Mahasiwa gelar sosialisasi kepada karang taruna Desa Turus tentang kesehatan reproduksi, pada (30/7/2026)
Jatengx.com, Klaten – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Tim II Universitas Diponegoro di Desa Turus, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, pada (30/7/2026) menggelar sosialisasi kesehatan reproduksi. Kegiatan yang menyasar anggota Karang Taruna Desa Turus ini mengangkat tema “Tubuh dan Hak untuk Mengenal Diri: Memahami Kesehatan Reproduksi dalam Perspektif Gender.”
Mahasiswa mengawali kegiatan dengan memberikan pertanyak pematik kepada peserta.
“Mengapa kita nyaman membahas sakit gigi, tetapi malu membahas organ reproduksi?”. Tanya mahasiswa
Pembahasan mengenai kesehatan reproduksi sering kali dianggap sebagai sesuatu hal yang bersifat tabu. Padahal, organ reproduksi merupakan bagian dari tubuh manusia yang memegang peranan penting bagi tubuh dan dapat mengalami gangguan kesehatan sebagaimana organ tubuh lainnya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN berupaya menghadirkan ruang diskusi yang lebih terbuka dan netral agar kesehatan reproduksi dapat dipahami sebagai bagian dari pengetahuan mengenai tubuh, bukan menjadi persoalan yang dianggap tidak pantas dan sensitif dibahas.
Kesehatan Reproduksi Lebih dari Sekadar Seksualitas
Dalam sosialisasi tersebut, peserta diperkenalkan pada pemahaman bahwa kesehatan reproduksi tidak hanya berkaitan dengan hubungan seksual maupun kehamilan, tetapi juga bagaimana seseorang mengenal, memahami, dan bertanggung jawab atas alat reproduksi yang dimiliki.
Pemahaman ini kemudian diperdalam melalui pembahasan mengenai menstruasi. Menstruasi merupakan proses keluarnya darah dan jaringan dari lapisan dinding rahim melalui vagina karena tidak terjadi pembuahan. Dalam kegiatan tersebut juga ditekankan bahwa darah menstruasi bukanlah “darah kotor”, melainkan berasal dari lapisan rahim yang sebelumnya dipersiapkan tubuh untuk kemungkinan terjadinya kehamilan. Menstruasi adalah fase biologis yang normal bagi perempuan.
Peserta juga diberikan pengetahuan mengenai beberapa kondisi menstruasi yang masih tergolong normal dan kondisi seperti apa yang perlu mendapatkan pertolongan dari tenaga kesehatan.
Ketika “Kemaluan” Menjadi Sebuah Stigma
Sosialisasi tidak hanya menyentuh aspek biologis. Perspektif gender menjadi bagian yang ditekankan dalam pembahasan.
Sejak kecil, banyak orang terbiasa menggunakan istilah “kemaluan” untuk menyebut organ reproduksi. Istilah tersebut secara tidak langsung dapat menanamkan pemahaman bahwa organ reproduksi merupakan sesuatu yang memalukan, sehingga tidak pantas untuk dibicarakan.
Padahal, menyebut bagian tubuh dengan istilah yang tepat bukanlah sesuatu yang salah dan memalukan. Vagina, vulva, penis, dan testis merupakan bagian dari tubuh manusia yang dapat didiskusikan tanpa penghakiman dan stigma.
Dalam konteks tersebut, pendidikan kesehatan reproduksi tidak dimaksudkan untuk membicarakan isu seksual secara sembarangan. Sebaliknya, pengetahuan yang tepat dapat membantu untuk mengenal tubuh, merawatnya, memahami perubahan yang terjadi, serta menghormati tubuh orang lain.
Kesehatan Reproduksi adalah Hak Semua Orang
Salah satu pesan yang ditekankan dalam kegiatan ini adalah bahwa kesehatan reproduksi merupakan hak semua orang. Perempuan memiliki hak untuk dimengerti dan didengarkan, sementara laki-laki juga memiliki hak untuk mendapatkan ruang untuk belajar, bertanya, dan memahami isu kesehatan reproduksi.
Pembicaraan mengenai kesehatan reproduksi tidak semestinya hanya dibebankan kepada perempuan. Baik Perempuan maupun laki-laki memiliki peran yang sama dalam memahami kesehatan reproduksi dan memutus stigma.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN berharap pemahaman mengenai kesehatan reproduksi tidak berhenti pada ruang sosialisasi. Pengetahuan yang diperoleh dapat menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan berdiskusi mengenai tubuh dan kesehatan secara lebih sehat, terbuka, dan bertanggung jawab.
Sebab, tubuh tidak pernah meminta untuk ditabukan. Stigma dibentuk oleh masyarakat, dan karena itu stigma juga dapat diubah oleh masyarakat.
Perubahan tersebut dapat dimulai dari hal sederhana: berani mengenal, memahami, dan menghormati tubuh tanpa rasa malu, tanpa penghakiman.
Penulis: Dwi Rahayu, Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Undip
Editor: Azis



