Kelompok KKN 108 UMP Karangkemiri kenalkan pengolahan sebuk jahe sebagai produk hasil panen jahe yang dilakukan BumDes.
Jatengx.com, Purbalingga – Desa Karangkemiri memiliki berbagai potensi lokal yang dapat dikembangkan menjadi produk unggulan desa, salah satunya adalah tanaman jahe. Melihat adanya potensi tersebut, Kelompok KKN 108 UMP Karangkemiri berkolaborasi bersama Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Karangkemiri dalam mengembangkan jahe menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai salah satu produk usaha desa.
Gagasan pembuatan produk olahan jahe ini berawal dari adanya permintaan dari pihak BUMDes yang sedang mengembangkan tanaman jahe melalui Kelompok Wanita Tani (KWT) Karangkemiri.
Ketua BUMDes menyampaikan bahwa kegiatan penanaman jahe di KWT Karangkemiri baru mulai dilakukan, namun hingga saat ini masih terdapat pertanyaan mengenai pemanfaatan hasil panen tersebut agar dapat menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
“Di KWT Karangkemiri kami baru mulai menanam jahe, tetapi belum tahu akan dijadikan produk apa. Mungkin dari anak-anak KKN ada usul untuk pembuatan produk,” ujar Ketua BUMDes Karangkemiri.
Menanggapi kebutuhan tersebut, Kelompok KKN 108 UMP Karangkemiri kemudian mengusulkan pengolahan jahe menjadi produk serbuk jahe. Pemilihan produk ini didasarkan pada pertimbangan bahwa jahe merupakan bahan yang cukup mudah diolah menjadi produk minuman, memiliki karakteristik yang khas, serta dapat dikembangkan dalam bentuk yang lebih praktis dan memiliki daya simpan lebih baik dibandingkan jahe segar.
Produk yang kemudian dikembangkan diberi konsep “Jahe Berdaya”, sebagai bentuk pemanfaatan potensi pertanian lokal sekaligus upaya mendorong BUMDes dan masyarakat untuk melihat tanaman jahe tidak hanya sebagai hasil pertanian, tetapi juga sebagai bahan baku yang dapat dikembangkan menjadi produk olahan bernilai ekonomis.
Dalam proses pembuatannya, jahe terlebih dahulu dibersihkan dan diolah hingga menghasilkan sari jahe melalui proses pemerasan. Sari jahe tersebut kemudian digunakan sebagai bahan utama dalam pembuatan serbuk jahe.
Salah satu komposisi yang digunakan dalam proses pengembangan produk ini adalah perbandingan 1:1 antara sari jahe hasil perasan dengan gula. Artinya, jumlah gula yang digunakan disesuaikan dengan jumlah sari jahe yang telah diperoleh. Perbandingan tersebut digunakan sebagai dasar formulasi awal untuk menghasilkan rasa jahe yang tetap terasa dengan perpaduan rasa manis yang sesuai.
Proses pengolahan dilakukan dengan memperhatikan tahapan pembuatan agar sari jahe dan gula dapat tercampur dengan baik hingga menghasilkan bentuk serbuk.
Setelah melalui proses pemasakan dan pengolahan, produk kemudian didinginkan dan disiapkan untuk tahap pengemasan. Tahapan tersebut menjadi bagian penting dalam menghasilkan produk yang lebih praktis untuk dikonsumsi sekaligus memiliki tampilan yang lebih siap untuk dikembangkan sebagai produk BUMDes.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memberikan usulan produk, tetapi juga turut membantu memberikan gambaran mengenai bagaimana potensi jahe yang sedang dikembangkan oleh KWT dapat diarahkan menjadi sebuah produk olahan.
“Pengembangan Jahe Berdaya diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi BUMDes Karangkemiri dalam mengembangkan produk berbasis potensi lokal dan membuka peluang usaha baru bagi masyarakat desa,” ujar Alif Akmal Baihaqi.
Kegiatan ini juga menjadi bentuk kolaborasi antara mahasiswa KKN dengan masyarakat dalam mengidentifikasi potensi yang tersedia di desa dan mencari alternatif pemanfaatannya.
Dengan adanya inovasi pengolahan jahe, hasil tanaman yang nantinya dihasilkan oleh KWT Karangkemiri tidak hanya dapat dimanfaatkan dalam bentuk bahan mentah, tetapi memiliki peluang untuk diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
Ke depannya, produk Jahe Berdaya masih dapat dikembangkan lebih lanjut, baik dari segi formulasi, cita rasa, kemasan, identitas produk, maupun strategi pemasaran. Dengan pengembangan yang berkelanjutan, produk olahan jahe ini diharapkan dapat menjadi salah satu bentuk usaha yang mampu mendukung pemberdayaan masyarakat sekaligus memperkuat potensi ekonomi lokal Desa Karangkemiri.
Melalui semangat kolaborasi antara Kelompok KKN 108 UMP Karangkemiri, BUMDes, dan KWT Karangkemiri, “Jahe Berdaya” menjadi salah satu langkah sederhana dalam mengubah potensi lokal menjadi peluang. Dari tanaman yang baru mulai dibudidayakan, lahir sebuah gagasan untuk menciptakan produk yang diharapkan dapat memberikan manfaat dan nilai ekonomi bagi masyarakat Desa Karangkemiri.
Penulis: Kelompok KKN 108 UMP Karangkemiri
Editor: Azis



