Mahasiswa Ajak Ibu-ibu PKK membuat lilin aromaterapi dari minyak jelantah
Dokumentasi Demonstrasi Pembuatan Lilin Aromaterapi
Jatengx.com, Klaten – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro (UNDIP) Tahun 2026 melaksanakan program multidisiplin dengan judul “Pemanfaatan Minyak Jelantah Menjadi Lilin Aromaterapi sebagai Produk Bernilai Ekonomi” di Desa Butuhan, Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten.
Program yang berlangsung (20/7) diwujudkan melalui pelatihan pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah yang disosialisasikan kepada ibu-ibu PKK Desa Butuhan sebagai upaya mengurangi limbah rumah tangga, meningkatkan kesadaran lingkungan, serta membuka peluang usaha kreatif berbasis daur ulang.
Program pemberdayaan tersebut merupakan bentuk kolaborasi mahasiswa KKN dari berbagai disiplin ilmu dalam mengintegrasikan aspek kesehatan, lingkungan, dan ekonomi kreatif. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya menghasilkan inovasi fisik berupa lilin aromaterapi, tetapi juga memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai bahaya penggunaan minyak jelantah berulang serta dampak pembuangannya terhadap lingkungan.
Penggunaan minyak jelantah secara berulang menyimpan risiko serius bagi kesehatan karena mengandung senyawa karsinogen pemicu penyakit degeneratif. Tak hanya itu, kebiasaan membuang minyak sisa penggorengan ke saluran air atau tanah juga berkontribusi besar terhadap pencemaran lingkungan.
Melihat urgensi ganda tersebut, yaitu masalah kesehatan dan kerusakan ekologi, mahasiswi KKN UNDIP dari Fakultas Sains dan Matematika (FSM), Inas Ayuningtyas, merancang program pemberdayaan dengan metode pelatihan partisipatif guna mengubah limbah dapur menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.

Program pelatihan dibagi dalam tiga tahapan utama. Tahap pertama adalah pemberian edukasi mengenai bahaya penggunaan minyak jelantah dan dampak pembuangannya terhadap lingkungan. Selanjutnya, para peserta diajak masuk ke sesi praktik yang menjadi inti dari program, yaitu peracikan adonan lilin dengan formulasi yang tepat.
Peserta diajarkan komposisi ideal antara minyak jelantah dan asam stearat agar tekstur lilin keras, serta penambahan essential oil untuk menghasilkan aroma terapi.
Pelaksanaan praktik berlangsung dengan penuh semangat. Sebanyak 30 hingga 40 ibu-ibu PKK Desa Butuhan tampak antusias mengikuti setiap arahan, mulai dari proses peleburan adonan, pencampuran aroma white tea, hingga teknik pemasangan sumbu dan pencetakan.
Mahasiswa dan timnya turun langsung mendemonstrasikan setiap tahapan, memastikan tidak ada peserta yang tertinggal. Keaktifan peserta terlihat dari deretan pertanyaan yang diajukan sepanjang sesi praktik berlangsung, menandakan tingginya rasa ingin tahu terhadap proses daur ulang yang selama ini dianggap rumit.

Kerja keras para peserta membuahkan hasil. Dalam satu kali sesi pelatihan, berhasil diproduksi 5 buah lilin aromaterapi dengan kualitas premium. Setelah melewati proses pendinginan dan pengeringan, produk tersebut memiliki tekstur keras, permukaan halus, serta daya bakar yang stabil dan tidak berasap.
Salah satu peserta mengaku takjub dengan hasil yang dicapai. Ia mengungkapkan senang bisa belajar membuat lilin dari minyak jelantah sehingga dapat dipraktikkan di Rumah.
“Awalnya kami ragu apakah minyak bekas bisa berubah jadi lilin yang wangi dan rapi. Ternyata hasilnya sangat bagus, kami jadi percaya diri untuk membuatnya sendiri di rumah,” ungkapnya dengan wajah sumringah.
Lebih dari sekadar produk, program ini berhasil mengubah paradigma ekonomi para peserta. Jika selama ini minyak jelantah hanya dijual dengan harga murah, sekitar Rp5.000 hingga Rp8.000 per liter, kini para ibu PKK menyadari bahwa limbah tersebut dapat disulap menjadi komoditas dengan harga jual berkali-kali lipat.
Selain berpotensi menambah pendapatan keluarga, keterampilan ini juga memberikan alternatif penggunaan mandiri, sehingga mengurangi ketergantungan pada produk lilin komersial.
Sementara itu, mahasiswi KKN UNDIP, Inas Ayuningtyas, menyampaikan bahwa program ini dirancang untuk memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.
“Langkah kecil ini membuktikan bahwa limbah rumah tangga adalah awal dari peluang, bukan akhir dari masalah. Dengan kreativitas dan kemauan, ibu-ibu PKK dapat menjadi agen perubahan bagi lingkungan sekaligus ekonomi keluarga. Kami berharap keterampilan ini dapat terus dikembangkan dan menjadi motor penggerak ekonomi kreatif berbasis rumah tangga di Desa Butuhan,” ujarnya.
Melalui sinergi antara mahasiswa KKN, Pemerintah Desa Butuhan, dan ibu-ibu PKK, program ini diharapkan mampu menjadi langkah nyata dalam mendukung pengelolaan limbah rumah tangga yang produktif serta mendorong terciptanya budaya peduli lingkungan dan kemandirian ekonomi di Desa Butuhan.
Penulis: Inas Ayuningtyas
Editor: Azis




