Sosialisasi Cara Penyimpanan Bahan Baku Alam sebagai Upaya Memperpanjang Masa Simpan Produk pada UMKM Desa Banyusri, Boyolali
Jatengx.com, Boyolali — Bahan baku yang cepat rusak menjadi salah satu persoalan yang dihadapi pelaku usaha pangan di Desa Banyusri, Kecamatan Wonosegoro, Kabupaten Boyolali. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro memberikan edukasi mengenai masa simpan dan cara penyimpanan bahan baku kepada tiga pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) setempat.
Ketiga UMKM tersebut bergerak di bidang pengolahan pangan, yakni usaha keripik pisang, lempok, dan jajanan pasar. Masing-masing memiliki jenis bahan baku dan cara penyimpanan yang berbeda, tetapi menghadapi persoalan serupa: bahan baku memiliki masa simpan terbatas sehingga berisiko mengalami kerusakan sebelum diolah.
Kondisi tersebut diketahui melalui observasi terhadap pelaku UMKM sasaran. Pada usaha keripik pisang, misalnya, pisang sebagai bahan baku utama selama ini disimpan di rumah tanpa perlakuan khusus. Cara tersebut membuat bahan relatif cepat mengalami perubahan kualitas.
“Kami menemukan beberapa proses pengelolaan bahan baku produk, salah satunya kripik pisag yang dimana bahan bakunya tidak memperoleh perlakuan khusus,” ujar Muhammad Rizki Ramadhan.
Sementara itu, pelaku usaha lempok menggunakan nasi sebagai salah satu bahan baku dan telah menyimpannya di dalam kulkas. Meski demikian, penyimpanan tersebut belum sepenuhnya menghilangkan risiko kerusakan karena nasi tetap memiliki masa simpan yang terbatas.
Persoalan serupa juga ditemukan pada UMKM jajanan pasar. Jenis bahan baku yang digunakan cukup beragam dan disesuaikan dengan pesanan. Sebagian bahan disimpan di dalam kulkas, tetapi sejumlah bahan tetap relatif cepat mengalami kerusakan.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa penyimpanan bahan baku tidak hanya berkaitan dengan tersedianya fasilitas seperti kulkas. Karakteristik bahan, kadar air, suhu, kelembaban, serta cara penyimpanan juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan untuk mempertahankan kualitas bahan.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN UNDIP memberikan edukasi secara door-to-door kepada tiga pelaku UMKM sasaran. Kegiatan dilakukan dengan menggunakan modul edukasi yang memuat informasi mengenai faktor-faktor yang memengaruhi masa simpan serta prinsip penyimpanan bahan baku yang baik dan benar.
Edukasi diarahkan agar pelaku UMKM dapat mengenali karakteristik bahan yang digunakan dalam proses produksi. Dengan memahami karakteristik tersebut, pelaku usaha diharapkan dapat menentukan cara penyimpanan yang lebih sesuai sehingga risiko kerusakan bahan dapat diminimalkan.
Pendekatan secara langsung juga memungkinkan materi edukasi disesuaikan dengan kondisi masing-masing UMKM. Hal ini penting mengingat bahan baku yang digunakan pada usaha keripik pisang, lempok, dan jajanan pasar memiliki karakteristik yang berbeda.
Selain menjaga kualitas bahan, pemahaman mengenai masa simpan juga berkaitan dengan efisiensi kegiatan produksi. Bahan baku yang rusak sebelum digunakan dapat menjadi pemborosan dan menambah biaya yang harus ditanggung pelaku usaha.
Karena itu, edukasi penyimpanan bahan tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis pengolahan pangan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan efisiensi pengelolaan usaha.
UMKM memiliki peran penting dalam menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat di tingkat lokal. Karena itu, peningkatan kapasitas pelaku usaha menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan untuk mendukung keberlanjutan kegiatan ekonomi masyarakat desa.
Melalui edukasi mengenai masa simpan dan penyimpanan bahan baku, pelaku UMKM diharapkan memiliki pengetahuan tambahan dalam mengelola bahan yang digunakan untuk produksi. Pengetahuan tersebut dapat diterapkan dalam kegiatan usaha sehari-hari sesuai dengan jenis dan karakteristik bahan masing-masing.
Kegiatan ini juga memiliki keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi serta SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
Dari sisi SDG 8, edukasi kepada pelaku UMKM menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas usaha masyarakat sekaligus mendukung keberlangsungan aktivitas ekonomi di tingkat lokal.
Sementara itu, dari sisi SDG 12, penggunaan bahan pangan secara lebih efektif dan upaya mengurangi potensi pemborosan sejalan dengan prinsip produksi yang lebih bertanggung jawab.
Melalui pendampingan tersebut, mahasiswa KKN berharap pengetahuan mengenai masa simpan dan penyimpanan bahan dapat diterapkan oleh pelaku UMKM sesuai kondisi usaha masing-masing. Dengan demikian, bahan baku dapat dikelola secara lebih tepat dan risiko kerusakan maupun pemborosan dapat ditekan.
Pelaksana: Muhammad Rizki Ramadhan (24040123130102)
Program Studi: Fisika, Universitas Diponegoro
Dosen Pembimbing Lapangan: Dr. Agus Naryoso, S.Sos., M.Si.
Lokasi: Desa Banyusri, Kecamatan Wonosegoro, Kabupaten Boyolali
Waktu: 27 Juli–14 Agustus 2026
Editor: Azis



