Mahasiswa beri penyuluhan mengenai peningkatan nilai tambah produk olahan singkong, branding-kemasan-pemasaran digital, strategi pengembangan usaha secara bertahap, serta mindset kewirausahaan, Selasa (04/08/2026)
Jatengx.com, Cilacap — Potensi singkong di Desa Karangreja, Kecamatan Cipari, Kabupaten Cilacap, terus didorong agar memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi. Melalui program SINGKAR (Sinergi Pengembangan Olahan Singkong Karangreja), mahasiswa KKNT Inovasi IPB 2026 mendampingi kelompok pengolah tepung mocaf untuk memperbaiki kemasan, memperluas pemasaran digital, sekaligus memperkuat jiwa kewirausahaan masyarakat.
Program tersebut melibatkan KWT Ngudi Makmur dan KWT Sumber Makmur yang selama ini mengolah singkong menjadi tepung MOCAF (Modified Cassava Flour). Kedua kelompok memanfaatkan potensi lahan singkong Desa Karangreja yang mencapai lebih dari 30 hektar.
Meski memiliki ketersediaan bahan baku yang besar, pengembangan produk mocaf masih menghadapi sejumlah kendala. Kemasan produk yang sederhana dan pemasaran digital yang belum optimal membuat jangkauan pasar masih terbatas. Selain itu, keterbatasan tenaga kerja juga menjadi persoalan karena sebagian anggota memilih berhenti ketika usaha menghadapi kendala.
Kondisi tersebut mendorong mahasiswa KKNT Inovasi IPB untuk melakukan pendampingan melalui program SINGKAR. Kegiatan diawali dengan wawancara bersama kedua KWT untuk memetakan persoalan yang dihadapi, mulai dari keterbatasan kapasitas dan tempat produksi hingga persoalan pemasaran dan keberlanjutan usaha.

Setelah pemetaan dilakukan, mahasiswa memberikan penyuluhan mengenai peningkatan nilai tambah produk olahan singkong, branding, kemasan, pemasaran digital, serta strategi pengembangan usaha secara bertahap. Materi juga dilengkapi dengan penguatan mindset kewirausahaan agar masyarakat tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan dalam menjalankan usaha.
Sebanyak 20 anggota KWT Ngudi Makmur dan KWT Sumber Makmur mengikuti rangkaian kegiatan tersebut. Peserta terlihat aktif mengikuti penyuluhan dan berdiskusi mengenai penerapan strategi pemasaran, pengemasan, serta pengembangan usaha pada produk mocaf mereka.
Pendampingan kemudian dilanjutkan dengan praktik langsung. Mahasiswa membantu merancang desain kemasan baru agar produk mocaf tampil lebih menarik sekaligus memuat informasi yang lebih jelas bagi konsumen. Selain itu, mahasiswa membuat website pemasaran sederhana yang dapat digunakan untuk memperkenalkan dan memperluas jangkauan penjualan produk kedua KWT.

Ketua KWT Sumber Makmur, Tasmini, mengatakan pendampingan tersebut memberikan perspektif baru bagi kelompoknya dalam mengembangkan produk mocaf.
“Selama ini kami merasa produk kami sebenarnya sudah cukup baik, tetapi kemasannya masih sederhana serta permintaan pasar belum meluas. Dengan adanya pendampingan dari mahasiswa KKNT, mulai dari desain kemasan baru sampai website pemasaran, semoga produk kami bisa lebih dikenal luas, permintaan pasar semakin meningkat, dan usaha ini bisa terus berkembang,” ujar Tasmini.
Menurut mahasiswa KKNT Inovasi IPB, pengolahan singkong menjadi mocaf memiliki peluang untuk memberikan nilai tambah yang lebih besar dibandingkan menjual singkong dalam bentuk mentah. Karena itu, penguatan kemasan, pemasaran, dan pola pikir kewirausahaan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan usaha masyarakat.
Program SINGKAR menghasilkan sejumlah luaran, antara lain desain kemasan baru dan website pemasaran untuk produk mocaf KWT Ngudi Makmur dan KWT Sumber Makmur. Selain itu, masyarakat memperoleh pengetahuan mengenai strategi membangun identitas produk, memanfaatkan media digital, serta mengembangkan usaha secara bertahap.
Mahasiswa KKNT Inovasi IPB berharap hasil pendampingan tersebut dapat terus dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Karangreja. Website pemasaran diharapkan dikelola secara aktif, sementara desain kemasan baru dapat menjadi bagian dari strategi untuk memperluas pasar produk mocaf.
Lebih dari sekadar memperbaiki tampilan produk, program SINGKAR diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk melihat singkong sebagai komoditas yang memiliki peluang ekonomi lebih besar. Dengan pengolahan, pemasaran, dan semangat kewirausahaan yang terus dikembangkan, potensi singkong Desa Karangreja diharapkan mampu menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat setempat.
Instagram: @karangrejahariini
TikTok: @kkntkarangreja_ipb
Editor: Azis



