Foto mahasiswa bersama Pengurus PKK selepas kegiatan Perempuan Berdaya, Keluarga Terlindungi: Membangun Keluarga Inklusif dan Aman bagi Ibu di Era Digital
Jatengx.com, Salatiga – Tim II Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Universitas Diponegoro (UNDIP) Kelurahan Ledok bersama ibu-ibu PKK Kelurahan Ledok melaksanakan program kerja “Perempuan Berdaya, Keluarga Terlindungi: Membangun Keluarga Inklusif dan Aman bagi Ibu di Era Digital” pada Sabtu (8/8) di Aula Kelurahan Ledok, Salatiga.
Kegiatan yang dilaksanakan bersamaan dengan Rapat Pleno PKK ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan kapasitas perempuan dalam menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan keluarga dan era digital melalui edukasi dan diskusi mengenai pemberdayaan diri, pengelolaan stres, self-care, support system, literasi media dan digital, keamanan dari penipuan online, serta akses terhadap pelayanan publik.
Program ini dilaksanakan sebagai bentuk respons terhadap berbagai tantangan yang dihadapi perempuan dalam menjalankan beragam peran di kehidupan sehari-hari. Pemberdayaan perempuan dalam kegiatan ini tidak hanya dipahami sebagai kemampuan menjalankan tanggung jawab dalam keluarga, tetapi juga sebagai kesempatan bagi perempuan untuk mengenali kebutuhan diri, mengambil keputusan, memperoleh informasi yang tepat, serta membangun dukungan dari lingkungan sekitar.
Hal ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 5 tentang kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan yang menempatkan kesetaraan dan pemberdayaan perempuan sebagai bagian dari agenda pembangunan global.
Selain isu pemberdayaan perempuan, kegiatan ini juga mengangkat perhatian terhadap kelompok rentan, khususnya lansia. Meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia di dunia turut mendorong perhatian terhadap kebutuhan lansia akan akses informasi, pelayanan, pendampingan, dan lingkungan yang inklusif.
Dalam kehidupan sehari-hari, tantangan tersebut dapat terlihat dari kesulitan sebagian lansia dalam memperoleh informasi, mengakses pelayanan, maupun mengikuti perkembangan teknologi digital.
Mahasiswa KKN mengajak peserta melihat bahwa persoalan kelompok rentan tidak hanya menjadi tanggung jawab individu atau keluarga. Keluarga, tetangga, PKK, RT/RW, serta berbagai layanan terkait memiliki peran yang berbeda dan dapat saling terhubung dalam memberikan dukungan.
Mahasiswa berharap PKK dapat menjadi bagian dari jejaring masyarakat dengan membantu mengenali kebutuhan lansia, menghubungkan mereka dengan pihak yang dapat memberikan bantuan, serta mendorong komunikasi dan koordinasi agar persoalan dapat ditangani secara bersama.
Pendekatan tersebut menekankan pentingnya inklusivitas, yaitu memastikan kelompok rentan tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan tidak terpinggirkan karena keterbatasan usia maupun kondisi tertentu.
Kegiatan diawali dengan pembahasan mengenai berbagai peran yang dijalankan perempuan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari peran sebagai ibu, pasangan, anak bagi orang tua, pekerja, hingga pengelola rumah tangga. Berbagai peran tersebut dapat memberikan makna dan kepuasan, tetapi juga dapat menghadirkan tuntutan waktu, tenaga, dan perhatian yang besar ketika berbagai tanggung jawab berjalan secara bersamaan.
Peserta kemudian diajak memahami pentingnya mengenali kondisi diri dan mengelola stres secara realistis agar tuntutan dari berbagai peran tidak menjadi beban yang harus dihadapi seorang diri.
Mahasiswa juga membahas materi mengenai self-care dan support system, terutama bagi ibu yang menjalankan peran sebagai caregiver lansia. Mahasiswa menjelaskan bahwa caregiving dapat mencakup mendampingi aktivitas sehari-hari, menyiapkan kebutuhan, mengantar berobat, membantu mobilitas, hingga memberikan dukungan emosional.
Dalam materi tersebut, peserta diajak memahami bahwa tanggung jawab merawat anggota keluarga tidak harus ditanggung oleh satu orang saja. Pembagian peran, pengaturan waktu, menjaga diri, serta keberanian meminta bantuan kepada keluarga dan lingkungan sekitar menjadi bagian penting dalam mengurangi beban caregiving.
Selain pemberdayaan diri, peserta mendapatkan edukasi mengenai literasi media kritis. Mahasiswa mengajak peserta memahami bagaimana perempuan dan kelompok rentan dapat direpresentasikan dalam iklan, media sosial, maupun berbagai konten digital.
Peserta diperkenalkan pada langkah sederhana “Berhenti, Cek, Pikirkan” sebagai kebiasaan sebelum mempercayai maupun membagikan suatu informasi. Melalui pendekatan tersebut, peserta didorong untuk tidak langsung mempercayai informasi hanya karena suatu gambar atau konten terlihat meyakinkan.
Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan literasi digital dan keamanan dalam menggunakan teknologi. Peserta diperkenalkan pada empat pilar literasi digital, yaitu cakap digital, budaya digital, etika digital, dan aman digital. Mahasiswa juga menjelaskan berbagai bentuk penipuan online, seperti tautan palsu, tawaran keuntungan instan, serta modus yang mengatasnamakan anggota keluarga dalam keadaan darurat.

Mahasiswa memberikan pendampingan dengan mengingatkan untuk melakukan verifikasi terlebih dahulu sebelum memberikan informasi pribadi, membuka tautan, maupun mengikuti instruksi yang diterima melalui pesan digital.
Dalam sesi berikutnya, peserta memperoleh informasi mengenai hak masyarakat dalam memperoleh pelayanan publik. Masyarakat berhak mendapatkan informasi yang jelas, pelayanan tepat waktu, pelayanan tanpa diskriminasi, serta perlakuan yang ramah dan sopan.
Mahasiswa juga memperkenalkan berbagai layanan yang dapat dimanfaatkan oleh keluarga dan kelompok rentan, termasuk layanan kesehatan, posyandu, bantuan sosial, administrasi kependudukan, serta layanan kesehatan bagi lansia.
Ketua KKN Kelurahan Ledok, Ahmad Irgi Badjrani, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk menghubungkan isu pemberdayaan perempuan dan perlindungan keluarga dengan kebutuhan masyarakat di tingkat lokal.
“Kami memilih tema ini karena melihat perempuan, khususnya ibu-ibu, memegang banyak peran sekaligus dalam keluarga, tapi belum tentu punya akses informasi yang cukup soal cara menjaga diri dan keluarganya di era digital sekarang. Program ini juga sejalan dengan arah Pemprov Jateng lewat program Kecamatan Berdaya yang menyasar perempuan rentan dan penyandang disabilitas, jadi kami rasa penting untuk mulai dari level kelurahan. Harapan kami, ibu-ibu PKK bisa jadi lebih percaya diri mengambil keputusan, lebih kritis menyaring informasi, dan berani mencari dukungan dari lingkungan sekitar kalau merasa kewalahan,” ujarnya.
Pelaksanaan kegiatan berlangsung melalui pemaparan materi secara interaktif dan diskusi bersama peserta. Ibu-ibu PKK mengikuti rangkaian kegiatan dengan antusias, terutama ketika materi dikaitkan dengan situasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti pembagian peran dalam keluarga, pengelolaan stres, pengalaman dalam merawat lansia, penggunaan media sosial, hingga kewaspadaan terhadap penipuan digital.

Perwakilan PKK Kelurahan Ledok, Ibu Eko selaku Wakil Ketua Ibu PKK Kelurahan Ledok, menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan yang diberikan mahasiswa KKN.
“Materi yang disampaikan adik-adik KKN ini sangat relevan dengan keseharian kami, terutama soal pengelolaan stres dan literasi digital. Selama ini ibu-ibu di sini sering merasa harus menjalani semua peran sendirian, padahal ada banyak hal yang sebenarnya bisa dibagi dan dicari bantuannya. Kami juga jadi lebih waspada soal penipuan online yang belakangan marak. Harapannya, pengetahuan ini nggak berhenti di aula saja, tapi benar-benar diterapkan di rumah masing-masing,” ungkapnya.
Melalui program “Perempuan Berdaya, Keluarga Terlindungi”, mahasiswa KKN berharap peserta tidak hanya memperoleh informasi baru, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pemberdayaan perempuan tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan menjalankan berbagai peran, tetapi juga sebagai kesempatan untuk berkembang, mengenali kebutuhan diri, mengambil keputusan, memperoleh informasi yang tepat, serta membangun support system di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Program ini juga menekankan pentingnya keterlibatan lingkungan sekitar dalam menciptakan keluarga yang inklusif dan aman. Perlindungan terhadap kelompok rentan, termasuk lansia dan penyandang disabilitas, tidak hanya menjadi tanggung jawab individu atau keluarga, tetapi membutuhkan keterhubungan antara keluarga, tetangga, PKK, dan berbagai pihak terkait.
Dengan adanya jejaring tersebut, masyarakat diharapkan dapat lebih peka dalam mengenali kebutuhan kelompok rentan sekaligus mengetahui pihak yang dapat dihubungi ketika membutuhkan bantuan.
Kegiatan “Perempuan Berdaya, Keluarga Terlindungi” diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat kapasitas perempuan di Kelurahan Ledok agar lebih mampu menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan perempuan yang lebih berdaya, kritis dalam menerima informasi, mampu menjaga diri, dan memiliki dukungan dari lingkungan sekitar, keluarga diharapkan dapat menjadi ruang yang lebih aman, inklusif, dan saling mendukung.
Penulis/Reporter: Ahmad Irgi Badjrani, Alif Surya Mahendra, Nadhira Azzahra, Rafky Nabinseka, Rania Yasmine, Safira Zahra Damayanti, Tri Rahma
Fotografer/Dokumentator: Arka Zihni, Dwi Cynthia
Kontak Media/Humas Kelompok: kkndesaledok26@gmail.com
Editor: Azis



