
Sukoharjo — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro atas nama Muhammad Hanin Habiburrahman dari program studi Statistika yang bertugas di Desa Majasto menyusun profil lengkap Kawasan Wisata Bumi Arum, kompleks makam Ki Ageng Sutawijaya yang menjadi salah satu tujuan ziarah religi di Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo. Kegiatan ini berlangsung selama masa penugasan KKN, yaitu 9 Juli hingga 19 Agustus 2026, sebagai bagian dari program kerja yang mendukung capaian Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4 tentang pendidikan berkualitas, nomor 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, serta nomor 11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan, di bawah payung program DIKTISAINTEK Berdampak.
Bumi Arum terletak di puncak bukit yang oleh masyarakat setempat disebut Gunung Majasto atau Nggunung, tepat di tengah Desa Majasto. Kawasan ini dikenal luas sebagai tempat dimakamkannya Ki Ageng Sutawijaya, atau Eyang Sutowijoyo, tokoh yang dalam tradisi lisan masyarakat dipercaya sebagai perintis perkembangan Desa Majasto sekaligus penyebar agama Islam di wilayah Solo Raya. Saat ini kawasan tersebut berstatus sebagai Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) dan telah ditetapkan sebagai kawasan wisata religi ziarah dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sukoharjo.
Alasan utama penyusunan profil ini adalah untuk mendokumentasikan jejak sejarah, religi, dan tradisi yang selama ini hanya diwariskan secara lisan oleh masyarakat, sekaligus menyediakan rujukan yang dapat digunakan Pemerintah Desa Majasto maupun pengelola kawasan dalam memperkenalkan Bumi Arum kepada wisatawan dan peziarah secara lebih luas. Berdasarkan hasil observasi disimpulkan bahwa kekayaan sejarah dan keunikan kawasan ini berpotensi besar sebagai daya tarik wisata religi, namun belum terdokumentasi secara sistematis dalam satu media yang mudah diakses publik.
Untuk menyusun profil tersebut, metode penelusuran lapangan serta wawancara dengan juru kunci, Panitia Makam Bumi Arum yang beranggotakan 11 orang, dan tokoh masyarakat yang memahami tradisi lisan setempat. Data yang terkumpul kemudian dirangkum dalam booklet berisi sejarah kawasan, keunikan makam, peninggalan situs, fasilitas, aktivitas ekonomi warga, kalender kegiatan budaya, hingga informasi lokasi dan akses.
Dari hasil penelusuran, sejarah Bumi Arum tidak dapat dilepaskan dari kisah perjalanan hidup Eyang Sutowijoyo yang, menurut tradisi lisan, bermula sejak runtuhnya Kerajaan Majapahit hingga pertemuannya dengan Sunan Kalijaga di Bayat. Setelah menetap di Majasto, beliau mendirikan Padepokan Wali Selawe dan membangun Masjid Majasto pada 1478 sebagai pusat dakwah, sekaligus berperan besar dalam pengembangan pertanian melalui pembukaan lahan sawah dan pembangunan sumber air seperti Sumur Gedhe.
Daya tarik yang paling menonjol dari kawasan ini adalah keunikan galian makam yang hanya berkedalaman sekitar 60 sentimeter, jauh lebih dangkal dari makam pada umumnya, namun sama sekali tidak menimbulkan bau. Fenomena inilah yang melahirkan nama Bumi Arum, yang secara harfiah berarti tanah yang harum. Selain kompleks makam utama, kawasan ini juga menyimpan sejumlah peninggalan sejarah lain seperti Masjid Tiban, empat sendang kuno, tiga sumur peninggalan masa lalu, Watu Mbah Bisu, hingga lima pusaka yang diyakini sebagai penjaga Gunung Majasto.
Untuk menunjang kunjungan, kawasan Bumi Arum kini dilengkapi sejumlah fasilitas seperti museum penyimpanan benda bersejarah, toilet umum, lapangan parkir, taman, serta papan informasi wisata religi. Aktivitas ziarah yang berlangsung sepanjang tahun juga mendorong tumbuhnya kegiatan ekonomi warga di sekitar kawasan, mulai dari kuliner di sepanjang koridor Jalan Sutawijaya hingga sentra busana yang menjadikan Majasto dikenal dengan tagline “Desa Wisata Religi & Sentra Busana”. Selain ziarah rutin, masyarakat juga menggelar rangkaian tradisi tahunan seperti Haul Ki Ageng Sutawijaya, Kirab Budaya, Bersih Dusun, hingga Lebaran Ketupat, yang menjadi media pewarisan nilai spiritual dan historis kawasan kepada generasi muda.
Profil wisata tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai dokumentasi kegiatan, melainkan menjadi rujukan awal bagi Pemerintah Desa Majasto dan instansi terkait dalam mendukung proses penetapan status cagar budaya, merancang program pengembangan wisata, serta memperkenalkan Bumi Arum sebagai destinasi wisata religi yang lebih dikenal luas oleh masyarakat di luar Desa Majasto.
Penulis: Muhammad Hanin Habiburrahman



