Mahasiswa sampaikan edukasi menggunakan pendekatan psikolog lingkungan dan sosial kepada masyarakat untuk membiasakan memilah sampah sebelum dibuang
Jatengx.com, Batang — Mengetahui bahwa sampah perlu dipilah belum tentu membuat seseorang langsung terbiasa melakukannya. Kebiasaan yang telah berlangsung lama, kondisi lingkungan, serta perilaku orang-orang di sekitar dapat memengaruhi keputusan seseorang dalam mengelola sampah.
Persoalan perilaku tersebut menjadi perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (Undip) di Desa Terban, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang. Melalui program TERBAN SIRKULAR: Sinergi Inovasi Rumah Tangga Kelola Limbah untuk Kelola Lingkungan melalui edukasi perilaku peduli lingkungan dengan pendekatan psikologi lingkungan dan sosial.
“Sebagai mahasiswa Psikologi, saya melihat bahwa edukasi pemilahan sampah perlu dirancang tidak hanya untuk meningkatkan pengetahuan, tetapi juga untuk mendorong perubahan perilaku,” ujar mahasiswa pelaksana program.
Program tersebut dilaksanakan secara bertahap pada 1–7 Agustus 2026. Tahap awal dilakukan dengan menggali informasi mengenai kebiasaan masyarakat dalam mengelola dan memilah sampah.
Informasi tersebut kemudian digunakan sebagai dasar untuk menyusun materi edukasi yang disesuaikan dengan kondisi masyarakat. Pendekatan itu dilakukan agar pesan mengenai pemilahan sampah tidak berhenti sebagai informasi, tetapi dapat dikaitkan dengan pengalaman warga dalam kehidupan sehari-hari.
Materi selanjutnya dituangkan dalam modul pemilahan sampah dengan bahasa sederhana. Modul tersebut memuat informasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, mengenali jenis sampah, serta memahami pemilahan sebagai salah satu bentuk perilaku peduli lingkungan.
Dalam program tersebut, mahasiswa menggunakan pendekatan psikologi lingkungan untuk melihat hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan. Lingkungan dapat memengaruhi perilaku seseorang, sementara perilaku manusia juga berpengaruh terhadap kondisi lingkungan.
Pendekatan psikologi sosial digunakan untuk melihat pengaruh lingkungan sosial terhadap pembentukan kebiasaan. Perilaku orang-orang di sekitar dapat menjadi faktor yang mendukung, tetapi juga dapat menjadi hambatan ketika seseorang mulai mencoba membangun kebiasaan baru.
Salah satu kondisi yang ditemukan di Desa Terban adalah kebiasaan sebagian masyarakat membuang sampah secara langsung tanpa memilahnya terlebih dahulu.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perubahan perilaku tidak cukup hanya dilakukan melalui penyampaian informasi. Ketika sebuah kebiasaan telah berlangsung dalam waktu lama, diperlukan proses agar pengetahuan baru dapat diterapkan menjadi perilaku sehari-hari.
Atas dasar itu, modul yang disusun mahasiswa tidak hanya dirancang sebagai media edukasi selama kegiatan berlangsung. Modul juga diharapkan dapat menjadi pengingat yang dapat digunakan kembali masyarakat ketika mulai menerapkan pemilahan sampah dari rumah.
Pendekatan tersebut menempatkan masyarakat bukan sekadar sebagai penerima informasi, tetapi sebagai pihak yang diharapkan dapat mengenali kebiasaan pengelolaan sampah di lingkungan masing-masing dan secara bertahap melakukan perubahan.
Program TERBAN SIRKULAR tidak diarahkan semata-mata untuk memperkenalkan jenis-jenis sampah. Lebih jauh, edukasi tersebut berupaya membangun pemahaman bahwa pengelolaan sampah merupakan bagian dari perilaku sehari-hari dan membutuhkan dukungan lingkungan sosial.
Ketika perilaku memilah sampah dilakukan oleh individu dan mendapat dukungan dari lingkungan sekitarnya, kebiasaan tersebut memiliki peluang untuk lebih mudah dipertahankan.
Bagi mahasiswa KKN, kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang untuk menerapkan perspektif psikologi dalam melihat persoalan lingkungan. Persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan tempat pembuangan atau metode pengolahan, tetapi juga dengan perilaku manusia yang terbentuk dari pengetahuan, kebiasaan, lingkungan, dan interaksi sosial.
Melalui program tersebut, edukasi pemilahan sampah diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi masyarakat Desa Terban untuk mulai membangun kebiasaan pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga.
Sebab, perubahan lingkungan tidak selalu harus dimulai dari tindakan besar. Namun, dapat berawal dari keputusan sederhana yang dilakukan berulang kali seperti memilah sampah sebelum membuangnya.
Penulis: Anindita Patworo Widowati
Editor: Azis



