Mahasiswa dan anak-anak tunjukkan karya cerpen yang mereka tulis dipapan cerita sehatku
Jatengx.com, Sukoharjo – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro yang bertugas di Desa Pojok, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo, menggelar program edukasi bertajuk ” Cerita Sehatku: Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada Siswa di Salah satu Instansi Pendidikan Desa Pojok Melalui Kegiatan Menulis Cerita Pendek”.
Kegiatan yang menyasar sekitar 20 siswa di salah satu sekolah dasar Desa Pojok ini berlangsung pada Jumat (31/7) dan menghasilkan sebuah modul kumpulan cerita pendek (cerpen) karya siswa sebagai media edukasi perilaku hidup bersih dan sehat yang menyenangkan.
Kegiatan ini diinisiasi sebagai respons atas rendahnya penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di kalangan anak-anak Desa Pojok. Hadaya Nasywa menyampaikan edukasi PHBS untuk siswa sekolah dinilai masih minim media pembelajaran yang menarik dan mudah dipahami.
Melalui kegiatan menulis cerita pendek, mahasiswa KKN mengemas materi PHBS menjadi bahan ajar yang lebih ceria dan dekat dengan dunia anak-anak, sekaligus melatih kemampuan literasi mereka.
“Anak-anak ketika belajar PHBS biasanya tau melalui arahan atau perintah sehingga kurang menarik dan membuat anak kurang memahami. Saya mencoba memanfaatkan kegiatan cerita pendek sebagai bahan ajar yang lebih dekat dengan kehidupannya dan mendukung kemampuan literasinya, ujarnya.
Kegiatan diawali dengan pemaparan materi PHBS oleh anggota tim KKN, mencakup cuci tangan pakai sabun, jajan sehat, kebersihan diri, kebersihan lingkungan, hingga pola hidup sehat lainnya.
Selanjutnya, siswa dikenalkan pada dasar-dasar cerita pendek, mulai dari pengertian cerpen, ciri-cirinya yang sederhana dengan tokoh terbatas dan pesan moral di dalamnya, hingga unsur-unsur intrinsik, seperti tema, tokoh, alur, latar, dan amanat.
Siswa juga diberi penjelasan mengapa kemampuan menulis cerpen penting dipelajari karena untuk melatih kepekaan membaca dan menyimak, memahami nilai-nilai baik dalam sebuah cerita, serta melatih kemampuan menganalisis makna di baliknya.

Dalam pemaparannya, Hadaya Nasywa, mahasiswa Sastra Indonesia sebagai pelaksana program, menjelaskan bahwa kegiatan refleksi berupa menulis cerpen berbeda dari sekadar menulis bebas karena memiliki ciri dan aturan tertentu.
“Cerpen merupakan cerita pendek dengan alur yang sederhana dan lurus, jumlah tokoh yang terbatas biasanya hanya satu atau dua tokoh utama, latar tempat, waktu, dan suasana yang jelas, serta memuat pesan baik yang ingin disampaikan penulis kepada pembacanya.” jelasnya
Materi ini disampaikan lengkap dengan unsur-unsur intrinsik yang wajib ada dalam sebuah cerpen, yaitu tema, tokoh, alur, latar, dan amanat, serta alasan pentingnya belajar menulis cerpen bagi siswa.
Ia menekankan cerpen dapat berguna bagi siswa, yaitu untuk melatih kepekaan membaca dan menyimak, memahami nilai-nilai baik dalam sebuah cerita, serta melatih kemampuan menganalisis dan memahami maksud dari cerita tersebut.
Pada sesi praktik, siswa diajak mengisi kertas berwarna dengan memilih satu tema PHBS, seperti cuci tangan pakai sabun, jajan sehat, sikat gigi dan kebersihan diri, atau buang sampah pada tempatnya.
Setelah sesi praktik usai, siswa diberi kesempatan untuk menyusun cerita mereka sendiri mulai dari judul, tokoh, latar tempat dan waktu, masalah yang dihadapi tokoh, cara penyelesaiannya, hingga pesan yang ingin disampaikan.
Mahasiswa turut memberikan contoh cerpen berjudul “Kuku Bersih, Badan Sehat” sebagai gambaran sebelum siswa menulis cerita versi mereka sendiri. Antusiasme siswa terlihat sejak awal hingga akhir kegiatan, ditandai dengan semangat mereka menuangkan pengalaman sehari-hari ke dalam tulisan.

Hasil karya siswa kemudian disatukan menjadi modul berjudul “Cerita Sehatku”, berisi puluhan cerpen yang dikelompokkan ke dalam empat tema besar, yakni cuci tangan pakai sabun, kebersihan lingkungan, jajan dan makan sehat, serta olahraga dan istirahat yang cukup.
Naskah asli tulisan tangan siswa juga dipajang pada papan “Cerita Sehatku” di lingkungan sekolah sebagai bentuk apresiasi sekaligus media edukasi PHBS yang dapat terus dibaca oleh siswa lain.
Salah satu siswa berinisial A yang menjadi peserta kegiatan mengaku senang dapat menulis pengalamannya sendiri tentang hidup bersih dan sehat.
“Aku suka menulis cerita tentang cuci tangan, soalnya aku juga pernah lupa cuci tangan terus sakit perut. Sekarang aku jadi selalu ingat cuci tangan sebelum makan,” ujarnya.
Kepala intansi pendidikan Desa Pojok tersebut juga menyampaikan apresiasi atas kontribusi nyata para mahasiswa KKN.
“Kami sangat berterima kasih atas kehadiran adik-adik mahasiswa KKN. Program ini benar-benar memberikan media baru sebagai cara untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat untuk anak-anak di Desa Pojok. Kami berharap apa yang diajarkan bisa terus diterapkan secara berkelanjutan,” ungkapnya.
Kegiatan menulis cerita pendek bertema PHBS ini merupakan bagian dari rangkaian program Peningkatan Kualitas Hidup Masyarakat Desa Pojok di Bidang Kesehatan yang dijalankan oleh beberapa anggota kelompok KKN Tim II Undip di desa tersebut.
Modul “Cerita Sehatku” diharapkan dapat terus dimanfaatkan pihak sekolah sebagai salah satu metode edukasi kesehatan yang menyenangkan, sehingga pesan PHBS tidak hanya dipahami, tetapi juga diterapkan secara berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari siswa.
Penulis: Hadaya Nasywa
Kontak Media: kknpojokundip@gmail.com
Editor: Azis



