Tampilan landmark yang sudah dibenahi mahasiswa dengan memanfaatkan limbah sampah plastik
Jatengx.com, Pekalongan — Sebuah landmark berbentuk tulisan “I ♥ TUNSA” kembali dibenahi di pintu masuk Desa Tunjungsari, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan. Landmark yang memanfaatkan botol ecobrick itu dirapikan dan diperbarui mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro (Undip) sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan pengelolaan sampah plastik di desa.
Program bertajuk “Tunjungsari Asri: Inovasi Pengelolaan Sampah Plastik Menjadi Ecobrick Landmark Desa” tersebut merupakan program kerja multidisiplin KKN Tim II Undip 2026.
Landmark “I ♥ TUNSA” sebelumnya dibangun oleh mahasiswa KKN Undip pada periode 2024. Instalasi tersebut menjadi salah satu upaya memperkenalkan pemanfaatan sampah plastik sekaligus menghadirkan penanda visual bagi Desa Tunjungsari.
Namun, setelah beberapa waktu terpapar kondisi cuaca, sejumlah bagian landmark mengalami kerusakan. Kerangka besi pada beberapa bagian mengalami pembengkokan, sementara sejumlah botol ecobrick terlepas dan hilang.
Kondisi tersebut membuat tampilan landmark tidak lagi serapi saat pertama kali dibangun. Padahal, instalasi yang berada di pintu masuk desa itu memiliki fungsi ganda sebagai penanda wilayah sekaligus media edukasi mengenai pemanfaatan sampah plastik.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN Tim II Undip melakukan pembenahan secara bertahap. Kerangka besi yang bengkok dirapikan dan diluruskan kembali. Botol-botol ecobrick yang hilang juga dilengkapi sesuai dengan susunan warna pada desain sebelumnya.
Tidak berhenti pada perbaikan struktur, mahasiswa turut memperbarui tampilan landmark dengan menambahkan ornamen dekoratif berupa bunga yang dibuat dari tutup botol.
Pemanfaatan tutup botol tersebut sekaligus memperluas penggunaan material bekas dalam instalasi. Sampah plastik yang sebelumnya tidak memiliki nilai guna diperkenalkan kembali sebagai bagian dari elemen dekorasi.
Bagi Desa Tunjungsari, pembenahan landmark tersebut bukan semata-mata memperbaiki sebuah bangunan yang mengalami kerusakan. Kegiatan itu juga menjadi bagian dari upaya menjaga karya yang telah dibuat sebelumnya agar tetap dapat dimanfaatkan masyarakat.
Kepala Desa Tunjungsari, Yahya, menyambut baik kegiatan pembenahan yang dilakukan mahasiswa KKN Undip.
Menurut dia, keberadaan landmark “I ♥ TUNSA” dapat memperkuat identitas visual desa sekaligus menjadi pengingat bagi masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
Setelah dibenahi, landmark tersebut kembali ditempatkan sebagai salah satu penanda Desa Tunjungsari. Kehadirannya di pintu masuk desa diharapkan tidak hanya mempercantik lingkungan, tetapi juga mempertahankan pesan mengenai pemanfaatan sampah plastik yang menjadi dasar pembangunannya.
Program tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak selalu harus dimulai dari pembuatan sesuatu yang baru. Merawat, memperbaiki, dan memanfaatkan kembali karya yang telah ada juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan program lingkungan di tingkat desa.
Penulis: Tim KKN Undip Desa Tunjungsari
Editor: Azis



