Mahasiswa serahkan booklet bebas pajak kepada Kepala Desa
Jatengx.com, Sragen — Sekam padi yang selama ini kerap dibakar setelah musim panen coba dimanfaatkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II 127 Universitas Diponegoro (Undip). Melalui program “Gerakan Wonorejo Bebas Pajak: Revolusi Biopori Sekam Padi dan Trik Ampuh Pangkas PPN Belanja”, mahasiswa mengajak warga Desa Wonorejo, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen, mengelola limbah pertanian sekaligus lebih memahami pajak dalam transaksi sehari-hari.
Program yang digagas Anita Nurdhia Fadhilah dari Program Studi Akuntansi Perpajakan itu memadukan edukasi lingkungan dengan literasi perpajakan. Kegiatan tersebut ditujukan kepada petani, ibu rumah tangga, dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Sekam padi menjadi salah satu persoalan yang diangkat karena sebagian warga masih memilih membakarnya setelah panen. Kebiasaan tersebut dapat menghasilkan asap dan mengurangi potensi pemanfaatan sekam sebagai bahan yang lebih berguna.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa memperkenalkan pembuatan biopori berbasis sekam padi. Praktik dilakukan secara langsung di sejumlah titik agar warga tidak hanya memperoleh penjelasan, tetapi juga memahami cara penerapannya.
Selain persoalan lingkungan, program itu mengangkat literasi Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Warga diberikan edukasi mengenai cara membaca PPN pada nota belanja serta informasi mengenai pemanfaatan insentif fiskal yang tersedia sesuai ketentuan.
“Frasa ‘bebas pajak’ bukan berarti menghindari kewajiban, melainkan mengoptimalkan pengeluaran dan memanfaatkan insentif fiskal secara sah,” kata Anita.
Menurut dia, pengelolaan sekam dan pemahaman mengenai PPN dapat berjalan beriringan. Sekam yang sebelumnya dibakar dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengelolaan lingkungan, sedangkan pengetahuan mengenai PPN dapat membantu masyarakat lebih memahami pengeluaran dalam aktivitas belanja.
“Melalui biopori, sekam padi yang selama ini dibakar bisa diubah menjadi kompos yang bermanfaat, sementara pemahaman PPN membantu warga menjadi konsumen yang lebih cerdas,” ujar Anita.
Dalam pelaksanaannya, Anita juga menyusun booklet sebagai bahan pendamping sosialisasi. Materi tersebut memuat informasi mengenai pengelolaan sekam padi melalui biopori serta penjelasan sederhana mengenai PPN pada nota belanja.
Booklet tersebut mendapat respons baik dari masyarakat. Sejumlah titik biopori juga telah dipasang dan mulai dimanfaatkan. Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana bagi warga untuk mengenal alternatif pengelolaan sekam yang lebih bermanfaat.
Kepala Desa Wonorejo, Mulyono, mengapresiasi program tersebut. Menurut dia, kegiatan mahasiswa KKN memberikan wawasan baru kepada masyarakat, terutama dalam melihat limbah pertanian sebagai sesuatu yang masih dapat dimanfaatkan sekaligus mendorong efisiensi ekonomi rumah tangga.
Program tersebut selanjutnya diarahkan untuk terus dikembangkan melalui penambahan titik biopori, pemantauan secara berkala, serta sosialisasi lanjutan. Langkah itu diharapkan dapat menjaga keberlanjutan manfaat program bagi lingkungan dan masyarakat Desa Wonorejo.
Kegiatan ini sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera serta tujuan ke-13 tentang penanganan perubahan iklim.
Penulis: Anita Nurdhia Fadhilah
Editor: Tim KKN Desa Wonorejo



