mahasiswa KKN Universitas Diponegoro mendampingi guru dalam proses pembelajaran IPA melalui pemanfaatan alat peraga sederhana
Jatengx.com, Sragen — Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) tentang gaya, gerak, dan energi tidak hanya dilakukan melalui buku teks di Desa Bendungan, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Tim II Universitas Diponegoro 2025/2026 mendampingi guru menggunakan alat peraga sederhana agar siswa dapat melihat dan memahami konsep sains melalui praktik secara langsung.
Pendampingan tersebut merupakan bagian dari program kerja monodisiplin KKN yang dilaksanakan selama periode 8 Juli hingga 26 Agustus 2026. Kegiatan diarahkan untuk membantu guru menciptakan pembelajaran yang lebih aktif, kontekstual, dan mudah dipahami siswa.
Materi tentang gaya, gerak, dan energi dipilih karena konsepnya dekat dengan kehidupan sehari-hari. Namun, bagi siswa, materi tersebut dapat terasa abstrak apabila hanya disampaikan melalui penjelasan dan buku.
“Pembelajaran sains bukan sekadar menghafal konsep. Siswa perlu melihat bagaimana konsep tersebut bekerja melalui apa yang mereka lihat dan lakukan,” jelas Bramantya Adi Nugroho

Kegiatan diawali dengan koordinasi antara mahasiswa dan guru untuk menyesuaikan alat peraga dengan materi pembelajaran serta tingkat pemahaman siswa. Sebelum demonstrasi dilakukan, siswa diajak menjawab sejumlah pertanyaan pemantik berdasarkan pengalaman mereka sehari-hari.
Pertanyaan tersebut antara lain berkaitan dengan kegiatan mendorong dan menarik benda, membuat benda bergerak, hingga mengamati perubahan energi yang terjadi di lingkungan sekitar.
Setelah itu, siswa diajak mengamati demonstrasi menggunakan sejumlah alat peraga sederhana. Pada materi gaya dan gerak, benda beroda, bola, maupun benda sederhana lainnya digunakan untuk menunjukkan bahwa dorongan dan tarikan dapat menyebabkan benda bergerak, berhenti, berubah arah, atau berubah kecepatannya.
Sementara itu, konsep energi diperkenalkan melalui kegiatan sederhana dengan memanfaatkan karet gelang, pegas, benda yang dijatuhkan, maupun sumber energi listrik sederhana. Melalui demonstrasi tersebut, siswa dapat menghubungkan konsep yang dipelajari dengan peristiwa yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.
Mahasiswa tidak hanya membantu guru dalam melakukan demonstrasi. Siswa juga diarahkan untuk mengamati, mengajukan pertanyaan, mencoba kegiatan sederhana, serta menyampaikan hasil pengamatannya.
Pendekatan tersebut membuat siswa tidak hanya menerima informasi dari guru, tetapi juga terlibat dalam proses belajar melalui kegiatan mencoba dan mengamati.
“Penggunaan alat peraga sederhana membantu menjembatani konsep yang sebelumnya terasa abstrak dengan kejadian yang dapat diamati secara langsung. Dengan demikian, siswa memiliki kesempatan untuk memahami materi melalui pengalaman belajar,” ungkap Bramantya Adi Nugroho
Bagi guru, penggunaan alat peraga dapat menjadi alternatif untuk menjelaskan materi yang membutuhkan gambaran visual dan praktik. Media tersebut juga tidak selalu membutuhkan peralatan laboratorium yang kompleks maupun mahal.
Selain membantu pemahaman siswa, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan keaktifan dan rasa ingin tahu mereka terhadap pembelajaran IPA. Siswa didorong untuk bertanya, mencoba, mengamati, dan menarik kesimpulan dari fenomena yang mereka lihat.
Pemanfaatan benda-benda sederhana dalam pembelajaran juga menunjukkan bahwa kegiatan sains dapat dilakukan dengan memanfaatkan bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
Program pendampingan tersebut memiliki keterkaitan dengan sejumlah tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas. Penggunaan alat peraga diharapkan dapat mendukung pembelajaran yang lebih aktif, kontekstual, dan mudah dipahami.
Program ini juga berkaitan dengan SDG 9 tentang Industri, Inovasi dan Infrastruktur melalui penerapan inovasi sederhana dalam pembelajaran. Sementara itu, pemanfaatan media pembelajaran yang relatif mudah diperoleh dapat menjadi alternatif pembelajaran yang tidak sepenuhnya bergantung pada peralatan laboratorium yang kompleks dan mahal, sejalan dengan semangat SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan.
Dari sisi pengabdian, kegiatan tersebut mencakup empat aspek, yakni lingkungan, sosial, ekonomi, dan budaya. Pemanfaatan benda yang tersedia di sekitar mendorong penggunaan sumber daya secara bijak. Interaksi antara mahasiswa, guru, dan siswa juga membangun suasana pembelajaran yang kolaboratif dan komunikatif.
Dari aspek ekonomi, alat peraga sederhana dapat dibuat dengan biaya relatif terjangkau sehingga pembelajaran tidak selalu membutuhkan perangkat berbiaya tinggi. Sementara dari sisi budaya, kegiatan tersebut turut mendorong tumbuhnya budaya belajar, rasa ingin tahu, serta kebiasaan mengamati fenomena sains dalam kehidupan sehari-hari.
Bramantya Adi Nugroho menegaskan pembelajaran yang menarik tidak selalu membutuhkan peralatan yang rumit. Kreativitas dalam memanfaatkan benda sederhana dapat membantu siswa memahami konsep sekaligus membuat mereka lebih aktif selama proses belajar.
Pendampingan guru dalam pembelajaran IPA tentang gaya, gerak, dan energi menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa KKN dalam mendukung pembelajaran yang lebih interaktif di Desa Bendungan.
Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa konsep sains dapat diperkenalkan melalui aktivitas sederhana yang dekat dengan kehidupan siswa. Dengan kreativitas guru dan pendamping, pembelajaran IPA diharapkan dapat berlangsung secara lebih aktif, kontekstual, dan menyenangkan.
Pemanfaatan alat peraga sederhana juga diharapkan tidak berhenti selama kegiatan KKN berlangsung. Media tersebut dapat terus dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif untuk mendukung pembelajaran IPA di lingkungan sekolah.
Kegiatan pendampingan ini terlaksana dengan dukungan kepala sekolah, guru pendamping, para siswa, Pemerintah Desa Bendungan, Dosen Pembimbing Lapangan, serta seluruh rekan Tim KKN Universitas Diponegoro.
Penulis: Bramantya Adi Nugroho
Editor: Azis



