
Hadapi Darurat Sampah, KKN Undip Dorong Pengelolaan Sampah Organik dari Rumah
Persoalan sampah menjadi salah satu tantangan yang tengah dihadapi Kota Salatiga. Seiring dengan rencana penutupan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Ngronggo, pemerintah kota tengah mendorong masyarakat untuk mengurangi dan mengelola sampah sejak dari sumbernya.
Kondisi tersebut turut menjadi perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro Tim II di Kelurahan Cebongan, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga. Melalui program kerja multidisiplin, kelompok KKN Undip Kelurahan Cebongan menghadirkan sosialisasi pengelolaan sampah rumah tangga dengan fokus pada pengolahan sampah organik.
Program ini dilaksanakan sebagai bentuk upaya mahasiswa untuk turut merespons persoalan sampah di Kota Salatiga melalui solusi yang dapat diterapkan langsung oleh masyarakat. Alih-alih hanya berfokus pada penanganan sampah setelah keluar dari rumah, mahasiswa KKN mendorong pengelolaan sampah dimulai dari sumbernya, yaitu rumah tangga.
Salah satu solusi yang diperkenalkan adalah komposter sederhana skala rumah tangga. Komposter dibuat dengan sederhana menggunakan barang bekas yaitu galon air minum plastik dan cara yang relatif mudah. Mahasiswa KKN menjelaskan bahwa komposter dapat menjadi alternatif pengolahan sampah organik yang dapat dilakukan secara mandiri oleh masyarakat. Selain dapat mengurangi volume sampah yang dikirim ke TPS, pengolahan sampah organik dengan komposter dapat menghasilkan pupuk yang bisa digunakan oleh warga. Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak lagi hanya bergantung pada sistem pengangkutan dan pembuangan, tetapi dapat dimulai dari masing-masing rumah.
Mahasiswa KKN juga melakukan sosialisasi mengenai pengolahan sampah organik yang disertai dengan demonstrasi pembuatan komposter sederhana. Sosialisasi dilaksanakan sebanyak enam kali selama minggu kedua hingga minggu kelima pelaksanaan KKN. Kegiatan tersebut menyasar ibu-ibu PKK dan dilaksanakan dengan memanfaatkan berbagai forum masyarakat, mulai dari pertemuan PKK RT, PKK RW, hingga kelompok Dasawisma (Dawis) di keenam RW di Kelurahan Cebongan. Pemilihan ibu-ibu PKK sebagai sasaran kegiatan juga menjadi bagian penting dari upaya tersebut. Forum PKK dan Dawis yang secara rutin menjadi ruang berkumpul dan bertukar informasi bagi masyarakat diharapkan dapat menjadi sarana edukasi mengenai pengelolaan sampah yang dapat diteruskan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam sosialisasi, mahasiswa KKN memberikan pemahaman mengenai pengelolaan sampah rumah tangga, khususnya sampah organik. Masyarakat diajak untuk melihat bahwa sampah organik yang dihasilkan sehari-hari tidak selalu harus dibuang dan dibawa keluar dari rumah melainkan dapat diproses kembali sehingga mengurangi jumlah sampah yang perlu diangkut menuju TPS maupun TPA.
Program kerja tersebut mendapat sambutan baik dari warga sebagai salah satu alternatif dalam mengolah sampah rumah tangga, khususnya sampah organik. Sebagai tindak lanjut dari sosialisasi yang telah dilakukan, kelompok KKN bersama warga RW 02 RT 03 Kelurahan Cebongan juga telah melaksanakan workshop pembuatan komposter secara bersama-sama pada Minggu (26/7). Kegiatan ini menjadi ruang bagi warga untuk tidak hanya memahami pentingnya pengelolaan sampah dari sumbernya, tetapi juga mempraktikkan secara langsung pembuatan komposter yang diharapkan dapat diterapkan di rumah masing-masing.
Rangkaian kegiatan KKN ini juga diarahkan untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-12, yaitu Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Upaya tersebut dilakukan melalui pengurangan timbulan sampah rumah tangga, khususnya sampah organik, serta pengolahannya menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat melalui penggunaan komposter sederhana.
Melalui komposter sederhana, kelompok KKN Undip Kelurahan Cebongan berharap masyarakat dapat mulai mengolah sampah organik secara mandiri di rumah. Langkah kecil tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya yang lebih besar untuk mengurangi beban pengelolaan sampah di Kota Salatiga sekaligus membangun kebiasaan masyarakat yang lebih peduli terhadap lingkungan.



