Mahasiswa KKN Undip Latih Ibu-ibu PKK Tengengwetan mengolah Minyak Jelantah Jadi Lilin Aromaterapi,
Jatengx.com, Pekalongan — Minyak goreng bekas atau minyak jelantah yang biasanya berakhir sebagai limbah diperkenalkan sebagai bahan baku lilin aromaterapi oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Tim II Universitas Diponegoro (Undip).
Pelatihan pembuatan lilin aromaterapi berbahan dasar minyak jelantah itu digelar di Desa Tengengwetan, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan, Kamis (6/8/2026). Kegiatan diikuti kader dan ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) desa setempat.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya mengenalkan cara mengolah minyak jelantah, tetapi juga mengajak masyarakat melihat kembali nilai guna limbah rumah tangga. Minyak yang sudah tidak digunakan untuk memasak diarahkan untuk diolah menjadi produk lain yang dapat dimanfaatkan.
Kegiatan diawali dengan edukasi mengenai dampak pembuangan minyak jelantah terhadap lingkungan serta pentingnya pengelolaan limbah rumah tangga secara tepat.
Peserta kemudian mengikuti praktik pembuatan lilin aromaterapi. Mahasiswa mendampingi peserta dalam setiap tahapan pengolahan hingga minyak jelantah dapat digunakan sebagai bagian dari bahan pembuatan lilin.
Selain aspek lingkungan, pelatihan juga memperkenalkan sisi ekonomi dari pengolahan minyak jelantah. Peserta mendapatkan penjelasan mengenai perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) serta dasar-dasar pemasaran produk.
Dengan demikian, lilin aromaterapi tidak hanya diperkenalkan sebagai hasil pengolahan limbah, tetapi juga sebagai produk yang memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi usaha rumah tangga.

Program tersebut dirancang secara multidisiplin dengan melibatkan mahasiswa dari lima bidang keilmuan. Perspektif hukum digunakan untuk memberikan pemahaman mengenai pengelolaan limbah rumah tangga dan dampaknya terhadap lingkungan.
Sementara itu, mahasiswa bidang ekonomi memberikan materi mengenai nilai ekonomi produk dan strategi pemasaran. Aspek akuntansi digunakan dalam penyusunan perhitungan HPP agar peserta dapat memperkirakan biaya produksi apabila produk dikembangkan untuk dijual.
Mahasiswa bidang akuakultur dan perikanan tangkap turut memberikan perspektif mengenai dampak pencemaran minyak terhadap ekosistem perairan serta kaitannya dengan keberlanjutan sumber daya perikanan.
Pendekatan tersebut membuat pelatihan tidak berhenti pada praktik pembuatan produk. Peserta juga diperkenalkan pada alasan pentingnya mengelola minyak jelantah serta kemungkinan pemanfaatannya dari sisi ekonomi.
Selama kegiatan berlangsung, peserta mengikuti materi dan praktik secara langsung. Ibu-ibu PKK dan kader desa juga aktif mengajukan pertanyaan mengenai teknik pembuatan, pilihan aroma, serta kemungkinan pemasaran produk.
Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan mereka selama proses pelatihan. Praktik langsung memberikan kesempatan kepada peserta untuk memahami tahapan pengolahan sekaligus melihat bentuk produk yang dapat dihasilkan dari minyak jelantah.
Pengolahan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan pemanfaatan kembali limbah rumah tangga. Di sisi lain, keterampilan tersebut dapat menjadi pengetahuan tambahan bagi masyarakat yang ingin mengembangkan produk kreatif berbasis bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.
Program ini juga dikaitkan dengan sejumlah tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), antara lain SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi serta SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
Pemanfaatan minyak jelantah menjadi produk baru juga berkaitan dengan upaya mengurangi potensi pencemaran lingkungan, termasuk pencemaran pada ekosistem perairan. Karena itu, kegiatan tersebut turut dikaitkan dengan SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim dan SDG 14 tentang Ekosistem Lautan.
Melalui pelatihan tersebut, mahasiswa KKN Undip berharap masyarakat Desa Tengengwetan memiliki pengetahuan tambahan mengenai pengelolaan minyak jelantah dan dapat memanfaatkannya secara lebih bijak.
Lebih dari sekadar membuat lilin aromaterapi, kegiatan tersebut memperkenalkan gagasan bahwa limbah rumah tangga masih dapat memiliki nilai guna ketika dikelola dengan cara yang tepat. Dari bahan yang sebelumnya dianggap tidak terpakai, masyarakat dapat belajar menciptakan produk sekaligus melihat peluang ekonomi yang mungkin dikembangkan di tingkat rumah tangga.



