Dokumentasi Mahasiswa KKN UNDIP bersama Peserta Pembuatan Pupuk Organik Cair
Jatengx.com, Klaten – Kantor Desa Bolali, Kecamatan Wonosari, tampak lebih ramai dari biasanya pada Kamis (31/7). Sekitar 20 warga dari berbagai kelompok tani dan rumah tangga berdatangan membawa rasa penasaran yang sama tentang caranya sampah dapur yang selama ini hanya berakhir di tempat pembuangan bisa disulap jadi pupuk.
Rasa penasaran itu dijawab oleh Tim KKN Reguler Tim II Universitas Diponegoro yang ditempatkan di Desa Bolali. Dipimpin oleh Wahyu Tri Yulianto selaku ketua tim, mereka menggelar kegiatan sosialisasi sekaligus praktik langsung pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) yang turut dihadiri Kepala Desa Bolali, Widi Pujiyanto, A.Md., beserta perangkat desa. Kegiatan ini menjadi salah satu wujud kontribusi mahasiswa dalam mendorong pengelolaan sampah organik, baik dari rumah tangga maupun aktivitas pertanian, menjadi produk yang punya nilai guna.
Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Wahyu Tri Yulianto selaku ketua tim KKN, dilanjutkan sambutan Widi Pujiyanto selaku Kepala Desa Bolali. Dalam sambutannya, Pak Widi mengaku baru pertama kali mengetahui cara pembuatan POC dari sampah rumah tangga.
“Ini baru saya ketahui, ternyata sampah rumah tangga bisa diolah jadi pupuk seperti ini. Harapan saya ke depan ilmu ini bisa direalisasikan di setiap rumah maupun kelompok tani di Desa Bolali,” ujarnya.
Program ini merupakan salah satu bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam mendukung pengelolaan sampah organik rumah tangga maupun pertanian menjadi produk yang bernilai guna. Melalui POC, limbah organik yang selama ini kerap dibuang begitu saja dapat diolah menjadi pupuk cair ramah lingkungan yang bermanfaat bagi kesuburan tanah dan pertumbuhan tanaman.
Lima mahasiswa dari latar belakang disiplin ilmu berbeda tampil bergantian menyampaikan materi secara berjenjang, sehingga apa yang diterima warga tidak berhenti pada aspek teknis semata, tetapi juga menyentuh sisi kebijakan, regulasi, dan keselamatan kerja.
Sesi dibuka oleh Tania dari Program Studi Ilmu Pemerintahan, yang memaparkan policy brief kepada desa terkait penyusunan RPJMDes (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa) atau RKPDes (Rencana Kerja Pembangunan Desa) sebagai payung kebijakan yang bisa mengakomodasi program pengelolaan sampah organik seperti POC ke depannya.
Faisa dari Program Studi Ilmu Hukum juga turut memberikan edukasi yaitu memaparkan regulasi seputar pupuk organik cair, termasuk ketentuan dan standar yang perlu diperhatikan warga agar produksi maupun pemanfaatan POC tetap sesuai aturan yang berlaku.
Selanjutnya, Nashwa dari Program Studi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) menjelaskan HIRADC (Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control) mengidentifikasi potensi bahaya dan langkah pengendalian risiko yang perlu diwaspadai warga sejak penanganan bahan hingga proses fermentasi.
Sementara Kassandra dari Program Studi Teknologi Pangan sebagai pengisi materi utama menjelaskan pengertian POC serta fungsi masing-masing bahan dan alat yang digunakan. Bahan-bahan yang dipakai pun sengaja dipilih yang mudah ditemukan di sekitar rumah, seperti sisa sayuran, buah-buahan, dan cairan mikroorganisme lokal (MOL).
Sebagai penutup, Nanda dari Program Studi Matematika memaparkan dosis dan takaran penggunaan POC yang tepat untuk berbagai jenis tanaman, agar pupuk yang dihasilkan warga nantinya bisa diaplikasikan secara efektif dan tidak berlebihan.

Usai pemaparan tim KKN, warga diajak turun langsung ke halaman desa untuk mempraktikkan pembuatan POC. Antusiasme warga terlihat sepanjang kegiatan berlangsung, mulai dari pemaparan materi, proses pencampuran bahan, hingga sesi tanya jawab yang membahas cara penyimpanan dan aplikasi POC pada tanaman.
Dari halaman Kantor Desa Bolali malam itu, langkah kecil menuju kemandirian mengelola sampah pun mulai dirintis, mengurangi tumpukan limbah organik yang selama ini terbuang percuma, sekaligus melepaskan warga sedikit demi sedikit dari ketergantungan pada pupuk kimia yang harganya terus merangkak naik.

Lebih dari sekadar pelatihan sehari, program ini turut mendukung capaian sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), mulai dari SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) lewat pengolahan limbah menjadi produk bernilai guna, SDGs 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui pengelolaan sampah rumah tangga yang lebih baik, SDGs 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dengan menekan emisi dari sampah organik yang membusuk, hingga SDGs 15 (Ekosistem Daratan) melalui pemulihan kesuburan tanah secara alami.

Tim KKN Undip berharap ilmu yang dibagikan hari itu tidak berhenti sebagai kegiatan satu kali, melainkan terus diterapkan secara berkelanjutan oleh warga hingga suatu saat nanti Desa Bolali dapat menjadi contoh desa yang mandiri dalam mengelola sampah organik dan ramah lingkungan.
Editor: Azis



