Mahasiswa serahkan hasil observasi dan rekomendasi pemetaan potensi ekonomi di Desa Majasto
Jatengx.com, Sukoharjo — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro atas nama Muhammad Hanin Habiburrahman dari program studi Statistika yang bertugas di Desa Majasto menyusun pemetaan potensi ekonomi berupa Koridor UMKM Fashion Desa Majasto.Kegiatan ini berlangsung selama masa penugasan KKN, yaitu 9 Juli hingga 19 Agustus 2026.
Program kerja yang dilaksanakan mendukung capaian Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, serta nomor 9 tentang industri, inovasi, dan infrastruktur, di bawah payung program DIKTISAINTEK Berdampak.
Pemetaan ini berfokus pada tiga pelaku usaha fashion yang berlokasi di sepanjang jalan utama Desa Majasto, yakni Ratih Collection, Yuki Collection, dan Raffa Collection. Muhammad Hanin Habiburraman menyampaikan ketiganya bersama-sama mengelola enam titik outlet dan menyerap sedikitnya 33 tenaga kerja.
“Lokasi usaha saling berdekatan pada satu ruas jalan membuat kawasan tersebut secara alami membentuk koridor perdagangan fashion, meski selama ini belum dikelola sebagai satu kesatuan kawasan. Selain itu, juga mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 33 orang,” ujarnya.
Pemetaan ini merupakan upaya mahasiswa untuk membantu masyarakat dan pelaku usaha membaca potensi ekonomi lokal secara lebih sistematis. Mahasiswa KKN menilai bahwa keberadaan tiga UMKM yang berdekatan, telah beroperasi lama, dan menjangkau pelanggan hingga luar desa merupakan modal yang belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai kekuatan bersama.
Hasil pendataan diharapkan menjadi data awal bagi Pemerintah Desa Majasto dalam merancang program pemberdayaan dan pengembangan kawasan secara bertahap.
Untuk memperoleh data tersebut, mahasiswa menempuh metode observasi lapangan dan wawancara langsung dengan masing-masing pelaku usaha. Wawancara ini menggali karakteristik usaha, skala operasional, jangkauan pelanggan, tantangan yang dihadapi, hingga harapan para pemilik UMKM terhadap pendampingan ke depan.
Seluruh temuan kemudian dirangkum dalam booklet infografis agar mudah dipahami oleh kader, perangkat desa, maupun pelaku usaha itu sendiri.
Dari hasil pendataan, Mahasiswa Program Studi Statistika menjelaskan bahwa Ratih Collection tercatat sebagai UMKM dengan skala usaha terbesar. Berdiri sejak 20 tahun lalu, usaha ini kini memiliki tiga outlet dan mempekerjakan 24 orang, dengan produk yang meluas dari busana umum hingga hijab, tas, kasur, dan selimut.
Adapun, Yuki Collection menjadi pelaku usaha dengan pengalaman paling panjang, telah beroperasi lebih dari dua dekade dengan dua outlet dan lima tenaga kerja, serta basis pelanggan yang relatif seimbang antara warga desa dan luar desa.
Sementara itu, Raffa Collection, yang telah berjalan lebih dari 15 tahun dengan satu outlet dan empat tenaga kerja, berfokus pada pakaian wanita dan dinilai memiliki peluang pengembangan pasar yang masih terbuka lebar.
Meski demikian, pemetaan juga mengungkap tantangan yang seragam di antara ketiga UMKM tersebut. Seluruhnya masih 100 persen mengandalkan penjualan langsung di toko dan belum memanfaatkan media digital sebagai sarana promosi. Persepsi pelaku usaha terhadap keberadaan toko lain di kawasan yang sama pun beragam — sebagian menilainya membantu meramaikan kawasan dan menambah arus pelanggan, sementara sebagian lain merasakannya sebagai persaingan.
Tidak hanya mencari data saja, mahasiswa KKN juga merumuskan sejumlah rekomendasi pengembangan UMKM. Muhammad Hanin Habiburraman merekomendasika mulai dari membangun identitas kawasan dengan nama dan papan informasi resmi, menyusun direktori UMKM fashion yang memuat lokasi dan produk masing-masing usaha.
Selain itu, mengembangkan promosi bersama melalui media sosial desa, hingga mendorong forum komunikasi dan kolaborasi antar pelaku usaha. Langkah-langkah ini dinilai realistis untuk diterapkan secara bertahap tanpa menghilangkan identitas masing-masing UMKM.
Dari sisi pembangunan berkelanjutan, hasil pemetaan ini sejalan dengan capaian SDGs nomor 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, yang tercermin dari keberadaan 33 tenaga kerja yang terserap dari tiga UMKM fashion serta potensi perluasan lapangan kerja apabila kawasan ini dikembangkan lebih lanjut sebagai satu koridor perdagangan yang terkelola.
Pendataan karakteristik usaha dan penyusunan rekomendasi pendampingan juga mendukung produktivitas ekonomi lokal yang inklusif bagi pelaku usaha mikro dan kecil. Sementara itu, keterkaitan dengan SDGs nomor 9 tentang industri, inovasi, dan infrastruktur tampak dari rekomendasi pembangunan identitas kawasan, direktori UMKM, serta promosi digital bersama, yang menjadi fondasi infrastruktur ekonomi dan inovasi pemasaran bagi industri fashion skala kecil di Desa Majasto agar mampu bersaing dan berkembang secara berkelanjutan.
Mahasiswa KKN berharap hasil pemetaan ini tidak berhenti sebagai dokumentasi kegiatan, melainkan menjadi rujukan awal bagi Pemerintah Desa Majasto dalam memperbarui data UMKM, merancang program pemberdayaan, serta memperkenalkan Koridor UMKM Fashion Desa Majasto sebagai satu tujuan belanja yang lebih dikenal luas, tidak hanya oleh warga sekitar tetapi juga masyarakat dari luar desa.
Penulis: Muhammad Hanin Habiburrahman
Editor: Azis



