
Jatengx.com, Semarang – Upaya menanamkan kesadaran akan pentingnya lingkungan sekolah yang aman dan nyaman terus digencarkan di SDN Pandean Lamper 02. Salah satu langkah nyata diwujudkan melalui kegiatan pembuatan mural bertema “Stop Bullying” yang melibatkan partisipasi aktif siswa-siswi sekolah tersebut. Kegiatan ini diinisiasi oleh mahasiswa magang kependidikan Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) tahun 2026 sebagai bentuk edukasi kreatif dalam mencegah perilaku perundungan di lingkungan sekolah dasar.
Mahasiswa yang melaksanakan magang di SDN Pandean Lamper 02 yaitu, Khurul’Aini Septya Naylla, Fida Amalia, Marsha Tiarawati, Friska Amelia, Indah Leony Putri, Clara Felicia Wijayanti, Hidayatun Nikmah, Dini Awalia Rahmah, Aida Cininta Milan H., Fani Dwi Meylaningsih, Hesti Kumalasari, Muhammad Abdurrouf, M. Adib Taufiqurrohman.
Selama kegiatan (13/4/2026) siswa tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut berkontribusi langsung dengan melakukan cap tangan berwarna di dinding mural. Setiap cap tangan menjadi simbol komitmen siswa untuk menolak segala bentuk bullying serta mendukung terciptanya budaya saling menghargai. Lorong sekolah yang sebelumnya tampak biasa kini berubah menjadi ruang edukatif penuh warna.
M. Adib Taufiqurrohman menjelaskan bahwa melalui media seni, pesan moral disampaikan secara menarik dan mudah dipahami oleh anak-anak.
“Media seni dapat menjadi cara mendemontrasikan upaya untuk mencegah terjadi bullying yang lebih efektif karena pesan moral yang termuat mudah dipahami dan menarik,” jelas M. Adib Taufiqurrohman
Berbagai ilustrasi seperti simbol larangan, ekspresi emosi, serta tulisan “Stop Bullying” menghiasi dinding, memperkuat pesan visual agar mudah diingat oleh seluruh warga sekolah.
Antusiasme siswa terlihat jelas selama kegiatan berlangsung. Dengan penuh semangat, mereka menunjukkan kreativitas sekaligus kepedulian terhadap isu sosial yang sering terjadi di lingkungan pendidikan.
Keterlibatan langsung ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama dalam menjaga keharmonisan di sekolah.
Sementara Hesti Kumalasari, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan tidak hanya memperindah lingkungan sekolah, tetapi juga membangun karakter siswa sejak dini.
“Kami ingin siswa memahami bahwa bullying bukan hanya tindakan yang menyakiti, tetapi juga sesuatu yang harus dicegah bersama,” ujarnya Hesti Kumalasari
Melalui kegiatan ini, diharapkan nilai-nilai anti bullying dapat tertanam kuat dalam kehidupan sehari-hari siswa. Mural tersebut kini menjadi pengingat visual yang terus mengajak seluruh warga sekolah untuk bersikap saling menghormati, peduli, dan menjunjung tinggi kebersamaan.
Gerakan ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara mahasiswa dan pihak sekolah dapat menghadirkan inovasi edukatif yang berdampak positif. Ke depan, diharapkan kegiatan serupa dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang ramah anak dan bebas dari perundungan.
Editor: Azis



