
MAHASISWA KKN UNIVERSITAS DIPONEGORO AJARKAN SISTEM BIOPORI DAN BUDAYA PENGELOLAAN SAMPAH JEPANG GUNA TINGKATKAN POTENSI DESA WONOREJO
Sragen, 8 Agustus 2026 – Kelompok Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim 127 dari
Universitas Diponegoro sukses menyelenggarakan program kerja penerapan sistem biopori
dan edukasi budaya pengelolaan sampah yang bertempat di lingkungan pekarangan warga,
Desa Wonorejo, Kecamatan Kedawung, pada Sabtu, 8 Agustus 2026.
Kegiatan ini diinisiasi sebagai respons terhadap permasalahan kebiasaan membakar limbah
pertanian (sekam padi) dan sampah organik rumah tangga yang masih marak terjadi
sehingga mencemari lingkungan. Dengan menyasar kelompok tani, peternak, dan warga
desa, program ini bertujuan untuk memberikan edukasi serta keterampilan praktis dalam
pembuatan lubang resapan biopori yang dipadukan dengan filosofi Mottainai (menghargai
barang bernilai guna) dan pemilahan sampah (Gomi Bunbetsu) sebagai suplai bahan
organik penyubur tanah.
Ketua KKN Kelompok Desa Wonorejo, Kalbadri Fauzan Arief Marchiko, menjelaskan bahwa
program ini dirancang agar memberikan dampak jangka panjang bagi warga desa. “Kami
melihat potensi yang sangat besar di Desa Wonorejo berupa melimpahnya limbah sekam
dan bahan organik, namun terkendala oleh kebiasaan membakar sampah tanpa dipilah.
Oleh karena itu, melalui program biopori ini, kami mendampingi warga untuk mengolah
sampah organik sebagai bahan alami pembuatan biopori yang salah satu manfaat utamanya
adalah membantu meresapkan air guna mencegah banjir,” ujarnya saat memberikan
sambutan pembuka kegiatan. Pelaksanaan kegiatan sosialisasi diisi dengan serangkaian pemaparan materi dari lintas
disiplin ilmu. Salah satunya adalah edukasi mengenai filosofi Mottainai dan sistem
pemilahan Gomi Bunbetsu yang dibawakan oleh mahasiswa Program Studi Bahasa dan
Kebudayaan Jepang, Nadya Fathiya Rabbani.
“Di Jepang ada filosofi yang namanya Mottainai, filosofi ini berguna sebagai pengingat jika
setiap benda memiliki nilai bila dimanfaatkan dengan baik, termasuk sampah sekalipun.
Nah, agar sampah-sampah itu berguna, maka harus dipilah terlebih dahulu atau dalam
budaya Jepang dikenal dengan Gomi Bunbetsu. Meskipun ada perbedaan cara pemilahan
sampah di Jepang dan Indonesia, pemilahan ini sangat diperlukan dalam pemanfaatan
sampah, khususnya jenis organik (moeru gomi) seperti sekam padi sebagai bahan utama
untuk lubang biopori,” jelas Nadya saat memberikan pemaparan.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi demonstrasi serta penjelasan teknis tahapan
pembuatan dan pemasangan lubang resapan biopori oleh rekan-rekan mahasiswa dari
disiplin ilmu terkait. Warga dan kelompok tani yang hadir tampak menyimak rangkaian acara
dari awal hingga akhir dengan antusias.
Acara reportase ini kemudian ditutup dengan sesi foto bersama, penyerahan luaran tiap
disiplin ilmu secara simbolis oleh perwakilan mahasiswa kepada tokoh masyarakat
setempat, serta ramah tamah.
Penulis/Reporter: Nadya Fathiya Rabbani
Fotografer: Fathia Febianti Kontak Media / Humas Kelompok: kkndesawonorejo26@gmail.com




