
KLATEN — Pekarangan rumah yang selama ini belum dimanfaatkan mulai dilirik sebagai ruang produktif oleh warga Dukuh Kajen, Desa Dalangan, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten. Sekitar 50 ibu-ibu mengikuti pelatihan budidaya hidroponik yang digelar mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS), Selasa (28/7/2026).
Bertempat di rumah Ibu Noni, kegiatan tersebut memperkenalkan teknik bercocok tanam tanpa menggunakan tanah. Bagi warga Dukuh Kajen, hidroponik menjadi metode baru karena sebelumnya mereka belum pernah mencoba teknik budidaya tersebut.
Mahasiswa KKN UNS tidak hanya memberikan penjelasan mengenai konsep hidroponik, tetapi juga mengajak peserta melihat dan mempraktikkan langsung proses penerapannya. Materi yang disampaikan meliputi pengertian dan sejarah hidroponik, keunggulan dan kekurangan, jenis-jenis sistem hidroponik, media tanam, tahapan budidaya, hingga pengelolaan nutrisi.
Salah satu metode yang diperkenalkan adalah wick system atau sistem sumbu. Metode ini dipilih karena relatif sederhana dan dapat diterapkan di lingkungan rumah dengan menggunakan peralatan yang mudah ditemukan.
Menariknya, instalasi hidroponik dalam kegiatan tersebut memanfaatkan botol plastik bekas. Sebanyak 150 botol bekas disiapkan sebagai wadah budidaya dan dibagikan kepada warga. Botol tersebut dipadukan dengan kain flanel sebagai sumbu, rockwool, bibit tanaman, air, serta nutrisi hidroponik.
Sawi dan selada menjadi tanaman yang digunakan dalam praktik awal. Setelah kegiatan berlangsung, warga juga mulai mencoba menanam bayam menggunakan media yang telah disiapkan.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang pelatihan. Warga aktif bertanya dan menunjukkan ketertarikan untuk mencoba metode hidroponik di rumah masing-masing. Salah satu hal yang menarik perhatian warga adalah metode tersebut tidak membutuhkan tanah dan dapat diterapkan pada pekarangan dengan lahan terbatas.
Salah seorang peserta bahkan menanyakan kemungkinan penggunaan air tajin sebagai pengganti nutrisi A dan B yang biasa digunakan dalam budidaya hidroponik. Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa warga mulai memikirkan cara menerapkan hidroponik dengan memanfaatkan sumber daya yang mudah diperoleh dan lebih terjangkau.
Setelah demonstrasi selesai, warga membawa perlengkapan yang telah dibagikan untuk dipraktikkan di rumah masing-masing. Setiap peserta memperoleh botol bekas, kain flanel, dan bibit tanaman untuk melanjutkan proses budidaya secara mandiri.
Bagi sebagian warga, praktik tersebut menjadi pengalaman baru yang sekaligus menghadirkan tantangan dalam perawatan tanaman. Losi, salah satu warga Dukuh Kajen, mengaku tertarik mencoba hidroponik setelah mengikuti pelatihan. Namun, kondisi kesehatan membuatnya baru dapat mempraktikkannya beberapa waktu setelah kegiatan.
“Kemarin saya tertarik mencoba, tetapi karena sedang sakit, sehingga saya baru melakukan praktik baru-baru ini,” ujar Losi.
Pengalaman lain disampaikan Sri. Ia telah mencoba merawat tanaman hidroponik di rumah, tetapi tanaman yang dibudidayakannya sempat layu.
“Saya sudah melakukan praktik, tetapi tanamannya layu, mungkin karena kebanyakan memberi nutrisi,” ungkap Sri.
Kendala tersebut menjadi bagian dari proses belajar warga. Dalam pemantauan setelah kegiatan, beberapa tanaman mengalami kematian akibat penempatan yang kurang sesuai dan pemberian nutrisi yang berlebihan. Namun, sebagian tanaman lainnya tetap tumbuh dan terus dirawat oleh warga.
Melalui praktik tersebut, warga mulai memahami bahwa keberhasilan budidaya hidroponik tidak hanya bergantung pada media tanam, tetapi juga pada pengaturan air, nutrisi, pH, TDS, pencahayaan, serta penempatan tanaman.
Mahasiswa KKN UNS turut memberikan pengenalan mengenai pengukuran pH dan TDS serta teknik perawatan tanaman. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi warga untuk melanjutkan budidaya hidroponik secara mandiri setelah kegiatan KKN berakhir.
Program hidroponik ini pada tahap awal tidak semata-mata diarahkan untuk menghasilkan sayuran bernilai ekonomi. Hasil budidaya diharapkan dapat dimanfaatkan terlebih dahulu untuk memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga warga.
Namun, apabila dikembangkan secara berkelanjutan, hidroponik juga memiliki peluang untuk menjadi kegiatan produktif yang memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
Selain aspek budidaya, penggunaan botol plastik bekas menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut. Barang yang sebelumnya tidak digunakan kembali dimanfaatkan sebagai wadah tanaman. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa kegiatan bercocok tanam tidak selalu membutuhkan peralatan yang mahal.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN UNS berharap warga Dukuh Kajen dapat terus memanfaatkan pekarangan rumah sebagai ruang produktif. Pengetahuan mengenai penyemaian, penanaman, pemberian nutrisi, pengukuran pH dan TDS, hingga perawatan tanaman diharapkan dapat terus diterapkan secara mandiri.
Dari pekarangan yang sebelumnya dibiarkan kosong, warga kini memiliki alternatif untuk menumbuhkan sayuran dengan cara yang sederhana. Hidroponik pun tidak lagi sekadar menjadi materi pelatihan, tetapi menjadi keterampilan baru yang dapat terus dicoba dan dikembangkan dari rumah.





