
Sukoharjo — Kantor Desa Bekonang, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, merupakan bangunan yang telah berdiri sejak lama dan belum mengalami pembaruan secara menyeluruh. Peremajaan yang dilakukan selama ini masih terbatas pada aspek interior, sehingga belum mampu mengakomodasi kebutuhan ruang dan pelayanan secara optimal. Kondisi bangunan yang sudah tua turut dirasakan masyarakat mempengaruhi kualitas pelayanan, mengingat keterbatasan fasilitas dan tata ruang yang kurang mendukung, termasuk belum tersedianya fasilitas pojok baca sebagai sarana literasi masyarakat serta area parkir yang memadai. Menjawab persoalan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UNDIP Tim II menggagas program yang saling berkesinambungan, yakni redesain Kantor Desa Bekonang serta optimalisasi dan rekomendasi fasilitas pojok baca sebagai ruang literasi masyarakat.
Program Redesain Kantor Desa Bekonang yang diinisiasi oleh Hemaeda Nizar Radhistya dari Fakultas Teknik, Program Studi Arsitektur. Berdasarkan hasil diskusi dengan Sekretariat Desa Bekonang, teridentifikasi kebutuhan akan perencanaan redesain kantor desa yang lebih fungsional dan sesuai dengan kebutuhan perangkat desa, termasuk potensi pembangunan kantor desa baru di lokasi yang lebih strategis, yaitu di tengah pemukiman, agar aksesibilitas dan kualitas pelayanan kepada masyarakat dapat meningkat.
Proses redesain diawali dengan koordinasi dan diskusi kebutuhan bersama pemerintah desa, dilanjutkan dengan survei kebutuhan ruang serta site visit untuk pengukuran lahan. Hemaeda kemudian menyusun mood board dan studi layout sebagai acuan konsep desain, sebelum masuk ke tahap pembuatan desain 2D dan visualisasi 3D. Rancangan tersebut turut dilengkapi dengan 3D visual render, sehingga pemerintah desa dapat memperoleh gambaran menyeluruh mengenai wajah baru Kantor Desa Bekonang yang direncanakan akan digunakan pada periode pemerintahan Kepala Desa yang baru.
Rancangan Kantor Desa Bekonang yang baru ini turut mengakomodasi fasilitas perpustakaan, yang menjadi titik temu antara program kerja Hemaeda dengan program literasi yang dijalankan secara berkesinambungan oleh Minhah Syahidah Ahmad dan Marritza Rania Fellisha.
Minhah dari Sekolah Vokasi, Program Studi Bahasa Asing Terapan, dan Lisha dari Fakultas Ilmu Budaya, Program Studi Sastra Indonesia, bersama-sama menjalankan program optimalisasi pojok baca sebagai sarana literasi masyarakat. Keduanya menyoroti bahwa Desa Bekonang belum memiliki fasilitas umum yang memadai untuk meningkatkan minat baca masyarakat, dengan koleksi bacaan yang masih terbatas serta minat literasi anak-anak yang masih rendah, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris.
Sebagai solusi jangka pendek, pojok baca sementara diadakan dan dilaksanakan di Balai Latihan Kerja (BLK) Desa Bekonang pada 9–13 Agustus 2026. Fasilitas ini dipindahkan ke Balai Desa Bekonang pada tanggal 14 Agustus 2026, hingga pada akhirnya, apabila pembangunan kantor desa baru telah selesai, pojok baca akan dipindahkan kembali ke ruang perpustakaan di kantor desa baru sesuai dengan rancangan yang telah disusun oleh Hemaeda.
Kemudian, pada 10 Agustus 2026 lalu, telah menyerahkan hasil redesain Kantor Desa Bekonang dari Hemaeda, bersamaan dengan penyerahan booklet katalog serta rekomendasi untuk perpustakaan Balai Desa Bekonang yang baru dari Minhah dan Lisha kepada Pemerintah Desa Bekonang. Booklet tersebut memuat rekomendasi kegiatan yang dapat diselenggarakan di perpustakaan baru, seperti English Corner, sesi mendongeng, pojok baca, workshop menulis, dan kegiatan literasi lainnya, serta rekomendasi koleksi buku yang dapat disediakan di perpustakaan desa.
Ketiga rangkaian program ini menunjukkan bagaimana perencanaan ruang fisik dan pengembangan literasi dapat berjalan beriringan: rancangan Kantor Desa Bekonang yang baru dari Hemaeda menyediakan ruang bagi perpustakaan desa, sementara program Minhah dan Lisha mengisi ruang tersebut dengan konten literasi dwibahasa serta rekomendasi pengelolaan perpustakaan ke depan. Melalui program ini, mahasiswa KKN berharap Kantor Desa Bekonang yang baru tidak hanya menjadi pusat pelayanan administratif, tetapi juga ruang literasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja, secara berkelanjutan.
Penulis:
Hemaeda Nizar Radhistya dari Universitas Diponegoro, Fakultas Teknik, Program Studi Arsitektur
Minhah Syahidah Ahmad dari Universitas Diponegoro, Sekolah Vokasi, Program Studi Bahasa Asing Terapan
Marritza Rania Fellisha dari Universitas Diponegoro, Fakultas Ilmu Budaya, Program Studi Sastra Indonesia





