Mahasiswa Bersama Siswa Kelas 6 SDN Cempereng
Jatengx.com, Batang — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Tim II Universitas Diponegoro melaksanakan kegiatan edukasi mengenai pentingnya menjaga data pribadi kepada siswa kelas 6 SDN Cempereng melalui program bertajuk “Menjadi Agen Rahasia dengan Kriptografi: Belajar Membuat dan Membaca Pesan Rahasia”.
Kegiatan ini dikemas secara interaktif melalui pengenalan pesan rahasia dan permainan Sandi Caesar agar siswa dapat mengenal konsep dasar kriptografi sekaligus memahami bahwa matematika dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan cara yang menyenangkan dan mudah dipahami.
Mahasiswa menyampaikan bahwa pelaksanaan kegiatan tersbut karena melihat dan memahami pentingnya memberikan pemahaman kepada anak-anak mengenai keamanan informasi dan data pribadi sejak usia dini.
Ia menengaskan di tengah perkembangan teknologi, anak-anak semakin dekat dengan berbagai perangkat dan media digital yang memungkinkan mereka berbagi informasi. Oleh karena itu, pemahaman sederhana mengenai informasi pribadi serta pentingnya menjaga kerahasiaannya menjadi hal yang perlu dikenalkan sejak bangku sekolah dasar.
Sebagai mahasiswa Program Studi Matematika, Khaula juga berupaya memperkenalkan bahwa matematika tidak hanya berkaitan dengan perhitungan angka, tetapi juga memiliki peran dalam menjaga keamanan informasi. Salah satu penerapannya adalah melalui kriptografi, cabang ilmu yang memanfaatkan konsep matematika, logika, dan pola untuk menyandikan serta melindungi informasi agar tidak mudah diketahui oleh pihak yang tidak berwenang.
Dalam kegiatan ini, siswa terlebih dahulu diajak mengenal profesi dan peran seorang “agen rahasia” yang harus mampu menjaga informasi penting agar tidak diketahui oleh orang lain. Dari konsep tersebut, siswa diperkenalkan pada kriptografi sebagai ilmu yang digunakan untuk menjaga kerahasiaan informasi melalui proses penyandian pesan.
Salah satu metode yang diperkenalkan adalah Sandi Caesar, yaitu metode kriptografi sederhana dengan cara menggeser setiap huruf dalam pesan berdasarkan jumlah pergeseran tertentu. Melalui aktivitas ini, siswa belajar mengenai konsep pola, urutan huruf, dan operasi sederhana berupa penambahan atau pengurangan nilai tertentu pada setiap huruf. Tanpa disadari, siswa sebenarnya sedang mempraktikkan konsep matematika dasar, seperti keteraturan pola dan aturan sistematis dalam pemecahan masalah.
Siswa diajak memahami bagaimana sebuah pesan biasa atau plaintext dapat diubah menjadi pesan rahasia atau ciphertext, kemudian dikembalikan lagi ke bentuk semula melalui proses dekripsi. Proses tersebut melatih kemampuan berpikir logis karena siswa harus mengikuti aturan tertentu secara runtut untuk memperoleh hasil yang benar.
“Anak-anak diajak belajar kriptografi dengan cara yang sederhana, seolah-olah mereka sedang menjadi agen rahasia yang harus membuat dan membaca pesan rahasia. Harapannya, mereka tidak hanya memahami cara kerja sandi, tetapi juga menyadari bahwa matematika dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk untuk menjaga kerahasiaan informasi dan melatih kemampuan berpikir logis,” ujar Khaula.
Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara bertahap. Siswa terlebih dahulu diberikan pengenalan mengenai data pribadi dan contoh informasi yang perlu dijaga, seperti nama lengkap, alamat, nomor telepon, serta kata sandi. Setelah itu, siswa diperkenalkan dengan konsep dasar kriptografi dan Sandi Caesar melalui contoh-contoh sederhana yang dekat dengan kehidupan mereka.

Untuk meningkatkan keterlibatan siswa, materi kemudian dilanjutkan dengan praktik membuat dan membaca pesan rahasia. Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil lalu diberikan beberapa kata atau kalimat untuk dienkripsi menggunakan aturan pergeseran huruf tertentu. Setelah berhasil membuat pesan rahasia, siswa juga diajak melakukan dekripsi untuk menemukan kembali pesan aslinya.
Suasana kegiatan berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Siswa terlihat tertarik ketika mencoba mengubah huruf menjadi bentuk sandi dan menebak pesan rahasia yang diberikan. Aktivitas tersebut sekaligus melatih ketelitian, kemampuan berpikir logis, pengenalan pola, serta pemecahan masalah melalui permainan yang sederhana.
Selain mempelajari teknik penyandian, siswa juga diberikan pemahaman bahwa konsep menjaga kerahasiaan pesan memiliki kaitan dengan kehidupan sehari-hari. Melalui kegiatan tersebut, siswa diingatkan untuk tidak sembarangan membagikan data pribadi, kata sandi, maupun informasi penting kepada orang lain.
Kegiatan ini turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4, yaitu pendidikan berkualitas, dengan menghadirkan pembelajaran yang kreatif dan kontekstual. Pengenalan kriptografi melalui permainan diharapkan dapat menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan konsep matematika terapan dan keamanan informasi kepada siswa sejak usia dini.
Melalui kegiatan “Menjadi Agen Rahasia dengan Kriptografi: Belajar Membuat dan Membaca Pesan Rahasia”, mahasiswa KKN Undip berupaya menunjukkan bahwa matematika tidak hanya dipelajari di dalam kelas, tetapi juga dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk teknologi dan keamanan informasi.
Program ini juga sejalan dengan upaya penguatan kompetensi berpikir komputasional (computational thinking), karena proses pemecahan sandi melatih kemampuan pengenalan pola, penalaran logis, dan pemecahan masalah secara sistematis yang menjadi fondasi penting dalam pembelajaran matematika dan ilmu eksakta di jenjang pendidikan selanjutnya.
Penulis : Khaula Prasastya, Mahasiswa Prodi Matematika Universitas Diponegoro
Editor: Azis



