melalui Pembuatan Akun Shopee sebagai Upaya Peningkatan Pemasaran Produk Lokal Desa Tambakboyo” ini digagas oleh Florence Felisca, mahasiswa Jurusan Manajemen, dan dilaksanakan pada Jumat, (7/8) di Rumah maupun tempat produksi milik pelaku UMKM setempat.
Program ini merupakan bagian dari tema besar KKN, yaitu Penguatan Eksistensi UMKM Berkelanjutan Berbasis SDGs untuk Mendukung Pertumbuhan Ekonomi Lokal.
Sebelum program ini dirancang, tim KKN lebih dulu melakukan observasi ke lapangan untuk memahami kondisi riil UMKM di Tambakboyo. Dari observasi tersebut, ditemukan fakta bahwa hanya sedikit pelaku usaha yang sudah memanfaatkan platform jual beli daring untuk memasarkan produknya. Sebagian besar masih mengandalkan penjualan dari mulut ke mulut atau menunggu pembeli datang langsung ke rumah maupun tempat produksi.

Meski begitu, tim KKN juga menemukan sinyal positif: ada beberapa UMKM yang menunjukkan kesediaan untuk dijadikan pilot project pembuatan akun Shopee. Artinya, minat untuk go digital sebenarnya sudah ada, hanya saja belum ada pendampingan yang secara khusus membantu proses tersebut dari awal hingga siap beroperasi.
Florence Felisca menyampaikan program pendampingan ini dirancang dengan harapan dapat mendorong pelaku UMKM memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana memperluas pasar, sekaligus mengembangkan potensi usaha yang sudah mereka miliki.
“Pendampingan ini kami rancang dengan sasaran UMKM dengan harapan dapat meningkatakan penggunaan teknologi digital sebagai sarana pengembangan usaha,” ucapnya.
Berbeda dari sosialisasi pada umumnya yang mengumpulkan banyak peserta dalam satu forum, program ini memilih pendekatan yang lebih personal, yaitu door to door. Tim KKN mendatangi langsung rumah atau tempat produksi masing-masing pelaku UMKM yang telah bersedia berpartisipasi.
Kegiatan diawali dengan koordinasi untuk menentukan jadwal yang tepat bersama pemilik UMKM. Setelah waktu disepakati, tim berkunjung langsung ke lokasi usaha. Di sana, mahasiswa terlebih dahulu meminta kelengkapan dokumen yang diperlukan untuk pembuatan akun, seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan rekening bank aktif, sebagai syarat administratif membuka toko di Shopee.

Proses pembuatan akun kemudian dilakukan sambil berdiskusi langsung dengan pemilik usaha, membahas jenis produk yang akan dipasarkan dan bagaimana cara terbaik menampilkannya secara daring.
Menariknya, pendampingan yang diberikan tidak berhenti pada aspek teknis pembuatan akun semata. Mahasiswa turut membantu mendesain ulang logo usaha yang sebelumnya kurang menarik, serta memotret ulang produk agar tampilannya lebih menarik ketika dipajang di etalase toko Shopee.
Sentuhan kecil pada aspek visual ini penting, mengingat tampilan produk menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keputusan pembeli di platform daring.
Setelah akun dan etalase toko selesai disiapkan, tahap terakhir adalah memberikan panduan pengelolaan melalui aplikasi Shopee Seller. Pemilik usaha diajari cara mengunggah produk, mengatur harga, hingga merespons pesanan yang masuk, dengan hanya bermodalkan telepon genggam sebagai media utama.
Program pendampingan Shopee ini sebenarnya tidak berjalan sendiri. Ia menjadi satu dari tiga inisiatif digital yang saling melengkapi dalam upaya membangun ekosistem pemasaran UMKM di Desa Tambakboyo.
Secara paralel, Iqbal Reza Mahendra mengembangkan situs web yang memuat basis data UMKM Desa Tambakboyo, sehingga informasi mengenai pelaku usaha lokal dapat diakses secara lebih terstruktur.
Sementara itu, M. Jova Junaedi membangun akun Instagram yang berfungsi sebagai kanal promosi tambahan bagi UMKM di desa tersebut.
Kombinasi ketiga program ini, akun Shopee sebagai kanal transaksi, situs web sebagai basis data, dan Instagram sebagai kanal promosi, menunjukkan bahwa pendekatan digitalisasi UMKM yang dibangun tim KKN tidak berdiri sendiri, melainkan dirancang sebagai satu kesatuan yang saling menopang.
Dari rangkaian kegiatan tersebut, mahasiswa KKN berhasil membentuk satu akun Shopee sebagai pilot project bersama pemilik usaha yang menjadi mitra utama program. Selain itu, tim juga menyusun leaflet panduan pembuatan akun Shopee yang kemudian disebarkan kepada UMKM lain melalui Karang Taruna setempat.
“Karang Taruna sebagai penyalur bukan tanpa alasan, anggotanya yang tergolong muda dan lebih akrab dengan teknologi digital dinilai dapat membantu UMKM lain yang ingin membuat akun serupa di kemudian hari, meski tanpa pendampingan langsung dari mahasiswa,” ungkap Florence Felisca

Secara keseluruhan, manfaat program ini dirasakan oleh enam UMKM yang ada di Desa Tambakboyo Dusun 1. Namun demikian, tim KKN juga mencatat bahwa tidak semua respons yang diterima seragam, ada pemilik usaha yang bersedia dibuatkan akun secara langsung, tetapi ada pula yang masih memilih untuk menunggu dan belum siap beralih ke penjualan daring.
Kondisi ini menjadi gambaran realistis bahwa proses digitalisasi UMKM di tingkat desa membutuhkan waktu dan pendekatan yang berkelanjutan, tidak bisa selesai hanya dalam satu kali pendampingan.
Salah satu pemilik usaha yang merasakan langsung manfaat program ini adalah Pak Sidik, pemilik UMKM alat dandang. Selama ini, ia kerap kesulitan menjangkau calon pembeli yang sebenarnya membutuhkan produknya.
“Kadang masih permintaan orang-orang yang butuh alat seperti ini, cuman bingung dapet darimana, akhirnya saya bisa menyediakannya secara online,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari perwakilan Karang Taruna, Kak Udin, yang berharap program ini membawa dampak yang berkelanjutan bagi warga desa.
“Mudah-mudahan dengan adanya ini kita jadi bisa bantu pemilik usaha jualan lebih lagi,” katanya.
Tantangan utama dari program digitalisasi semacam ini biasanya muncul setelah masa KKN berakhir, yakni soal keberlanjutan toko Shopee yang telah dibuat. Tanpa pendampingan lanjutan, ada risiko toko yang sudah dirintis justru tidak aktif dikelola karena pemilik usaha belum sepenuhnya terbiasa mengoperasikannya secara mandiri.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, tim KKN menitipkan peran pendampingan lanjutan kepada Karang Taruna, melalui leaflet panduan yang telah disebarkan. Dengan begitu, generasi muda desa diharapkan dapat mengambil peran sebagai fasilitator informal bagi UMKM lain yang ingin membuka toko daring, sekalipun mahasiswa KKN sudah tidak berada di lokasi.

Program ini sejalan dengan dua target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), yaitu SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.
Melalui pendampingan sederhana namun langsung menyentuh kebutuhan pelaku usaha, mahasiswa KKN Undip berupaya mendorong UMKM Desa Tambakboyo untuk lebih siap bersaing di pasar digital, sekaligus menunjukkan bahwa transformasi digital di tingkat desa bisa dimulai dari langkah-langkah kecil dan personal, seperti kunjungan dari rumah ke rumah.
Penulis: Florence Felisca
Editor: Azis



