Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro (Undip) di Desa Masin, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang. Melalui program multidisiplin bertema “Penguatan Edukasi Gizi Berbasis 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) sebagai Upaya Pencegahan Stunting di Desa Masin, pada 5-6 Agustus 2026
Jatengx.com, Batang — Pencegahan stunting tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan makanan bergizi. Pengetahuan orang tua, pemanfaatan layanan kesehatan, pola pengasuhan, kondisi ekonomi keluarga, hingga ketersediaan pangan di lingkungan sekitar turut berperan dalam mendukung tumbuh kembang anak.
Hal tersebut menjadi perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro (Undip) di Desa Masin, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang. Melalui program multidisiplin bertema “Penguatan Edukasi Gizi Berbasis 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) sebagai Upaya Pencegahan Stunting di Desa Masin”, sebanyak 10 mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu memberikan edukasi kepada masyarakat pada 5–6 Agustus 2026.
Program tersebut berangkat dari hasil observasi dan diskusi mahasiswa dengan perangkat desa serta kader Posyandu. Desa Masin memiliki lima Posyandu aktif yang didukung kader kesehatan dan tenaga kesehatan dari Puskesmas Warungasem. Namun, pemahaman masyarakat mengenai gizi seimbang, ASI eksklusif, makanan pendamping ASI (MP-ASI), pola asuh, serta pencegahan stunting masih perlu diperkuat.
Menguatkan Peran Posyandu dan Kualitas Lingkungan
Salah satu bagian program dilakukan oleh Abu Muhammad Abdul Malik, mahasiswa Program Studi Kimia, melalui pemeriksaan kualitas air di lingkungan RW 1 hingga RW 5 Desa Masin.
Hasil pemeriksaan tersebut kemudian dituangkan dalam poster sebagai media informasi bagi masyarakat. Edukasi ini diharapkan membantu warga mengenali kondisi kualitas air di lingkungan tempat tinggal mereka.
Sementara itu, Anatasya Dwi Arifah, mahasiswa Program Studi Administrasi Publik, memberikan sosialisasi mengenai pemanfaatan layanan Posyandu sebagai bagian dari intervensi 1000 HPK.
Masyarakat diajak memahami bahwa Posyandu tidak hanya menjadi tempat penimbangan balita, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk memantau kesehatan ibu dan anak serta mendukung upaya pencegahan stunting.
Edukasi Gizi Dikemas Lebih Interaktif
Agar informasi kesehatan tidak berhenti pada penyampaian materi secara lisan, mahasiswa menghadirkan sejumlah media edukasi.
Angellyna Reniat Zibarani, mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Otomasi, mengembangkan digitalisasi edukasi gizi anak berbasis QR Code. Media tersebut memungkinkan masyarakat mengakses kembali informasi mengenai gizi secara mandiri.
Pendekatan berbeda dilakukan Celia Indriyani P., mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, melalui penyusunan infografis edukasi stunting. Materi mengenai pemenuhan gizi dan kesehatan ibu serta anak dikemas dalam bentuk leaflet dan banner agar lebih mudah dipahami.
Lima banner edukasi kemudian ditempatkan di lima titik Posyandu di Desa Masin sehingga dapat dimanfaatkan sebagai media informasi secara berkelanjutan.
Belajar Gizi dari Pangan Lokal
Edukasi kemudian dilanjutkan dengan praktik. Faraj Ghibran Nurjaman, mahasiswa Program Studi Ilmu Gizi, memberikan edukasi mengenai pencegahan stunting berbasis 1000 HPK kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan ibu balita.
Kegiatan dilengkapi dengan demonstrasi pembuatan MP-ASI berbasis bahan pangan lokal yang tersedia di Desa Masin. Melalui praktik tersebut, masyarakat tidak hanya memperoleh informasi mengenai kebutuhan gizi, tetapi juga melihat secara langsung bagaimana bahan pangan yang tersedia di sekitar dapat diolah menjadi makanan pendamping yang sesuai untuk anak.
“Pencegahan stunting membutuhkan pemahaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Karena itu, edukasi tidak hanya diberikan melalui materi, tetapi juga melalui praktik dan pemanfaatan potensi pangan yang ada di lingkungan masyarakat,” ujar Faraj Ghibran Nurjaman.

Tumbuh Kembang Anak dan Pengasuhan
Upaya pencegahan stunting juga mencakup aspek perkembangan anak. Hendrico Surya Wirawan, mahasiswa Program Studi Bahasa Asing Terapan, memberikan edukasi mengenai pola asuh aktif melalui stimulasi bahasa.
Orang tua didorong untuk lebih aktif berkomunikasi dengan anak dan memberikan stimulasi bahasa selama masa tumbuh kembang. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong perkembangan anak secara menyeluruh.
Dari sisi ekonomi keluarga, Salsabilla Nur Cahyani, mahasiswa Program Studi Ekonomi, memberikan edukasi literasi keuangan keluarga. Materi tersebut mengajak masyarakat memahami pentingnya mengelola keuangan rumah tangga agar kebutuhan pangan bergizi selama periode 1000 HPK dapat menjadi bagian dari prioritas keluarga.
Sementara itu, Sanggita Whaviandra S.P., mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum, memberikan sosialisasi mengenai hak anak berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.
Edukasi tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman orang tua mengenai hak anak sekaligus mendorong pemenuhan hak anak dalam kehidupan sehari-hari.
Aspek psikologis juga menjadi perhatian melalui program yang dibawakan Sesilia Gina Priskila Banuarea, mahasiswa Program Studi Psikologi. Melalui psikoedukasi pengasuhan anak bagi orang tua baru, masyarakat diajak memahami tahapan perkembangan anak serta dampak stunting terhadap kondisi psikologis dan perkembangan anak.
Memetakan Potensi Pangan Desa
Upaya memperkuat edukasi gizi juga dilakukan dengan mengenali potensi sumber pangan yang tersedia di Desa Masin.
Zahra Dewi Nur Rahman, mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan, menyusun peta persebaran potensi sumber pangan lokal Desa Masin. Peta tersebut memuat informasi mengenai sentra padi, sentra perikanan, pasar, puskesmas, jaringan jalan, sungai, hingga permukiman.
Keberadaan peta tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat dan pemerintah desa mengenali sumber pangan yang tersedia di wilayah mereka. Informasi tersebut juga dapat menjadi pendukung dalam edukasi mengenai pemanfaatan pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga.
Menjaga Keberlanjutan Edukasi
Program KKN Tim II Undip di Desa Masin tidak berhenti setelah kegiatan sosialisasi selesai. Mahasiswa turut menghasilkan sejumlah media edukasi yang dapat digunakan kembali oleh masyarakat, seperti leaflet dan lima banner yang ditempatkan di lima Posyandu.
Media tersebut diharapkan dapat menjadi bahan edukasi berkelanjutan, terutama bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan keluarga yang memiliki balita.
Foto 2. Rangkaian kegiatan Multidisiplin 1.
Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pencegahan stunting membutuhkan pendekatan dari berbagai sisi. Pemenuhan gizi perlu berjalan beriringan dengan pemanfaatan layanan kesehatan, pola pengasuhan yang baik, stimulasi perkembangan anak, literasi keluarga, pemenuhan hak anak, serta pemanfaatan potensi pangan lokal.
Melalui kolaborasi lintas disiplin tersebut, mahasiswa KKN Tim II Undip berupaya memperkuat pemahaman masyarakat Desa Masin bahwa pencegahan stunting dapat dimulai dari langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten dalam keluarga dan lingkungan sekitar.
PROFIL PENULIS
Abu Muhammad Abdul Malik
Universitas Diponegoro — Program Studi Kimia
Anatasya Dwi Arifah
Universitas Diponegoro — Program Studi Administrasi Publik
Angellyna Reniat Zibarani
Universitas Diponegoro — Program Studi Teknologi Rekayasa Otomasi
Celia Indriyani P.
Universitas Diponegoro — Program Studi Sastra Indonesia
Faraj Ghibran Nurjaman
Universitas Diponegoro — Program Studi Ilmu Gizi
Hendrico Surya Wirawan
Universitas Diponegoro — Program Studi Bahasa Asing Terapan
Salsabilla Nur Cahyani
Universitas Diponegoro — Program Studi Ekonomi
Sanggita Whaviandra S.P.
Universitas Diponegoro — Program Studi Ilmu Hukum
Sesilia Gina Priskila Banuarea
Universitas Diponegoro — Program Studi Psikologi
Zahra Dewi Nur Rahman
Universitas Diponegoro — Program Studi Ilmu Kelautan
Editor:
Azis






