
Sukoharjo, 31 Juli 2026 – Mahasiswa KKN Tim II Universitas Diponegoro, Gabriella Jeaniffer melaksanakan program pendampingan kepada BUMDes Sutawijaya, Desa Majasto, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo, melalui kegiatan analisis SWOT dan penyusunan rekomendasi strategi pengembangan usaha peternakan bebek. Kegiatan ini dilakukan untuk membantu pengelola memperoleh gambaran kondisi usaha sekaligus menentukan langkah pengembangan yang dapat diterapkan secara bertahap.
Unit usaha peternakan bebek BUMDes Sutawijaya merupakan salah satu usaha desa yang bergerak dalam bidang peternakan bebek petelur. Usaha tersebut pada awalnya dimulai dengan sekitar 300 ekor bebek dan sempat berkembang hingga lebih dari 800 ekor. Saat ini, jumlah bebek yang dikelola berada di kisaran 700 ekor dengan produk utama berupa telur bebek konsumsi berkualitas omega.
Dalam pelaksanaannya, pendampingan dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu observasi lapangan, wawancara dengan Kepala BUMDes, identifikasi kondisi usaha, penyusunan analisis SWOT, hingga perumusan rekomendasi strategi pengembangan usaha. Observasi dilakukan untuk melihat kondisi kandang, sistem pemeliharaan, proses produksi, dan aktivitas operasional, sedangkan wawancara digunakan untuk memperoleh informasi mengenai kondisi usaha, pemasaran, kendala, serta peluang pengembangan.
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, usaha peternakan bebek BUMDes Sutawijaya memiliki sejumlah potensi, terutama kualitas telur omega, pelanggan tetap, serta jaringan pemasaran yang telah menjangkau luar daerah. Produksi telur dalam kondisi normal dapat mencapai sekitar 500–600 butir per hari. Pemasaran juga telah menjangkau wilayah seperti Purwodadi dan melalui mitra usaha bahkan sampai ke Kalimantan.
Namun, usaha tersebut masih menghadapi beberapa tantangan. Kenaikan harga pakan dan penurunan harga jual telur menjadi salah satu kendala yang memengaruhi keseimbangan biaya produksi dan pendapatan. Selain itu, ketergantungan terhadap pakan pabrikan serta penurunan produksi ketika bebek memasuki masa mbodol turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam keberlanjutan usaha.
Melalui analisis SWOT, kekuatan utama usaha teridentifikasi pada kualitas telur omega dan jaringan pemasaran yang telah terbentuk, sedangkan kelemahan utamanya adalah ketergantungan terhadap pakan pabrikan. Dari sisi eksternal, tingginya permintaan telur bebek menjadi peluang pengembangan, sementara fluktuasi harga pakan dan harga telur menjadi salah satu ancaman bagi keberlangsungan usaha.
Berdasarkan hasil analisis tersebut, disusun beberapa rekomendasi strategi pengembangan usaha, yaitu memperkuat branding produk telur bebek omega, memperluas jaringan pemasaran, meningkatkan efisiensi biaya produksi, mengembangkan diversifikasi produk, mengoptimalkan sistem pencatatan produksi, serta mempertahankan hubungan dengan pelanggan tetap.
Dari beberapa strategi tersebut, penguatan branding produk telur bebek omega, perluasan jaringan pemasaran, dan peningkatan efisiensi biaya produksi menjadi strategi dengan tingkat prioritas tertinggi. Implementasinya dirancang secara bertahap agar dapat disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan pengelola BUMDes.
Program pendampingan ini menghasilkan beberapa luaran berupa dokumen identifikasi kondisi usaha, dokumen analisis SWOT, dokumen rekomendasi strategi pengembangan usaha, serta laporan hasil pendampingan. Selain itu, disusun pula rencana tindak lanjut yang mencakup branding produk dalam 1–3 bulan, perluasan pemasaran dalam 3–6 bulan, serta pengembangan diversifikasi produk dalam 6–12 bulan.
Keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs)
Kegiatan pendampingan BUMDes Sutawijaya dalam pengembangan usaha peternakan bebek turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi serta SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
Melalui penguatan branding, perluasan jaringan pemasaran, peningkatan efisiensi biaya produksi, dan pengembangan diversifikasi produk, kegiatan ini mendukung penguatan aktivitas ekonomi desa dan pengembangan usaha yang lebih berkelanjutan. Upaya optimalisasi pencatatan produksi dan efisiensi pengelolaan usaha juga sejalan dengan penerapan pola produksi yang lebih efektif dan bertanggung jawab.
Melalui kegiatan ini, diharapkan hasil analisis dan rekomendasi yang telah disusun dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pengurus BUMDes Sutawijaya dalam menentukan langkah pengembangan usaha peternakan bebek secara lebih terarah dan berkelanjutan.
Disusun oleh:
Gabriella Jeaniffer




