Pemuda Wonorejo Diajak Mahasiswa KKN Undip Peduli Anak Tidak Sekolah
Jatengx.com, Sragen — Persoalan Anak Tidak Sekolah (ATS) tidak hanya berkaitan dengan akses pendidikan, tetapi juga membutuhkan kepedulian masyarakat di lingkungan tempat anak tumbuh. Karena itu, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (UNDIP) mengajak pemuda Karang Taruna Desa Wonorejo, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen, turut mengambil peran dalam mengenali dan merespons persoalan tersebut.
Ajakan itu disampaikan melalui program multidisiplin bidang sosial dan humaniora (Soshum) bertajuk “Penguatan Manajemen Program Sosialisasi dan Administrasi Data Anak Tidak Sekolah (ATS) melalui Edukasi Pentingnya Pendidikan dan Literasi Digital kepada Pemuda Karang Taruna.”
Kegiatan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kepedulian pemuda terhadap keberlanjutan pendidikan anak sekaligus memperkuat peran Karang Taruna dalam mendukung upaya pencegahan dan penanganan ATS di tingkat desa.
Dalam sosialisasi, mahasiswa KKN memberikan pemahaman mengenai pentingnya pendidikan bagi masa depan anak, pengenalan konsep Anak Tidak Sekolah, serta berbagai faktor yang dapat menyebabkan anak tidak melanjutkan pendidikan.
Pemuda Karang Taruna juga diajak memahami bahwa persoalan pendidikan bukan semata-mata menjadi tanggung jawab sekolah dan orang tua. Lingkungan masyarakat memiliki peran penting dalam mengenali kondisi anak dan mendorong mereka agar tetap memperoleh kesempatan untuk mendapatkan pendidikan.
Selain persoalan pendidikan, mahasiswa KKN turut mengenalkan pentingnya literasi digital kepada pemuda. Perkembangan teknologi dinilai perlu diimbangi dengan kemampuan menggunakan informasi secara bijak, aman, dan produktif.
Dalam kegiatan tersebut, peserta diberikan pemahaman mengenai pemanfaatan teknologi sebagai sarana mendukung pendidikan dan pengembangan diri. Literasi digital diharapkan tidak berhenti pada kemampuan menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga mencakup kecakapan dalam memilih, memahami, dan menyebarkan informasi secara bertanggung jawab.
Pemuda Karang Taruna kemudian didorong untuk menjadi bagian dari penyebaran informasi positif dan edukatif di lingkungan masyarakat.
Program tersebut juga menyoroti pentingnya administrasi dan pendataan Anak Tidak Sekolah. Pendataan yang dilakukan secara terstruktur dapat membantu masyarakat dan pemerintah desa memperoleh gambaran mengenai kondisi anak yang tidak bersekolah di lingkungan sekitar.
Data tersebut selanjutnya dapat menjadi informasi pendukung dalam menentukan langkah sosialisasi maupun tindak lanjut yang diperlukan.
Dengan pendataan yang lebih tertata, pemuda Karang Taruna diharapkan tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga dapat mengambil bagian dalam proses identifikasi persoalan pendidikan di tingkat desa.
Melalui diskusi bersama, mahasiswa KKN mengajak pemuda untuk lebih peka terhadap kondisi anak-anak di lingkungan sekitar, terutama mereka yang berisiko tidak melanjutkan pendidikan.
Pemuda juga didorong untuk mengambil peran sebagai agen perubahan dengan membangun kepedulian terhadap pendidikan dan membantu menciptakan lingkungan yang mendukung keberlanjutan pendidikan anak.
Program tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 4 tentang Pendidikan Berkualitas, khususnya target 4.1 mengenai akses dan penyelesaian pendidikan dasar dan menengah serta target 4.4 mengenai peningkatan keterampilan yang relevan, termasuk keterampilan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).
Selain itu, kegiatan turut mendukung SDGs 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan, melalui peningkatan kepedulian terhadap Anak Tidak Sekolah yang berisiko mengalami keterbatasan akses terhadap pendidikan.
Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap keberadaan ATS diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan kesempatan pendidikan yang lebih merata bagi anak-anak di Desa Wonorejo.
Mahasiswa KKN UNDIP berharap edukasi tersebut dapat memperkuat pemahaman pemuda Karang Taruna mengenai pentingnya pendidikan, persoalan Anak Tidak Sekolah, serta pemanfaatan teknologi secara positif.
Penguatan peran pemuda yang disertai administrasi data yang lebih terarah diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk mendukung upaya pencegahan dan penanganan ATS di tingkat desa.
Kolaborasi antara mahasiswa, Karang Taruna, masyarakat, dan pemerintah desa menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan yang lebih peduli terhadap keberlanjutan pendidikan dan masa depan anak.
Editor: Azis



