Mahasiswa KKN Undip bersama warga tunjukkan produk eco-enzyme yang sudah dibuat dari limbah
Jatengx.com, Kota Semarang – Mahasiswa KKN Tematik IDBU 52 Universitas Diponegoro Kelompok 3 mengajak ibu-ibu di RW 5, Kelurahan Mijen, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, belajar mengolah sampah dapur menjadi eco-enzyme. Kegiatan yang berlangsung pada (12/7) ini menyasar ibu rumah tangga dan kader PKK setempat, dengan harapan sederhana: mengurangi kebiasaan membakar sampah organik yang selama ini jadi masalah di wilayah tersebut.
RW 5 Kelurahan Mijen memang punya karakter yang cukup khas. Sebagian besar wilayahnya masih berupa sawah, ladang, dan hutan, dengan warga yang banyak bekerja sebagai petani maupun pegawai. Kondisi ini membuat sampah organik, baik dari rumah tangga maupun sisa panen, terus menumpuk setiap harinya.
Namun, tidak sedikit warga yang memilih cara paling praktis untuk menghabiskan tumpukan sampah itu: dibakar. Cara ini memang cepat, tapi asapnya mengganggu dan risikonya besar, apalagi saat musim kemarau tiba, di mana satu percikan saja bisa memicu kebakaran lahan.
Dari situlah program “Peningkatan Kapasitas Program Kampung Iklim (ProKlim) melalui Pengolahan Sampah Organik Komposter” digagas oleh tim KKN.
Program ini sejalan dengan beberapa poin Sustainable Development Goals (SDGs), mulai dari SDG 3 soal kesehatan karena mengurangi polusi udara, SDG 12 tentang konsumsi dan produksi bertanggung jawab lewat daur ulang sampah dapur, sampai SDG 13 yang menyoroti penanganan perubahan iklim.
Sebelum kegiatan dimulai, mahasiswa mencari referensi terkait Eco-Enzyme serta melakukan uji coba pembuatan Eco-Enzyme sendiri sebagai bahan Latihan. Mahasiswa juga mencari bahan-bahan yang diperlukan untuk pembuatan Eco-Enzyme.
Bahan inti yang dibutuhkan yaitu botol plastik bekas, gula merah, dan limbah organik berupa kulit buah.
Pelatihan digelar di kediaman Ketua RT 1, tepat setelah ibu-ibu menyelesaikan kegiatan rutin Pemeriksaan Jentik Nyamuk (PJN) pada pukul 08.30 WIB.
Supaya materi lebih mudah dicerna, mahasiswa tidak hanya menjelaskan lewat presentasi, tapi juga mengajak warga praktik langsung. Satu perwakilan dari tiap RT, dari RT 1 sampai RT 5, diminta maju ke depan untuk mencoba sendiri meracik eco-enzyme, dipandu langsung oleh mahasiswa KKN.
Suasananya cukup cair. Sesekali terdengar candaan dari ibu-ibu, tapi mereka tetap menyimak dengan serius dan beberapa di antaranya aktif bertanya di sela-sela demonstrasi. Menjelang penutup, mahasiswa juga sempat menjelaskan berbagai manfaat eco-enzyme, mulai dari cairan pembersih alami hingga pupuk cair untuk tanaman.

Salah satu Ketua RT yang hadir, Ibu Retno, mengaku senang dengan kegiatan ini dan berharap manfaatnya bisa berlanjut lebih jauh dari sekadar hari itu saja.
“Kegiatan pelatihan pembuatan eco-enzyme dari mahasiswa KKN Undip ini sangat seru dan bermanfaat bagi kami. Saya sangat berharap ibu-ibu yang hadir hari ini bisa langsung mempraktikkan dan merealisasikannya sendiri di rumah masing-masing, supaya sampah dapur tidak lagi dibuang percuma atau dibakar,” ujarnya.
Dari kegiatan tersebut, lima botol eco-enzyme berhasil dibuat bersama warga. Di penghujung kegiatan, mahasiswa memberikan pengarahan kepada ibu-ibu yang telah menyelesaikan pembuatan Eco-Enzymenya untuk tidak lupa membuka botol rutin sehari sekali agar gas tidak menumpuk didalam botol.
Kegiatan hari diakhiri dengan foto bersama, sekadar penanda bahwa pagi itu berjalan lancar dan diikuti dengan antusias oleh warga RW 5.
Editor: Azis



