
Jatengx.com, Semarang – Puluhan siswa dari kelas 4 hingga 6 mengikuti simulasi kesiapsiagaan bencana. Kegiatan yang dikemas dalam kegiatan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) merupakan kolaborasi antata mahasiswa magang kependidikan Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) bersama BPBD Kota Semarang.
Kegiatan yang berlangsung pada Selasa, 7 April 2026 di SDN Peterongan dirancang dengan 2 sesi, yaitu sesi pembekalan dan sesi simulasi. Siswa mendapatkan pembekalan materi mengenai pentingnya kewaspadaan terhadap bencana, khususnya banjir yang kerap terjadi di lingkungan sekitar sekolah sebelum mengikuti simulasi.
Citra Aulia Sucina, salah satu mahasiswa menyampaikan, saat sesi pembekalan siswa tidak hanya mendengarkan teori, tetapi juga melihat peralatan evakuasi sehingga menarik semangat siswa.
“Siswa begitu antusias saat diperkenalkan langsung dengan berbagai peralatan evakuasi yang digunakan saat terjadi bencana banjir,” ujarnya.
BPBD Kota Semarang dan Mahasiswa merancang simulasi evakuasi yang dilakukan dengan skenario darurat. Setelah alarm dibunyikan, siswa diarahkan untuk bergerak cepat menuju titik kumpul yang telah ditentukan di kelas 5A.
Citra Aulia Sucina menegaskan bahwa kegiatan ini melatih ketepatan, kecepatan, serta kesiapan siswa dalam merespons situasi darurat secara terarah.
“Pemberian simulasi pasca pembekalan menjadi pengalaman bagi siswa untuk berlatih tidak panik dalam situasi darurat, sehingga mampu merespon kejadian dengan terarah,” tegasnya.
Selanjutnya, siswa di arahkan memasuki kelas untuk mengikuti praktik langsung penanganan korban banjir. Tim BPBD memperagakan teknik evakuasi yang benar, sekaligus mengajak siswa untuk ikut mencoba secara langsung. Melalui praktik ini, siswa tidak hanya memahami secara teori, tetapi juga memiliki pengalaman nyata dalam menghadapi kondisi darurat.
Pemilihan tema banjir dalam kegiatan ini bukan tanpa alasan. SDN Peterongan Semarang masih tergolong wilayah yang rawan terdampak banjir, terutama saat musim hujan. Meski halaman depan sekolah kini lebih aman setelah dilakukan peninggian, area halaman belakang masih kerap tergenang air saat curah hujan tinggi.
Melalui kegiatan ini, diharapkan siswa tidak hanya memahami apa yang harus dilakukan saat bencana terjadi, tetapi juga mampu bertindak dengan cepat, tepat, dan tidak panik. Bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi pengalaman berharga dalam mengaplikasikan ilmu sekaligus berkontribusi langsung dalam membangun budaya sadar bencana di lingkungan sekolah.
Editor: Azis



