Mahasiswa serahkan peptisida berbahan utama dari serai wangi dan bawang putih kepada perwakilan petani
Jatengx.com, Klaten — Serangan hama wereng menjadi salah satu persoalan yang dihadapi petani padi di Desa Turus, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten. Selama ini, pengendalian hama masih banyak mengandalkan pestisida kimia.
Mahasiswa KKN Reguler Tim II Universitas Diponegoro (Undip) memberikan edukasi mengenai pestisida nabati kepada kelompok tani setempat. Ia menyampaikan kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan obat alternatif yang ramah lingkungan pada (8/8/2026).
Program bertajuk “Pembuatan Pestisida Nabati sebagai Upaya Pengendalian Hama Ramah Lingkungan pada Tanaman Padi” tersebut mengajak masyarakat mengenal pemanfaatan bahan-bahan alami yang relatif mudah ditemukan di sekitar.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memperkenalkan serai wangi dan bawang putih sebagai bahan yang berpotensi digunakan untuk pestisida nabati. Serai wangi mengandung sejumlah komponen minyak atsiri, seperti sitronelal, sitronelol, dan geraniol.
Adapun bawang putih mengandung senyawa organosulfur, salah satunya allicin.
Mahasiswa menjelaskan, senyawa alami dari kedua bahan tersebut berpotensi dimanfaatkan dalam pengendalian organisme pengganggu tanaman. Namun, penggunaan bahan alami tetap perlu memperhatikan konsentrasi, jenis hama, kondisi tanaman, dan frekuensi aplikasi.
Edukasi juga mencakup tahapan pengolahan bahan, mulai dari membersihkan dan menghaluskan bahan, melakukan ekstraksi, menyaring hasil ekstraksi, hingga memformulasikannya menjadi larutan yang dapat diaplikasikan pada tanaman.
Selain teknik pembuatan, peserta diberikan pemahaman mengenai prinsip penggunaan pestisida nabati secara bijak. Mahasiswa menekankan bahwa pestisida nabati tidak serta-merta menjadi pengganti seluruh pestisida kimia, melainkan dapat menjadi salah satu bagian dari pengendalian hama terpadu.
“Bahan alami tetap perlu digunakan dengan takaran dan cara yang tepat. Efektivitasnya dapat dipengaruhi oleh jenis bahan, konsentrasi, jenis hama, kondisi tanaman, dan lingkungan,” jelas mahasiswa dalam kegiatan tersebut.
Antusiasme peserta terlihat dari ketertarikan mereka terhadap pemanfaatan bahan-bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
Pengetahuan tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi petani dalam mempertimbangkan alternatif pengendalian hama yang lebih memperhatikan kondisi lingkungan.
Melalui program ini, mahasiswa KKN Undip berharap masyarakat Desa Turus semakin memahami pentingnya pengendalian hama secara bijak.
Pemanfaatan pestisida nabati juga diharapkan dapat dikembangkan melalui pengamatan jenis hama, pengujian efektivitas, serta penyesuaian konsentrasi dan frekuensi penggunaannya.
Program tersebut menjadi salah satu upaya mahasiswa untuk menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan petani sekaligus mendorong praktik pertanian yang lebih berkelanjutan di Desa Turus.
Editor: Azis



