
Jatengx.com, Kendal – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) 140 Universitas Diponegoro Tahun 2026 menyusun Peta Insidensi Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Demam Dengue (DD) Berdasarkan Tingkat Risiko Per Dusun di Desa Ngabean, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, sebagai salah satu program kerja monodisiplin. Program ini digagas oleh Artika Wahyu Zulianty, mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, dengan tujuan memberikan gambaran spasial mengenai tingkat risiko kejadian DBD dan DD di wilayah tersebut.
Program ini merupakan salah satu wujud kontribusi mahasiswa dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), poin ke-3 Good Health and Well-Being melalui upaya pencegahan dan pengendalian penyakit menular berbasis wilayah. Peta ini diharapkan dapat menjadi media informasi sekaligus bahan pertimbangan bagi pemerintah desa dan tenaga kesehatan dalam merencanakan intervensi yang lebih tepat sasaran.
Demam Berdarah Dengue masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang memerlukan perhatian serius. Tingginya mobilitas penduduk, kondisi lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, serta variasi jumlah kasus antarwilayah membuat identifikasi daerah prioritas menjadi penting agar intervensi pengendalian dapat dilakukan secara lebih efektif. Pemetaan risiko dipilih sebagai pendekatan karena mampu menyajikan informasi epidemiologi dalam bentuk visual yang mudah dipahami oleh pemerintah desa, tenaga kesehatan, maupun masyarakat.
Penyusunan peta diawali dengan pengumpulan data kejadian DBD dan DD di Desa Ngabean yang diperoleh dari Puskesmas II Boja untuk periode 2024–2026. Data tersebut kemudian diolah menggunakan perangkat lunak QGIS melalui proses analisis spasial dan penghitungan tingkat risiko berdasarkan incidence rate. Berdasarkan hasil analisis, seluruh dusun diklasifikasikan ke dalam tiga kategori, yaitu Zona Merah untuk risiko tinggi, Zona Orange untuk risiko sedang, dan Zona Hijau untuk risiko rendah. Hasil klasifikasi tersebut kemudian divisualisasikan dalam bentuk peta tematik lengkap dengan legenda agar informasi yang disajikan lebih informatif dan komunikatif.
“Peta ini tidak hanya menunjukkan lokasi kasus DBD dan DD, tetapi juga membantu mengidentifikasi dusun mana yang perlu menjadi prioritas dalam upaya pencegahan dan pengendalian. Harapannya, hasil pemetaan ini dapat dimanfaatkan oleh pemerintah desa dan puskesmas sebagai dasar dalam menentukan intervensi yang lebih tepat sasaran, sekaligus diperbarui secara berkala agar tetap sesuai dengan perkembangan kondisi di lapangan,” ujar Artika Wahyu Zulianty, mahasiswa KKN-T 140 Universitas Diponegoro.
Berdasarkan hasil pemetaan, Dusun Ngabean tercatat sebagai wilayah dengan tingkat risiko tertinggi (Zona Merah). Dusun Kalikatok berada pada tingkat risiko sedang (Zona Orange), sementara Dusun Kliwonan, Gowok, Balak, Ngularan, Mluro, dan Bulumesu berada pada tingkat risiko rendah (Zona Hijau). Perbedaan tingkat risiko antarwilayah ini menegaskan adanya variasi distribusi kasus DBD dan DD di setiap dusun, sehingga diperlukan prioritas intervensi yang berbeda sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah.
Melalui program kerja ini, mahasiswa KKNT 140 Universitas Diponegoro berharap peta risiko yang dihasilkan dapat menjadi acuan bagi pemerintah desa dan Puskesmas II Boja dalam merencanakan kegiatan surveilans, Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), serta edukasi kesehatan yang lebih terarah dan berbasis data. Langkah ini diharapkan mampu menekan angka kasus DBD dan DD di Desa Ngabean secara berkelanjutan, sekaligus menjadi kontribusi nyata mahasiswa dalam mendukung pencapaian SDGs poin ke-3 (Good Health and Well-Being) untuk mewujudkan masyarakat desa yang lebih sehat dan sejahtera.
Editor: Azis



