
Jatengx.com, Sukoharjo — Kebiasaan membakar sampah rumah tangga masih menjadi pemandangan umum di Desa Tambakboyo, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo. Padahal, sampah organik yang selama ini dibakar sebenarnya berpotensi diolah menjadi pupuk kompos bernilai jual.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro menggelar sosialisasi studi kelayakan bisnis pengelolaan sampah rumah tangga berbasis ekonomi sirkular pada Minggu (19/7) di Rumah Bapak RW 1.
Program yang bertajuk Sosialisasi Studi Kelayakan Bisnis Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Berbasis Ekonomi Sirkular melalui Pemanfaatan Sampah Organik menjadi Pupuk Kompos sebagai Peluang Pengembangan UMKM Desa ini digagas oleh Florence Felisca, mahasiswa Jurusan Manajemen, dan diikuti sekitar 15 orang warga, mayoritas bapak dan ibu rumah tangga di desa tersebut.
Florence Felisca menyampaikan sampah organik dapat diolah menjadi pupuk kompos, sementara sampah anorganik seperti plastik berpeluang dikelola lewat teknologi sederhana atau kerja sama dengan bank sampah.
Menurutnya, ini menjadi titik tolak bagi tim KKN untuk mendorong warga melihat sampah bukan sekadar limbah, melainkan modal awal untuk merintis usaha berbasis ekonomi sirkular.
“Sampah bukan sesuatu yang harus dibuang tapi perlu diolah menjadi sesuatu yang bernilai melalui daur ulang misalnya. Sampah organik yang ada di sekitar dapat dijadikan kompos. Adapun sampah anorganik bisa diolah kembali atau dijual ke bank sampah,”ucapnya.
Kegiatan sosialisasi berlangsung dalam format presentasi, dibuka oleh pembawa acara sebelum masuk ke dua sesi pemaparan utama.
Sesi pertama dibawakan Jova Junaedi dari Jurusan Informasi dan Humas, yang memaparkan Standar Operasional Prosedur (SOP) sederhana untuk pembakaran sampah yang lebih aman, sekaligus media informasi seputar pengelolaan sampah rumah tangga.
Sesi berikutnya diisi Zahra Putri Defiana dari Manajemen Sumber Daya Perairan, yang menjelaskan tata cara pemilahan sampah yang benar kepada warga yang hadir.

Sebagai media pendukung, tim KKN menggunakan presentasi slide (PPT) dan membagikan booklet berjudul “Studi Kelayakan Bisnis Pengolahan Sampah Organik menjadi Pupuk Kompos Berbasis Ekonomi Sirkular”. Mahasiswa Jurusan Manajemen itu, menegaskan booklet ini turut memuat Rencana Anggaran Biaya (RAB) sebagai gambaran modal awal bagi warga yang tertarik merintis usaha kompos, menjadikannya lebih dari sekadar materi edukasi, tapi juga panduan praktis untuk memulai usaha.

Selama sosialisasi berlangsung, antusiasme warga terlihat dari banyaknya pertanyaan kritis yang diajukan. Warga tidak hanya mendengarkan secara pasif, tetapi juga menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap materi yang disampaikan, mulai dari cara memilah sampah hingga proses pembuatan kompos.
Antusiasme ini berlanjut menjadi aksi nyata. Beberapa rumah tangga tercatat langsung mempraktikkan pembuatan pupuk kompos menggunakan galon bekas sebagai wadah, memanfaatkan barang yang sebelumnya kerap terbuang begitu saja.
Dari sosialisasi ini, warga memperoleh dua bekal utama: keterampilan teknis membuat pupuk kompos, serta pemahaman dasar mengenai langkah memulai usaha kecil berbasis pengolahan sampah.
Secara keseluruhan, manfaat program dirasakan oleh sekitar 15 peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut. Meski jumlahnya terbatas, dampak yang muncul cukup konkret: pergeseran dari kebiasaan membakar sampah menuju upaya pengolahan yang lebih bermanfaat, baik secara lingkungan maupun ekonomi.
Program ini dirancang bukan sebagai solusi instan, melainkan sebagai pemantik agar warga dapat melanjutkan praktik pengolahan sampah secara mandiri setelah masa KKN berakhir. Booklet yang dibagikan, lengkap dengan RAB usaha kompos, diharapkan menjadi rujukan bagi warga yang ingin mengembangkan lebih jauh apa yang telah mereka pelajari maupun praktikkan selama kegiatan berlangsung.

Program ini turut mendukung tiga target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), yaitu SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan. Melalui sosialisasi sederhana namun aplikatif, mahasiswa KKN Undip berupaya mengubah cara pandang warga Desa Tambakboyo terhadap sampah rumah tangga, dari sesuatu yang dibakar dan dibuang, menjadi peluang yang bisa diolah dan bernilai ekonomi.



