Tiga Mahasiswa Prodi Teknik Sipil UPGRIS ikuti magang di PT PT Harmoni Jaya Sejahtera
Semarang, Jatengx.com – Tiga mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang (UPGRIS), yaitu Arif Arya Kusuma, Miftah Anditama, Risqullah Bhagaskara T.P memperoleh pengalaman langsung di dunia konstruksi melalui program magang di PT Harmoni Jaya Sejahtera (HJS). Kegiatan magang yang berlangsung pada 20 Januari hingga 3 April 2026 ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami penerapan ilmu teknik sipil dalam pelaksanaan proyek di lapangan.
Selama mengikuti kegiatan magang, mahasiswa mempelajari berbagai aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan jalan, drainase, pengukuran, pekerjaan tanah, hingga pengaspalan. Pengalaman tersebut memberikan gambaran nyata mengenai tahapan pelaksanaan konstruksi serta pentingnya koordinasi dan pengendalian mutu dalam suatu proyek.
Dalam pelaksanaan kegiatan magang, mahasiswa mendapatkan bimbingan lapangan dari Ripto, yang membantu memberikan arahan dan pemahaman mengenai aktivitas pekerjaan konstruksi. Melalui kegiatan pengamatan dan pembelajaran langsung, mahasiswa dapat mengenal proses kerja di lapangan sekaligus memahami tanggung jawab yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan proyek.
Pelajari Pekerjaan Drainase dan Konstruksi Jalan
Salah satu kegiatan yang dipelajari selama magang adalah pekerjaan drainase, termasuk penanganan material U-Ditch, pemasangan box culvert, pembuatan bekisting, serta pengamatan pekerjaan pengecoran saluran.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa mempelajari pentingnya ketepatan pengukuran, posisi pemasangan, dan elevasi agar konstruksi dapat berfungsi sesuai perencanaan. Pekerjaan drainase menjadi bagian penting dalam pembangunan infrastruktur karena berperan dalam mengalirkan air dan membantu mengurangi risiko genangan pada kawasan jalan.
Selain pekerjaan drainase, mahasiswa juga memperoleh pengalaman dalam mengamati tahapan konstruksi jalan, mulai dari pekerjaan tanah dasar (subgrade), Lapisan Pondasi Bawah (LPB), Cement Treated Base (CTB), hingga pekerjaan pengaspalan.
Pada tahap pengaspalan, mahasiswa mempelajari lapisan Asphalt Concrete Binder Course (AC-BC) dan Asphalt Concrete Wearing Course (AC-WC). Kedua lapisan tersebut memiliki fungsi berbeda dalam struktur perkerasan jalan. AC-BC berfungsi sebagai lapisan pengikat, sedangkan AC-WC merupakan lapisan aus yang menjadi permukaan jalan.
Melalui pengamatan tersebut, mahasiswa memperoleh pemahaman mengenai pentingnya urutan pelaksanaan pekerjaan, kondisi material, ketebalan lapisan, dan proses pemadatan dalam mendukung kualitas konstruksi jalan.
Mengenal Pengukuran dan Pengujian di Lapangan
Tidak hanya mengamati pekerjaan fisik, kegiatan magang juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mempelajari pengukuran menggunakan alat survei, seperti Total Station dan Theodolit.
Pengukuran dilakukan untuk memahami penentuan posisi serta elevasi pada pekerjaan konstruksi. Pengetahuan ini penting karena ketepatan pengukuran menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kesesuaian hasil pekerjaan dengan gambar dan perencanaan teknis.
Mahasiswa juga mempelajari pengujian California Bearing Ratio (CBR) lapangan yang digunakan untuk mengetahui daya dukung tanah dasar. Pengujian tersebut berkaitan dengan evaluasi kondisi tanah yang akan mendukung struktur perkerasan jalan.
Selain itu, mahasiswa mempelajari perhitungan kebutuhan material pada pekerjaan CTB. Kegiatan ini membantu mahasiswa memahami hubungan antara dimensi pekerjaan, kebutuhan material, dan pelaksanaan konstruksi di lapangan.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran di lapangan tidak hanya berkaitan dengan keterampilan menggunakan alat, tetapi juga kemampuan memahami data teknis dan menghubungkannya dengan kondisi pekerjaan yang sebenarnya. Dengan demikian, mahasiswa memperoleh bekal untuk memahami proses pengukuran, pengujian, serta pemeriksaan teknis yang diperlukan dalam pekerjaan konstruksi.
Pelajari Pekerjaan Utilitas dan Keselamatan Konstruksi
Dalam pelaksanaan pembangunan infrastruktur, pekerjaan tidak hanya berfokus pada jalan dan drainase. Keberadaan utilitas juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan agar berbagai fasilitas pendukung dapat berfungsi dengan baik.
Di samping aspek teknis, mahasiswa juga mempelajari penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) melalui kegiatan pengenalan keselamatan dan pengarahan HSE.
“Penerapan K3 menjadi bagian penting dalam pekerjaan konstruksi karena lingkungan proyek memiliki berbagai potensi bahaya. Oleh sebab itu, pemahaman mengenai prosedur keselamatan, penggunaan alat pelindung diri, serta kepatuhan terhadap arahan keselamatan perlu menjadi perhatian seluruh pihak yang terlibat,” ujar Arif Arya Kusuma.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa memperoleh gambaran bahwa keberhasilan proyek tidak hanya ditentukan oleh mutu hasil pekerjaan, tetapi juga oleh perhatian terhadap keselamatan tenaga kerja dan kondisi lingkungan proyek.
Bimbingan Lapangan Menjadi Bagian Penting dalam Proses Pembelajaran
Keberadaan pembimbing lapangan menjadi salah satu unsur penting dalam mendukung kegiatan magang. Melalui arahan pembimbing, mahasiswa dapat memahami aktivitas pekerjaan secara lebih terstruktur serta mengenali aspek teknis yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan konstruksi.
Bimbingan lapangan juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengembangkan sikap disiplin, ketelitian, tanggung jawab, dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan kerja. Hal tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa Teknik Sipil sebelum memasuki dunia kerja profesional.
Magang Menjadi Bekal Memasuki Dunia Kerja
Program magang di PT Harmoni Jaya Sejahtera memberikan pengalaman pembelajaran yang membantu mahasiswa memahami proses pelaksanaan konstruksi secara lebih menyeluruh. Berbagai kegiatan yang diamati menjadi kesempatan untuk mengenal pekerjaan teknis sekaligus memahami pentingnya ketelitian, tanggung jawab, komunikasi, dan koordinasi di lingkungan kerja.
Selain kegiatan teknis, mahasiswa juga mempelajari dokumentasi progres pekerjaan, termasuk pengamatan pemantauan proyek menggunakan drone. Dokumentasi tersebut memberikan gambaran mengenai perkembangan pekerjaan dan kondisi lapangan pada waktu tertentu.
Kegiatan magang ini sekaligus memperlihatkan pentingnya hubungan antara pendidikan tinggi dan dunia industri. Melalui pengalaman kerja secara langsung, mahasiswa dapat mengenali kebutuhan kompetensi di bidang konstruksi dan mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan.
Pengalaman magang diharapkan dapat membantu mahasiswa mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja, khususnya di bidang konstruksi. Pengetahuan yang diperoleh selama berada di lapangan menjadi pelengkap pembelajaran akademik yang telah diterima selama menempuh pendidikan di Program Studi Teknik Sipil UPGRIS.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa mendapatkan gambaran bahwa pekerjaan seorang tenaga teknik sipil membutuhkan perpaduan antara pemahaman teori, keterampilan teknis, kemampuan berkoordinasi, serta kesadaran terhadap mutu dan keselamatan kerja.





