Mahasiswa KKN UNDIP serahkan infografis tentang status gizi anak kepada Pemerintah Desa
Jatengx.com, Sukoharjo — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro Tim II Desa Tambakboyo Tahun 2026 atas nama Patria Nugrahadi dari Program Studi Statistika menyusun rekapitulasi data status gizi balita di Desa Tambakboyo, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo. Rekapitulasi ini disusun berdasarkan data pemantauan tumbuh kembang balita selama tujuh bulan, dari Januari hingga Juli 2026, yang dikumpulkan dari tujuh unit Posyandu Ngudi Waras yang tersebar di desa tersebut.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja bidang kesehatan yang bertujuan membantu kader posyandu dalam membaca dan menindaklanjuti data pencatatan gizi anak secara lebih sistematis. Data bulanan yang sebelumnya tercatat secara terpisah di masing-masing posyandu diolah menjadi satu rekapitulasi terpadu, mengikuti standar pencatatan e-PPGBM, sehingga dapat memberikan gambaran menyeluruh mengenai kondisi gizi balita se-desa.
Dari hasil rekapitulasi, tercatat sebanyak 415 kasus gizi bermasalah pada balita di seluruh posyandu selama periode Januari–Juli 2026, dengan rata-rata 59 kasus per bulan. Data tersebut mencakup sekitar 202 balita yang dipantau setiap bulannya di tujuh posyandu.
Rekapitulasi menggunakan tiga indikator status gizi yang lazim dipakai dalam pemantauan tumbuh kembang anak. Indikator berat badan menurut umur (BB/U), yang menggambarkan kondisi berat badan kurang atau sangat kurang, tercatat sebagai kategori dengan jumlah kasus tertinggi, yaitu 191 kasus selama tujuh bulan. Disusul indikator tinggi badan menurut umur (TB/U) yang menjadi acuan kondisi stunting dengan 142 kasus, serta indikator berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) yang mengindikasikan kondisi wasting akut sebanyak 82 kasus.
Patria Nugrahadi menyampaikan secara tren bulanan, jumlah kasus pada ketiga indikator relatif stabil tanpa lonjakan tajam yang signifikan. Kasus BB/U konsisten berada di angka tertinggi setiap bulannya, berkisar 26–29 kasus, diikuti TB/U pada kisaran 19–22 kasus, dan BB/TB pada kisaran 10–14 kasus per bulan.
Hasil pemeringkatan menunjukkan adanya kesenjangan yang cukup mencolok antar posyandu. Dari tujuh unit Posyandu Ngudi Waras di Desa Tambakboyo, dua di antaranya — Posyandu Ngudi Waras 6 dengan 108 kasus dan Posyandu Ngudi Waras 2 dengan 100 kasus — menyumbang lebih dari separuh total kasus gizi bermasalah se-desa selama tujuh bulan terakhir.
Sementara itu, posyandu dengan jumlah kasus paling sedikit tercatat di Posyandu Ngudi Waras 7 sebanyak 21 kasus dan Posyandu Ngudi Waras 4 sebanyak 24 kasus. Tiga posyandu lainnya berada pada kisaran menengah, yaitu Posyandu Ngudi Waras 5 (63 kasus), Posyandu Ngudi Waras 3 (50 kasus), dan Posyandu Ngudi Waras 1 (49 kasus).

Berdasarkan temuan tersebut, mahasiswa KKN merekomendasikan agar penyuluhan gizi, pemberian makanan tambahan (PMT), serta rujukan lanjutan diprioritaskan pada Posyandu Ngudi Waras 6 dan Ngudi Waras 2, mengingat kedua posyandu tersebut menyumbang sekitar separuh dari total kasus gizi bermasalah di Desa Tambakboyo.
Rekapitulasi ini disusun dalam bentuk laporan visual yang memuat tren bulanan, distribusi tiga indikator gizi, serta peringkat posyandu berdasarkan jumlah kasus, agar mudah dipahami dan digunakan oleh kader posyandu maupun perangkat desa dalam menentukan langkah intervensi selanjutnya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN berharap rekapitulasi data yang telah disusun dapat menjadi dasar pengambilan keputusan yang lebih tepat sasaran dalam program penanganan gizi anak di Desa Tambakboyo, sekaligus mendorong kader posyandu untuk terus melakukan pemantauan dan pencatatan data secara berkelanjutan demi mendukung tumbuh kembang optimal balita di wilayah tersebut.
Penulis: Patria Nugrahadi
Editor: Azis



