Mahasiswa KKN Undip bersama peternal ayam petelur seusai cek kualitas air minum ternak
Jatengx.com, Klaten — Air menjadi salah satu komponen penting dalam keberlangsungan hidup dan produktivitas ayam petelur. Dalam kegiatan peternakan, perhatian terhadap kualitas pakan sering kali menjadi prioritas, sementara kualitas air minum terkadang belum mendapatkan perhatian yang sama. Padahal, air yang dikonsumsi setiap hari memiliki peran penting dalam menjaga kondisi fisiologis, kesehatan, dan produktivitas ayam.
Berangkat dari pentingnya hal tersebut, mahasiswa KKN Reguler Tim II Universitas Diponegoro (Undip) melaksanakan program “Pemeriksaan Kualitas Air Minum pada Ternak Ayam Petelur sebagai Upaya Mendukung Kesehatan Ternak dan Produktivitas Peternakan” di Desa Turus.
Program ini dilakukan (31/7) sebagai bentuk penerapan ilmu pengetahuan sekaligus edukasi kepada peternak mengenai pentingnya pemantauan kualitas air yang digunakan sebagai sumber air minum bagi ayam petelur.
Kegiatan tersebut dilakukan dengan melakukan pemeriksaan terhadap sampel air yang digunakan oleh peternak. Beberapa parameter sederhana diperiksa untuk memperoleh gambaran awal mengenai kondisi air, di antaranya pH, Total Dissolved Solids (TDS), dan kandungan bakteri E Coli. Selain itu, dilakukan pula pengamatan terhadap karakteristik fisik air, seperti warna, bau, dan kejernihan.
Air merupakan salah satu komponen terbesar dalam tubuh unggas dan dibutuhkan dalam berbagai proses fisiologis. Ketersediaan air yang cukup dan berkualitas dapat membantu mendukung proses metabolisme, pencernaan, pengaturan suhu tubuh, serta fungsi tubuh lainnya.
Pada ayam petelur, kecukupan air juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menjaga performa produksi. Gangguan terhadap konsumsi air dapat berdampak pada kondisi ternak dan pada akhirnya dapat memengaruhi produktivitas.
Mahasiswa menjelaskan bahwa kualitas air tidak hanya dapat dinilai berdasarkan penampilan fisiknya. Air yang terlihat jernih dan tidak berbau belum tentu terbebas dari kontaminasi mikroorganisme atau memiliki kandungan zat terlarut yang sesuai. Oleh sebab itu, pemeriksaan dengan parameter tertentu diperlukan sebagai langkah awal untuk mengetahui kondisi air secara lebih objektif.
Kegiatan pemeriksaan diawali dengan pengambilan sampel air dari sumber air yang digunakan dalam peternakan. Sampel kemudian diperiksa melalui beberapa parameter untuk memperoleh gambaran mengenai kualitas air minum yang diberikan kepada ayam petelur. Parameter yang diperiksa meliputi pH, Total Dissolved Solids (TDS), serta keberadaan bakteri Escherichia coli (E. coli). Selain itu, dilakukan pula pengamatan terhadap karakteristik fisik air, seperti warna, bau, dan kejernihan.
Parameter pH digunakan untuk mengetahui tingkat keasaman atau kebasaan air. Nilai pH menjadi salah satu parameter penting karena kondisi air yang terlalu asam maupun terlalu basa dapat menunjukkan adanya kondisi yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan air minum ternak.
Sementara itu, TDS digunakan untuk mengukur jumlah total zat terlarut dalam air. Nilai TDS dapat memberikan gambaran mengenai keberadaan berbagai zat terlarut, meskipun parameter tersebut tidak dapat menunjukkan secara spesifik jenis zat apa saja yang terdapat di dalam air.
Selain pemeriksaan secara fisik dan kimia, mahasiswa juga melakukan pemeriksaan mikrobiologis sederhana untuk mengetahui keberadaan bakteri Escherichia coli (E. coli) dalam sampel air. Pemeriksaan ini penting karena E. coli dapat menjadi salah satu indikator adanya kontaminasi fekal pada air. Keberadaan bakteri tersebut tidak dapat diketahui hanya melalui pengamatan warna, bau, atau kejernihan air sehingga diperlukan metode pengujian khusus.
Selain pengukuran menggunakan alat, mahasiswa melakukan pengamatan secara langsung terhadap kondisi fisik sampel. Warna, bau, dan kejernihan diamati sebagai bagian dari pemeriksaan awal. Perubahan pada karakteristik fisik air dapat menjadi tanda bahwa sumber atau wadah penyimpanan air perlu diperiksa lebih lanjut.
Hasil pengukuran kemudian dicatat dan dijelaskan kepada peternak. Mahasiswa memberikan pemahaman mengenai arti dari masing-masing parameter sehingga peternak tidak hanya mengetahui angka hasil pengukuran, tetapi juga memahami bagaimana hasil tersebut dapat digunakan sebagai bahan evaluasi terhadap kondisi air yang digunakan.
Salah satu poin penting yang disampaikan dalam kegiatan ini adalah bahwa air yang jernih belum tentu bebas dari mikroorganisme. Air dapat terlihat bersih secara fisik, tetapi tetap berpotensi mengandung bakteri yang tidak dapat diamati secara langsung.
Mahasiswa menjelaskan bahwa parameter seperti pH dan TDS tidak dapat digunakan untuk memastikan keberadaan bakteri tertentu, termasuk Escherichia coli (E. coli). Untuk mengetahui adanya kontaminasi mikrobiologis, diperlukan pemeriksaan khusus di laboratorium, misalnya melalui pengujian mikrobiologi.
Pemahaman tersebut diberikan agar peternak tidak menjadikan kondisi fisik air sebagai satu-satunya dasar untuk menentukan kelayakan air minum. Kebersihan sumber air, tempat penampungan, saluran air, dan wadah minum juga perlu diperhatikan karena dapat menjadi sumber kontaminasi.
Setelah pemeriksaan dilakukan, kegiatan dilanjutkan dengan edukasi mengenai upaya menjaga kualitas air minum ayam. Mahasiswa menyampaikan beberapa langkah yang dapat diterapkan peternak, seperti membersihkan tendon wadah minum secara rutin, memastikan saluran air minum tidak menjadi tempat berkembangnya kotoran atau lumut, serta menjaga kebersihan lingkungan di sekitar sumber air.
Peternak juga dianjurkan untuk memperhatikan kondisi sumber air dan melakukan pemeriksaan apabila terjadi perubahan warna, bau, rasa, atau kondisi fisik lainnya. Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi yang kurang baik atau terdapat dugaan kontaminasi, diperlukan evaluasi lebih lanjut dan, jika diperlukan, pengujian laboratorium.
Dari sisi ilmu kimia, kegiatan ini menjadi bentuk penerapan konsep analisis kimia dan pengukuran kualitas air. Pengukuran pH berkaitan dengan konsentrasi ion hidrogen dalam larutan, sedangkan TDS memberikan gambaran mengenai jumlah zat terlarut dalam air. Pengetahuan tersebut kemudian diterapkan dalam konteks peternakan sehingga dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Pelaksanaan program mendapat respons positif dari peternak. Pemeriksaan secara langsung memberikan gambaran kepada peternak mengenai pentingnya kualitas air sebagai bagian dari manajemen pemeliharaan ayam petelur.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa berharap peternak tidak hanya memperhatikan jumlah air yang tersedia bagi ayam, tetapi juga memperhatikan kualitasnya. Pemantauan secara berkala dapat membantu mendeteksi perubahan kondisi air lebih awal sehingga tindakan perbaikan dapat dilakukan sebelum menimbulkan dampak yang lebih besar.
Program ini juga menjadi bentuk kolaborasi antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat. Mahasiswa tidak hanya memberikan informasi secara teoritis, tetapi menghubungkan konsep kimia dengan permasalahan yang ditemui dalam kegiatan peternakan sehari-hari.
Dengan adanya edukasi dan pemeriksaan kualitas air, peternak di Desa Turus diharapkan semakin memahami bahwa air minum merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan ayam petelur. Kualitas air yang terjaga, bersama dengan manajemen pakan, kebersihan kandang, dan pemeliharaan yang baik, diharapkan dapat mendukung kondisi ternak yang sehat dan menjaga produktivitas peternakan.
Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada pemeriksaan satu kali, tetapi dapat menjadi awal dari kebiasaan pemantauan kualitas air secara berkala sebagai bagian dari upaya menciptakan peternakan yang sehat, produktif, dan berkelanjutan.
Editor: Azis



