
Sukoharjo, 10 Agustus 2026 – Mahasiswa Tim II KKN UNDIP 2025/2026, salah satunya Graceila Najwallaisya, melakukan pendokumentasian sejarah “Makam Ki Ageng Sutawijaya” yang berada di kawasan Bumi Arum, Desa Majasto, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Dokumentasi naskah sejarah berada dalam QR code. Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya mengenalkan dan mendokumentasikan salah satu situs sejarah dan religi yang memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan sejarah Desa Majasto. Makam tersebut menjadi tempat peristirahatan Ki Ageng Sutawijaya atau yang dikenal masyarakat setempat sebagai Eyang Sutowijoyo, sekaligus menjadi bagian dari warisan sejarah, budaya, dan keagamaan masyarakat.
Sejarah Ki Ageng Sutawijaya berawal pada masa runtuhnya Kerajaan Majapahit dan munculnya Kesultanan Demak. Kondisi politik dan peperangan pada masa tersebut mendorong beliau melakukan perjalanan ke berbagai daerah. Dalam pengembaraannya, beliau sempat tinggal di Bojonegoro dan Tegalampel serta menjalani kehidupan sebagai petani. Ki Ageng Sutawijaya dikenal sebagai sosok yang tekun, sederhana, dan menghargai kerja keras.
Perjalanan hidup Ki Ageng Sutawijaya kemudian berlanjut setelah pertemuannya dengan Sunan Kalijaga. Berdasarkan tradisi lisan masyarakat Majasto, Sunan Kalijaga menguji ketekunan dan kesabarannya sebelum menerima Ki Ageng Sutawijaya sebagai murid. Beliau kemudian diarahkan untuk berguru kepada Ki Ageng Pandanaran di Bayat guna memperdalam ilmu agama dan kepemimpinan. Setelah menyelesaikan masa berguru, beliau mendapat petunjuk untuk mencari sebuah batu yang menjadi tanda lokasi pengabdian berikutnya hingga akhirnya sampai di wilayah yang kemudian dikenal sebagai Majasto.
Setelah menetap di Majasto, Ki Ageng Sutawijaya memperoleh bimbingan dari Sunan Gunung Jati dan menjadi bagian dari Wali Selawe, kelompok ulama yang berperan dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Beliau kemudian mendirikan Padepokan Wali Selawe yang menjadi tempat pendidikan agama, dakwah, dan pembinaan para murid.
Selain dalam bidang keagamaan dan pendidikan, Ki Ageng Sutawijaya juga memiliki peran dalam kehidupan masyarakat Majasto. Beliau dikisahkan membangun Masjid Majasto pada tahun 1478 sebagai pusat kegiatan keagamaan. Dalam bidang pertanian, beliau membuka kawasan hutan menjadi lahan persawahan, mengajarkan teknik bercocok tanam, serta menggagas saluran irigasi yang dikenal sebagai Ngantru. Beliau juga membangun Sumur Gedhe atau Sumur Tiban untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.
Setelah wafat, Ki Ageng Sutawijaya dimakamkan di kawasan Bumi Arum, Desa Majasto. Hingga saat ini, kompleks makam tersebut menjadi salah satu situs sejarah dan religi yang dihormati masyarakat serta menjadi tujuan ziarah bagi masyarakat dari berbagai daerah. Makam tersebut menjadi tempat untuk mengenang peran Ki Ageng Sutawijaya sebagai penyebar agama Islam, pendidik, pemimpin masyarakat, dan pelopor pembangunan pertanian di Majasto.
Pendokumentasian sejarah Makam Ki Ageng Sutawijaya juga memiliki keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas dan SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, Melalui kegiatan yang turut dilakukan oleh Graceila Najwallaisya, informasi mengenai sejarah dan peninggalan Ki Ageng Sutawijaya dapat disusun dan diperkenalkan sebagai sarana edukasi bagi masyarakat dan generasi muda.
Sementara itu, keterkaitannya dengan SDG 11 terlihat melalui upaya mengenalkan dan menjaga keberadaan situs sejarah serta warisan budaya di tingkat desa. Makam Ki Ageng Sutawijaya beserta peninggalan di kawasan Bumi Arum merupakan bagian dari identitas Desa Majasto yang memiliki nilai historis, religius, dan budaya. Pelestarian serta pengenalan warisan tersebut penting agar keberadaannya tetap dikenal oleh generasi mendatang. Graceila Najwallaisya bersama
Tim II KKN UNDIP 2025/2026 berupaya membantu mengenalkan sejarah Makam Ki Ageng Sutawijaya melalui dokumentasi yang lebih terstruktur. Kegiatan ini diharapkan dapat membantu masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengenal sejarah dan nilai-nilai budaya yang terdapat di Desa Majasto serta turut menjaga keberadaan warisan sejarah tersebut.
Penulis
Graceila Najwallaisya
KKN TIM II Universitas Diponegoro
Desa Majasto, 2026





