Dua mahasiswa berfoto di pintu masuk wisata Gungung Taruwongso sesusai observasi wisata
Jatengx.com, Sukoharjo — Desa Watubonang, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo, memiliki berbagai potensi wilayah yang berasal dari kekayaan alam, sejarah, dan kehidupan masyarakatnya. Salah satunya adalah Gunung Taruwongso. Kawasan ini tidak hanya memiliki daya tarik dari sisi alam, tetapi juga menyimpan cerita sejarah dan nilai religi yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Sebagai bagian dari kegiatan pengembangan profil desa berdasarkan potensi wilayah, mahasiswa KKN Universitas Diponegoro melakukan observasi dan pendokumentasian terhadap Gunung Taruwongso. Kegiatan tersebut dilakukan untuk mengenali lebih jauh kondisi dan potensi kawasan, sekaligus mengumpulkan informasi mengenai sejarah dan cerita yang berkembang di masyarakat.
Gunung Taruwongso merupakan kawasan perbukitan yang sebagian wilayah utaranya berada di Desa Watubonang, sedangkan bagian selatannya masuk ke Desa Tawang dan Desa Ngreco, Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo.
Nama Taruwongso berasal dari kata taru yang berarti pohon dan wongso yang berarti buah. Nama tersebut menggambarkan sebuah gunung kecil yang diyakini dapat menghasilkan banyak buah apabila dikelola dengan baik. Gunung Taruwongso penampilkan penambilan yang indah, yaitu pengunjung dapat melihat panorama persawahan, permukiman warga, hingga pegunungan di kejauhan.
Mahasiswa menyampaikan pada kondisi cuaca yang cerah, Gunung Merapi dan Gunung Merbabu juga dapat terlihat dari kawasan ini. Lokasinya relatif mudah dijangkau dari pusat Kota Sukoharjo sehingga memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai salah satu tujuan wisata lokal.

Namun, daya tarik Taruwongso tidak hanya terlihat dari kondisi alamnya. Kawasan ini memiliki perjalanan panjang sebagai salah satu potensi wisata Desa Watubonang. Dahulu, Gunung Taruwongso dikenal cukup ramai dikunjungi masyarakat, terutama saat Hari Raya Idulfitri.
Berdasarkan catatan dalam Profil Desa Watubonang, puluhan ribu pengunjung dari berbagai daerah datang selama tiga hari pada masa Lebaran.
Tingginya jumlah pengunjung tersebut kemudian mendorong Pemerintah Desa Watubonang bersama lembaga desa untuk mengelola kawasan Gunung Taruwongso sejak tahun 1974. Pengelolaan dilakukan antara lain melalui penarikan karcis masuk selama masa Lebaran.
Pendapatan yang diperoleh digunakan untuk kebutuhan pemerintahan desa dan pembangunan, termasuk pembangunan sarana di kawasan Gunung Taruwongso. Pada masa itu, Taruwongso menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Desa (PAD) Watubonang.
Seiring berjalannya waktu, kondisi tersebut mengalami perubahan. Jumlah pengunjung mulai menurun sehingga pendapatan desa dari kawasan wisata ikut berkurang. Pandemi Covid-19 juga memberikan pengaruh terhadap aktivitas menurunnya aktivitas wisata di Taruwongso.
Terbengkalainya fasilitas karena sepinya pengunjung dan sedikit aktivitas di kawasan tersebut berdampak beberapa fasilitas yang ada membutuhkan perhatian dan perawatan.
Veronica Kezia Kristina Hutagalung menanyampaikan kesedihannya melihat potensi yang dapat menarik wisatawan dan menjadi roda perekonomian di Desa tidak lagi beroperasi. Ia menambahkan Selain panorama alam, kawasan ini menyimpan unsur sejarah dan religi yang membuatnya memiliki nilai lebih sebagai potensi wilayah Desa Watubonang.
Di lereng sebelah timur Gunung Taruwongso terdapat Makam Gedong Taruwongso yang dikenal sebagai makam Pangeran Banjaransari atau Ki Ageng Banjaransari. Sementara itu, di bagian utara terdapat Sendang Kopo yang juga memiliki cerita tersendiri dalam pengetahuan masyarakat setempat. Terdapat pula Watu Manten, sepasang batu yang menjadi salah satu bagian dari kawasan Taruwongso.

Gunung Taruwongso juga memiliki kaitan dengan sejarah perjuangan bangsa. Pada masa Agresi Militer Belanda II, wilayah di sekitar Gunung Taruwongso pernah digunakan sebagai tempat pengungsian sejumlah lembaga pemerintahan. Jejak tersebut menambah nilai sejarah yang dimiliki kawasan ini dan menunjukkan bahwa Taruwongso memiliki cerita yang lebih luas daripada sekadar potensi wisata alam.
Berbagai cerita tersebut memperlihatkan bahwa Taruwongso tidak hanya memiliki nilai dari sisi fisik wilayah. Keberadaan tempat-tempat bersejarah, cerita lokal, serta nilai religi yang berkembang di masyarakat menjadikan kawasan ini bagian dari identitas Desa Watubonang.
Potensi yang dimiliki Taruwongso masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah ketergantungan pada kunjungan saat momentum tertentu, terutama Lebaran.
Mahasiswa menjelaskan ketika jumlah pengunjung menurun, aktivitas ekonomi di sekitar kawasan juga ikut berkurang. Selain itu, keterbatasan promosi dan perawatan kawasan menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam upaya mengembangkan kembali potensi tersebut.
Meski demikian, upaya untuk menghidupkan kembali Gunung Taruwongso mulai dilakukan. Kegiatan bersih-bersih kawasan yang melibatkan pemerintah desa, masyarakat, mahasiswa, pelajar, relawan, dan aparat menjadi salah satu bentuk perhatian terhadap kondisi kawasan.
Potensi UMKM masyarakat juga dapat dikembangkan sebagai bagian dari aktivitas wisata sehingga keberadaan Taruwongso tidak hanya memberikan manfaat dari sisi pariwisata, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Melalui observasi dan pendokumentasian, potensi Gunung Taruwongso dapat diperkenalkan kembali sebagai bagian dari profil Desa Watubonang. Pengembangan potensi tersebut tidak hanya membutuhkan perawatan dan promosi, tetapi juga keterlibatan masyarakat agar Taruwongso dapat terus memiliki manfaat bagi desa.
Gunung Taruwongso pada akhirnya bukan sekadar kawasan perbukitan yang pernah ramai dikunjungi. Di dalamnya terdapat panorama alam, sejarah, nilai religi, serta cerita yang berkembang di tengah masyarakat.
Dengan mengenalkan kembali berbagai potensi tersebut, Taruwongso memiliki kesempatan untuk kembali dikenal sebagai salah satu bagian penting dari kekayaan wilayah Desa Watubonang.
Penulis: Veronica Kezia Kristina Hutagalung
Editor: Azis



