
Jatengx.com, Gebugan — Mahasiswa Universitas Diponegoro ( UNDIP ) yang tergabung dalam program Kuliah Kerja Nyata atau KKN-T 84 mengadakan edukasi pembuatan eco enzyme bagi ibu-ibu PKK Desa Gebugan, Kabupaten Semarang, pada Minggu, 2 Agustus 2026. Melalui kegiatan bertajuk “Mengubah Sampah Dapur Jadi Cairan Serba Guna”, mahasiswa mengajak ibu-ibu PKK memanfaatkan limbah organik rumah tangga menjadi cairan serbaguna yang bernilai guna dan bernilai ekonomi.
Kegiatan ini menyasar ibu-ibu PKK karena pengelolaan sampah organik dapat dimulai dari kebiasaan sederhana yang mereka temui setiap hari. Sisa sayur dan kulit buah, misalnya, tidak hanya dapat dibuang begitu saja, tetapi juga dapat diolah menjadi cairan yang bermanfaat bagi kebutuhan rumah tangga.
Alih-alih memulai kegiatan dengan penjelasan satu arah, mahasiswa KKN terlebih dahulu mengajak ibu-ibu PKK berbincang mengenai kebiasaan mereka mengelola sampah dapur sehari-hari. Ibu-ibu diberi pertanyaan sederhana mengenai jenis limbah organik apa saja yang paling sering dihasilkan di rumah dan bagaimana biasanya limbah tersebut ditangani.
Pertanyaan tersebut menjadi pengantar bagi mahasiswa untuk mengenalkan konsep dasar eco enzyme. Dengan menggunakan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, mahasiswa menjelaskan bahwa eco enzyme merupakan hasil fermentasi dari sampah organik, gula, dan air dengan perbandingan tertentu, yang setelah melalui proses selama beberapa bulan dapat menghasilkan cairan multifungsi.
Salah satu materi yang kemudian dibahas adalah tahapan pembuatan eco enzyme, mulai dari pemilihan bahan, takaran komposisi, hingga proses fermentasi dan cara pemanenan yang benar. Ibu-ibu PKK diberikan sejumlah contoh bahan yang dapat digunakan dan diminta menentukan mana yang paling mudah didapatkan di lingkungan rumah masing-masing. Mereka juga diberi kesempatan untuk menjelaskan bahan-bahan yang biasa mereka miliki dari sisa memasak sehari-hari.
Suasana kegiatan menjadi semakin hidup ketika ibu-ibu mulai memberikan jawaban dan pendapat. Mahasiswa KKN tidak hanya memberikan penjelasan teori, tetapi mengajak ibu-ibu memahami manfaat di balik setiap tahapan proses. Dari proses tersebut, ibu-ibu belajar bahwa sampah organik yang selama ini dianggap tidak berguna sebenarnya dapat diolah menjadi cairan serbaguna yang bernilai ekonomi.
Setelah membahas tahapan pembuatan, mahasiswa mengarahkan pembahasan pada pemanfaatan eco enzyme dalam kehidupan sehari-hari. Ibu-ibu diperkenalkan pada gagasan bahwa eco enzyme dapat digunakan sebagai pupuk cair alami untuk tanaman, pembersih rumah tangga, hingga disinfektan alami. Menurut mahasiswa, yang perlu dibangun sejak awal adalah kebiasaan mengelola limbah organik secara konsisten dan memiliki tujuan yang jelas atas hasil olahannya.
“Membuat eco enzyme tidak harus dimulai dari hal yang rumit. Ibu-ibu bisa memulainya dari kebiasaan sederhana, seperti mengumpulkan sisa sayur dan kulit buah, lalu mengolahnya menjadi cairan yang bermanfaat,” ujar Marsha dalam kegiatan tersebut.
Untuk memastikan ibu-ibu tidak hanya mendengarkan, mahasiswa memberikan ruang bagi mereka untuk bertanya dan menanggapi contoh yang diberikan. Interaksi dua arah tersebut membuat materi lebih mudah dikaitkan dengan pengalaman ibu-ibu sehari-hari. Peserta pun terlihat antusias selama kegiatan, baik ketika menjawab pertanyaan maupun saat menyampaikan pengalaman pribadi dalam mengelola sampah rumah tangga.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk penerapan keilmuan mahasiswa KKN dari bidang Akuntansi Perpajakan dalam konteks pengabdian kepada masyarakat. Pengetahuan mengenai pengelolaan sampah rumah tangga yang pada praktiknya dapat dikaitkan dengan potensi ekonomi kreatif disederhanakan menjadi materi yang sesuai dengan kebutuhan ibu-ibu PKK. Fokus kegiatan bukan hanya pada teknis pembuatan, melainkan juga pada pembentukan pemahaman dasar pengelolaan keuangan usaha rumahan melalui produk eco enzyme.
Melalui edukasi tersebut, ibu-ibu PKK Desa Gebugan diharapkan mulai memahami bahwa mengelola limbah rumah tangga bukan berarti pekerjaan tambahan yang merepotkan. Pengelolaan sampah organik justru dapat mengajarkan cara memanfaatkan sesuatu yang dianggap tidak berguna menjadi cairan serbaguna yang bernilai, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun peluang ekonomi keluarga.
Di akhir kegiatan, mahasiswa mengajak ibu-ibu PKK untuk menerapkan kebiasaan yang telah dipelajari dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan sederhana seperti memilah sampah organik, membuat eco enzyme secara rutin, dan memanfaatkan hasilnya untuk kebutuhan rumah tangga diharapkan dapat terus dilakukan setelah kegiatan KKN selesai.
Bagi mahasiswa KKN Undip, kegiatan ini menjadi salah satu upaya menghadirkan edukasi yang tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi memberikan pengalaman belajar yang dapat diterapkan ibu-ibu dalam keseharian. Dari kebiasaan kecil dalam mengelola sampah rumah tangga, ibu-ibu Desa Gebugan diperkenalkan pada pentingnya pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan sekaligus berpotensi membuka peluang usaha rumahan.
Penulis : Marshaura Aisyahla Zahran
Editor : Marshaura Aisyahla Zahran






