Mahasiswa berikan larutan MOL hasil fermentasi buah busuk yang diwadahi botol bekas kepada perwakilan masyarakat
Jatengx.com, Sragen — Siti Fatimah Cikal Sa’adah, mahasiswa Program Studi Kimia, Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro (UNDIP), melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) berupa pembuatan Mikroorganisme Lokal (MOL) dengan memanfaatkan buah afkir di Desa Wonorejo, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen.
Program ini memanfaatkan bahan yang sederhana dan mudah ditemukan, yaitu buah busuk atau buah afkir, air cucian beras, dan gula merah.
Mahasiswa menyampaikan buah afkir yang sudah tidak layak dikonsumsi dimanfaatkan sebagai sumber bahan organik. Sedangkan gula merah menjadi sumber energi bagi mikroorganisme selama proses fermentasi. Air cucian beras digunakan sebagai media cair sekaligus membawa bahan organik yang dapat menunjang pertumbuhan mikroorganisme.
Dari sisi kimia, pembuatan MOL berkaitan erat dengan proses fermentasi dan penguraian senyawa organik oleh mikroorganisme. Selama fermentasi berlangsung, komponen organik pada bahan mengalami perubahan menjadi senyawa yang lebih sederhana. Kondisi tersebut menjadi dasar terbentuknya larutan MOL yang selanjutnya dapat dimanfaatkan dalam pengelolaan bahan organik.
“Buah afkir yang biasanya langsung dibuang sebenarnya masih bisa dimanfaatkan. Dengan fermentasi sederhana, bahan tersebut dapat diolah menjadi MOL yang nantinya digunakan untuk membantu proses penguraian bahan organik,” ujarnya.

Dalam pembuatannya, buah afkir terlebih dahulu dipotong menjadi ukuran yang lebih kecil, kemudian dicampurkan dengan air cucian beras dan gula merah. Campuran tersebut difermentasi dalam wadah tertutup selama waktu tertentu agar mikroorganisme dapat berkembang dan proses penguraian bahan organik berlangsung.
MOL yang telah difermentasi dapat dimanfaatkan sebagai bioaktivator dalam pembuatan kompos, terutama untuk membantu mempercepat penguraian bahan-bahan organik seperti sisa sayuran, daun kering, maupun limbah organik rumah tangga lainnya. Sebelum digunakan, larutan MOL dapat diencerkan terlebih dahulu sesuai kebutuhan.
Melalui kegiatan ini, masyarakat tidak hanya dikenalkan pada cara pembuatan MOL, tetapi juga pada konsep sederhana fermentasi dan peran mikroorganisme dalam proses dekomposisi. Program tersebut sekaligus menunjukkan penerapan ilmu kimia dalam mengolah bahan yang tersedia di lingkungan menjadi sesuatu yang dapat digunakan kembali.
Pemanfaatan buah afkir sebagai bahan pembuatan MOL diharapkan dapat menjadi alternatif sederhana bagi masyarakat Desa Wonorejo dalam mengurangi limbah organik sekaligus mendukung proses pengolahan kompos secara lebih efektif.
Penulis: Siti Fatimah Cikal Sa’adah
Editor: Azis





