
Jatengx.com, Pati – Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) memberikan pembekalan kepada 225 mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Aula 2 Kampus IPMAFA, Selasa (29/9/2026). Para mahasiswa akan diterjunkan selama kurang lebih 40 hari di Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati, dan Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara.
Wakil Rektor I Bidang Akademik IPMAFA, Dr. Ahmad Dimyati, M.Ag., menyampaikan bahwa KKN merupakan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar secara langsung dari masyarakat. Karena itu, mahasiswa perlu mempersiapkan diri dan mampu beradaptasi dengan kondisi sosial di lokasi KKN.
“Teori tidak akan memberikan manfaat yang banyak apabila teman-teman tidak memahami kondisi lokasi. Karena itu, mulai dengan survei, temukan aset, potensi, dan data yang ada di masyarakat,” ujarnya.
Ahmad Dimyati juga mendorong mahasiswa untuk lebih banyak menggali informasi dari masyarakat, membangun kolaborasi antarkelompok, serta aktif berkonsultasi dengan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL).
Kenali Potensi dan Kondisi Wilayah
Camat Margorejo sekaligus pemateri KKN, Priyono Arief Fadhilah, S.Kom., M.M., menjelaskan bahwa Kecamatan Margorejo terdiri atas 18 desa dengan beragam potensi, seperti pertanian, UMKM, pendidikan, kesehatan, aksesibilitas, dan infrastruktur.
Ia mengingatkan mahasiswa untuk memperhatikan kondisi geografis dan lingkungan, terutama saat musim hujan. Beberapa wilayah, termasuk Desa Jimbaran, perlu mendapat perhatian terkait potensi genangan atau melimpahnya air.
“Mahasiswa harus mampu beradaptasi dengan kondisi di lapangan, mengikuti adat istiadat desa, serta membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat dan pemerintah desa,” jelasnya.
Sementara itu, pemateri dari Kecamatan Bangsri, Mahardiyan Ardiyanto, S.Kep., M.Kes., memaparkan kondisi demografi dan potensi desa-desa di Kecamatan Bangsri. Potensi tersebut antara lain kopi, UMKM, buah-buahan, pertanian, pantai, serta kawasan pegunungan yang dapat dikembangkan sebagai potensi pariwisata.
Menurutnya, potensi wisata di Kecamatan Bangsri cukup mendukung untuk dikembangkan melalui keterlibatan mahasiswa bersama masyarakat.
KKN Berbasis ABCD
Ketua LPPM IPMAFA, M. Lutfi Hakim, M.H., menjelaskan konsep KKN berbasis Asset-Based Community Development (ABCD) yang akan diterapkan mahasiswa. Pendekatan tersebut berangkat dari lima pilar utama, yaitu pendidikan, ekonomi, kesehatan, lingkungan, dan sosial-keagamaan.
“Mahasiswa akan dibekali terlebih dahulu oleh trainer yang telah ditentukan agar program KKN yang dirancang dapat memberikan dampak dan manfaat bagi masyarakat,” jelasnya.
M. Lutfi Hakim menyampaikan, pelaksanaan KKN IPMAFA terdiri atas tiga tahapan, yakni pra-KKN, live in, dan pasca-KKN. Tahap pra-KKN meliputi pembekalan, observasi, FGD, penyusunan dan presentasi program.
Selanjutnya, tahap live in mencakup penerjunan, lokakarya mini, pelaksanaan program, pengumpulan data, dan penyusunan laporan.
Sementara tahap pasca-KKN meliputi penyusunan laporan individu dan kelompok serta presentasi hasil KKN.
Bekali Etika Bermedia dan Bermasyarakat
Selain materi teknis, mahasiswa juga mendapatkan pembekalan etika bermedia yang disampaikan Siti Asyiah, M.Sos. Ia mengingatkan mahasiswa agar bijak dalam menggunakan media sosial serta menerapkan prinsip “saring sebelum sharing” ketika menerima dan menyebarkan informasi.
Mahasiswa juga dibekali kemampuan dasar jurnalistik, khususnya memahami unsur 5W+1H dalam penulisan berita.
Pada sesi terakhir, mahasiswa mendapatkan materi keagamaan dan etika bermasyarakat yang disampaikan Siswanto, M.A. Ia menekankan pentingnya menjaga unggah-ungguh ketika berinteraksi dengan masyarakat.
“Budayakan salam, senyum, dan sapa. Hargai dan hormati budaya yang sudah berjalan di masyarakat. Mahasiswa harus mampu menempatkan diri sebagai bagian dari masyarakat selama menjalankan KKN,” jelasnya.
Melalui pembekalan tersebut, IPMAFA berharap mahasiswa mampu beradaptasi, menggali potensi lokal, membangun kolaborasi, serta melaksanakan program KKN yang partisipatif dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.




