Mahasiswa paparkan materi psikoedukasi mengenai pengenalan hambatan belajar pada siswa sekolah dasar kepada guru MI Muhammadiyah Sanggrahan
Jatengx.com, Boyolali — Kesulitan membaca, menulis, dan berhitung pada siswa sekolah dasar tidak selalu berkaitan dengan kemalasan. Kondisi tersebut dapat menjadi tanda adanya hambatan belajar yang membutuhkan perhatian dan pendekatan berbeda dari guru.
Persoalan itu ditemukan mahasiswa KKN Universitas Diponegoro (Undip) saat melakukan observasi di MI Muhammadiyah Sanggrahan, Desa Ngaren, Kecamatan Juwangi, Kabupaten Boyolali. Sejumlah siswa kelas 4 hingga 6 masih mengalami kesulitan dalam kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung.
Kondisi tersebut mendorong Rebecca Miranda, mahasiswa Fakultas Psikologi Undip, mengadakan psikoedukasi mengenai pengenalan hambatan belajar pada siswa sekolah dasar. Kegiatan yang berlangsung pada (1/8) itu diikuti sembilan guru MI Muhammadiyah Sanggrahan.
Program tersebut menjadi bagian dari pengabdian mahasiswa sekaligus penerapan ilmu psikologi pendidikan untuk membantu guru mengenali kebutuhan belajar siswa secara lebih tepat.
Dalam kegiatan itu, guru diajak memahami bahwa keterlambatan kemampuan akademik tidak selalu dapat disimpulkan sebagai kurangnya usaha atau motivasi belajar. Beberapa siswa dapat mengalami hambatan belajar atau memiliki karakteristik slow learner sehingga membutuhkan pendampingan dan metode pembelajaran yang disesuaikan.
“Guru perlu melihat kesulitan belajar siswa secara lebih menyeluruh. Ketika seorang anak mengalami kesulitan membaca, menulis, atau berhitung, penting untuk melihat penyebabnya terlebih dahulu, bukan langsung menganggap anak tersebut malas,” ujar Rebecca.
Psikoedukasi dilaksanakan melalui pemaparan materi, diskusi, dan tanya jawab. Materi yang diberikan meliputi pengertian hambatan belajar, jenis-jenis hambatan yang umum ditemukan pada anak usia sekolah dasar, faktor yang dapat memengaruhinya, serta langkah pendampingan yang dapat dilakukan guru di kelas.
Guru juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya mengenali tanda-tanda awal hambatan belajar. Dengan deteksi yang lebih dini, guru dapat menyesuaikan cara mengajar dan memberikan dukungan yang sesuai dengan kemampuan masing-masing siswa.
Sebagai pendukung kegiatan, Rebecca menyusun booklet edukatif yang dapat digunakan guru sebagai bahan bacaan setelah kegiatan berlangsung. Booklet tersebut memuat informasi mengenai hambatan belajar, faktor penyebab, strategi pendampingan, serta rekomendasi layanan yang dapat diakses apabila siswa membutuhkan asesmen lebih lanjut oleh tenaga profesional.
Bahasa dalam booklet dibuat ringkas dan sederhana agar materi psikologi dapat dipahami dan diterapkan dalam kegiatan belajar sehari-hari.
Melalui kegiatan tersebut, guru diharapkan semakin peka terhadap berbagai kondisi yang dapat memengaruhi proses belajar siswa. Pendekatan yang lebih tepat juga diharapkan dapat membantu menciptakan suasana pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada hasil akademik, tetapi juga memperhatikan kebutuhan setiap anak.
Bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk menerapkan pengetahuan psikologi pendidikan secara langsung di lingkungan sekolah. Sementara bagi sekolah, kegiatan tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun lingkungan belajar yang lebih inklusif dan suportif bagi siswa dengan beragam kemampuan.
Pada akhirnya, mengenali kesulitan belajar bukan sekadar mencari tahu mengapa seorang anak tertinggal. Lebih dari itu, pemahaman tersebut menjadi langkah awal agar anak memperoleh kesempatan belajar dengan cara yang sesuai dengan kebutuhannya.
Penulis: Rebecca Miranda
Editor: Azis



