
Krobokan — Melimpahnya hasil pertanian jagung di Desa Krobokan tidak hanya menghasilkan komoditas pangan, tetapi juga menyisakan limbah berupa bonggol jagung yang selama ini belum dimanfaatkan. Limbah bonggol jagung hanya dibuang menjadi sampah yang menumpuk saja. Melihat potensi tersebut, Tim KKN-R Desa Krobokan menginisiasi program multidisiplin bertajuk “Pemanfaatan Limbah Bonggol Jagung Menjadi Briket sebagai Produk Bernilai Tambah melalui Inovasi Ekonomi Kreatif Desa.”
Program tersebut dilaksanakan sebagai upaya untuk memperkenalkan metode pemanfaatan limbah pertanian sekaligus membuka peluang pengembangan produk bernilai tambah bagi masyarakat. Bonggol jagung yang umumnya dianggap sebagai limbah diolah menjadi bahan baku briket melalui serangkaian proses pengolahan.
Dalam pelaksanaannya, masyarakat diperkenalkan pada tahapan pembuatan briket, mulai dari proses pembakaran bonggol jagung untuk menghasilkan arang, penghancuran arang menjadi serbuk, pencampuran dengan bahan perekat, hingga proses pencetakan. Setiap tahapan dilakukan untuk menunjukkan bahwa limbah pertanian dapat diolah menjadi produk yang memiliki fungsi dan nilai ekonomi.
Proses pembakaran menjadi salah satu tahapan penting dalam pengolahan bonggol jagung. Bonggol dibakar dengan kondisi yang dikendalikan hingga menghasilkan arang, kemudian arang tersebut dihancurkan menjadi ukuran yang lebih kecil agar dapat dicampurkan dengan bahan perekat secara merata. Campuran selanjutnya dicetak dan dipadatkan hingga membentuk briket yang lebih mudah digunakan sebagai bahan bakar.
Melalui demonstrasi dan praktik tersebut, masyarakat tidak hanya diperkenalkan pada proses teknis pembuatan briket, tetapi juga pada potensi pengembangan produk dari sumber daya yang tersedia di lingkungan desa. Pemanfaatan bonggol jagung diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi limbah sekaligus meningkatkan nilai guna hasil pertanian.
Konsep ekonomi kreatif menjadi salah satu aspek penting dalam program ini. Limbah yang sebelumnya memiliki nilai guna terbatas diarahkan untuk diolah menjadi produk baru yang berpotensi memiliki nilai jual. Dengan demikian, pemanfaatan bonggol jagung tidak berhenti pada penyelesaian persoalan limbah, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai peluang usaha berbasis potensi lokal.
Program ini juga menjadi bentuk kolaborasi lintas bidang dalam Tim KKN-R Desa Krobokan. Pendekatan multidisiplin digunakan untuk menggabungkan aspek teknis pengolahan, pemanfaatan sumber daya lokal, serta peluang pengembangan produk agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Melalui program tersebut, Tim KKN-R Desa Krobokan berharap masyarakat dapat melihat limbah pertanian dari sudut pandang yang berbeda. Bonggol jagung tidak semata-mata menjadi sisa hasil pertanian, tetapi dapat menjadi bahan baku yang diolah kembali menjadi produk yang bermanfaat dan memiliki potensi ekonomi.
Pemanfaatan limbah bonggol jagung menjadi briket diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam mendorong inovasi berbasis potensi lokal Desa Krobokan. Dengan pengembangan yang berkelanjutan, produk tersebut berpeluang untuk tidak hanya memberikan manfaat dalam pemanfaatan energi alternatif, tetapi juga mendukung tumbuhnya aktivitas ekonomi kreatif yang memanfaatkan sumber daya yang tersedia di desa.
Penulis/Reporter: KKN-R Tim II UNDIP Desa Krobokan
Fotografer: Tim Dokumentasi KKN-R Tim II UNDIP Desa Krobokan
Kontak Media / Humas Kelompok: Instagram: @kkn.krobokan.undip



