
Krobokan, Kec. Juwangi, Kab. Boyolali (15/7/2026) – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) menjalankan program edukasi rantai pasok komoditas jagung di Desa Krobokan. Program ini menyasar siswa kelas 4-6 Sekolah Dasar (SD) sebagai upaya menanamkan literasi ekonomi dan agribisnis sejak usia dini.
Program bertajuk “Pelatihan Analisis dan Edukasi Distribusi Rantai Pasok Sederhana Komoditas Jagung” ini digagas oleh Tamara Suci Amalia, mahasiswa Program Studi Manajemen dan Administrasi Logistik. Menurutnya, materi distribusi hasil pertanian selama ini jarang disentuh dalam kurikulum pendidikan dasar, padahal penting untuk dipahami anak-anak sejak dini.
Tamara menjelaskan, ide program ini muncul setelah ia melihat bahwa jagung merupakan salah satu komoditas andalan warga Desa Krobokan, namun pengetahuan anak-anak setempat tentang bagaimana hasil panen tersebut sampai ke tangan konsumen masih sangat terbatas. Menurutnya, selama ini anak-anak hanya mengenal jagung sebagai hasil kebun atau bahan makanan sehari-hari, tanpa memahami proses panjang di baliknya, mulai dari petani, pengepul, hingga akhirnya sampai ke pasar atau konsumen.
“Banyak anak di sini yang orang tuanya petani jagung, tapi mereka sendiri belum tentu tahu proses jagung itu setelah dipanen dibawa ke mana, dijual ke siapa, sampai akhirnya bisa dibeli orang lain. Dari situ saya berpikir, kenapa tidak dikenalkan saja sejak dini, tapi dengan cara yang menyenangkan supaya mereka tidak merasa sedang belajar materi yang berat,” ujar Tamara.
Ia menambahkan, pemilihan siswa kelas 4-6 SD sebagai sasaran program bukan tanpa alasan. Menurutnya, usia tersebut dinilai sudah cukup matang untuk mulai diperkenalkan pada konsep dasar ekonomi dan agribisnis, namun tetap membutuhkan pendekatan yang interaktif agar materi lebih mudah dipahami.
“Kami ingin siswa tahu bagaimana jagung yang mereka lihat sehari-hari itu sampai ke tangan konsumen, mulai dari petani hingga proses distribusinya,” ujar Tamara.
Pendekatan yang digunakan dalam program ini mengadopsi metode pembelajaran berbasis permainan atau game-based learning, dengan mempertimbangkan karakteristik psikologis anak usia sekolah dasar yang lebih mudah menyerap informasi lewat aktivitas yang menyenangkan dan interaktif.
Sejumlah permainan dirancang untuk mendukung proses belajar tersebut, di antaranya permainan menyambungkan titik-titik alur distribusi jagung, pemberian materi penyusunan isi rak gudang, serta puzzle distribusi jagung. Melalui rangkaian permainan ini, siswa diajak memahami pentingnya kerja sama, ketelitian, dan pengelolaan barang dalam proses distribusi.
Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa pelaksana turut mendampingi peserta agar permainan berjalan tertib dan seluruh siswa aktif berpartisipasi. Di akhir sesi, dilakukan evaluasi sederhana melalui tanya jawab dan kuis untuk mengukur pemahaman siswa terhadap materi yang telah disampaikan.
Hasilnya, siswa dinilai mampu memahami alur sederhana distribusi hasil pertanian, khususnya komoditas jagung, mulai dari petani hingga sampai ke tangan konsumen. Selain menambah wawasan, program ini juga menumbuhkan apresiasi siswa terhadap hasil pertanian Desa Krobokan serta peran masyarakat yang terlibat dalam proses penyalurannya.
Tak hanya soal distribusi, program ini turut membuka ruang bagi siswa untuk berbicara tentang cita-cita mereka. Dari obrolan santai di sela kegiatan, mayoritas siswa mengaku ingin menjadi petani kelak, dengan alasan yang sederhana namun menyentuh, yakni ingin membantu meringankan pekerjaan orang tua mereka yang juga berprofesi sebagai petani di desa tersebut.
Program ini juga dinilai sejalan dengan agenda Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), yaitu SDG 4 tentang pendidikan berkualitas melalui pembelajaran interaktif, SDG 2 tentang ketahanan pangan, SDG 8 tentang pertumbuhan ekonomi lokal melalui apresiasi hasil tani desa, serta SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab melalui pemberian informasi pengelolaan distribusi yang efisien.
Dengan demikian, program ini tidak sekadar menjadi ajang edukasi teknis mengenai distribusi komoditas, melainkan juga sarana penanaman nilai kebanggaan terhadap potensi lokal Desa Krobokan sekaligus wujud kontribusi nyata mahasiswa dalam mendukung pencapaian agenda pembangunan berkelanjutan di tingkat komunitas.
Pelaksanaan program edukasi ini menunjukkan bahwa pengabdian mahasiswa tidak berhenti pada penyampaian materi semata, melainkan turut menumbuhkan semangat dan cita-cita anak-anak desa untuk kembali membangun kampung halamannya melalui sektor pertanian.
Penulis: Tamara Suci Amalia, 40011323630090, Program Studi Manajemen dan Administrasi Logistik, Sekolah Vokasi, Universitas Diponegoro





